
sawitsetara.co - PEKANBARU — Program mandatori biodiesel B50 dinilai semakin memperbesar tekanan terhadap pasokan minyak sawit nasional. Di saat kebutuhan CPO untuk energi meningkat, industri sawit juga harus memenuhi permintaan untuk pangan, hilirisasi, dan ekspor.
Direktur Pusat Sains Kelapa Sawit (PSKS) INSTIPER, Dr. Ir. Purwadi, MS., mengatakan kondisi tersebut membuat peningkatan produktivitas perkebunan menjadi kebutuhan mendesak. Perluasan lahan dinilai semakin terbatas sehingga pertumbuhan produksi harus lebih banyak berasal dari peningkatan produktivitas di lahan eksisting.
Hal tersebut disampaikan Purwadi dalam paparannya bertajuk Urgensi dan Strategi Akselerasi Mekanisasi, Digitalisasi, dan Otomasi di Perkebunan Kelapa Sawit pada SIEXPO 2026 di Pekanbaru pada Kamis (6/8/2026).
Dalam materi tersebut disebutkan kebutuhan CPO untuk program B50 berada pada kisaran 15,2–16,3 juta ton. Mandatori energi itu memperketat basis pasokan yang juga harus dialokasikan untuk kebutuhan pangan, hilirisasi, dan ekspor.
Di sisi produksi, peningkatan output belum berlangsung secara konsisten. Yield dan recovery masih berfluktuasi sehingga yield gap menjadi salah satu persoalan yang perlu segera diatasi.
“Menunda adopsi akan memperlebar gap antara demand dan supply,” demikian pesan yang disampaikan Purwadi dalam materi tersebut.
Menurut dia, industri sawit tidak dapat terus mengandalkan ekstensifikasi karena ketersediaan lahan dan tuntutan ESG semakin membatasi ruang ekspansi. Karena itu, intensifikasi berbasis teknologi menjadi salah satu jalan untuk meningkatkan produksi dari lahan yang sudah ada.
Tiga teknologi yang dinilai penting adalah mekanisasi, digitalisasi, dan otomasi. Mekanisasi digunakan untuk menambah kapasitas kerja, digitalisasi meningkatkan visibilitas informasi, sedangkan otomasi membantu menjaga konsistensi proses dan kualitas.
“Mekanisasi menambah kapasitas; digitalisasi memberi visibilitas; otomasi menjaga konsistensi,” kata Purwadi dalam paparannya.
Namun, percepatan teknologi tidak cukup dilakukan dengan membeli alat. Kesesuaian teknologi dengan kondisi kebun, kesiapan operator, organisasi, infrastruktur, hingga sistem data dan tata kelola juga harus diperhatikan.
Purwadi menyebut pendekatan tersebut sebagai Five-Fit Technology Adoption. Lima aspek yang perlu dipastikan mencakup kesesuaian masalah dan pekerjaan, agroekologi-infrastruktur, manusia-teknologi, organisasi-ekonomi, serta ekosistem-data-governance.
Dengan pendekatan tersebut, teknologi diharapkan mampu menjadi instrumen intensifikasi untuk menjaga ketahanan pasokan sawit nasional di tengah meningkatnya kebutuhan domestik dan ekspor.
Tags:


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *