
sawitsetara.co - DHARMASRAYA — Perjalanan KUD Bukit Jaya di Kecamatan Tiumang, Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat bukanlah perjalanan yang mudah. Berdiri sejak awal era transmigrasi pada 1992, koperasi ini sempat mengalami pasang surut bahkan vakum hingga dua kali.
Namun kini, KUD Bukit Jaya justru menjadi satu-satunya koperasi yang masih bertahan dan aktif di kawasan SP1 hingga SP8. Kebangkitan koperasi tersebut tidak lepas dari keberanian petani melakukan program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) atau replanting yang mulai diajukan pada 2019 dan dilaksanakan pada 2020.

Ketua KUD Bukit Jaya, Edi Setiawan mengatakan, keputusan melakukan replanting merupakan langkah penting yang harus diambil petani karena kondisi kebun sawit sudah tidak lagi produktif.
“KUD Bukit Jaya ini terbentuk tahun 1992 ketika masyarakat transmigrasi mulai datang ke sini. Seiring berjalannya waktu, koperasi sempat vakum dua kali. Alhamdulillah sekarang bisa bangkit kembali dan dari delapan KUD di daerah sini hanya kami yang masih berdiri,” ujar Edy.

Ia menjelaskan, tanaman sawit anggota koperasi sebagian besar ditanam pada 1991. Saat memasuki 2020, usia tanaman sudah hampir 30 tahun dengan kondisi pohon yang terlalu tinggi dan produktivitas yang terus menurun.
Meski program PSR membawa harapan baru, Edy mengakui proses replanting menjadi masa paling berat bagi petani. Sebab selama tanaman belum menghasilkan, sumber pendapatan utama petani otomatis hilang. Menurutnya, tantangan ekonomi menjadi persoalan utama yang harus dihadapi para anggota koperasi.
“Tantangan terbesar tentu dari segi ekonomi. Biasanya petani punya pemasukan rutin tiap bulan dari hasil panen, tapi ketika direplanting pemasukan itu hilang,” ujarnya.
Beruntung, sebagian besar anggota koperasi memiliki lahan cadangan yang masih produktif sehingga bisa menjadi penopang ekonomi keluarga selama masa tanam ulang berlangsung.

Kini, perjuangan tersebut mulai membuahkan hasil. Tanaman sawit hasil replanting yang telah memasuki usia lima tahun menunjukkan peningkatan produksi yang cukup signifikan dibanding kebun lama.
Edy menyebut, sebelum diremajakan, satu kapling kebun seluas dua hektare hanya mampu menghasilkan sekitar dua ton TBS per bulan. Namun setelah replanting, produksi meningkat hingga tiga ton per bulan dengan kualitas buah yang jauh lebih baik.
“Sekarang hasilnya sudah sangat terasa. TBS lebih bagus, produksinya naik, dan ketika dibawa ke PKS sudah tidak diragukan lagi kualitasnya,” katanya.
Bahkan pada 2025 lalu, produktivitas sawit di KUD Bukit Jaya telah mencapai sekitar 19 ton per hektare per tahun. Angka tersebut dinilai cukup tinggi untuk kebun rakyat.
Selain peningkatan produksi, harga sawit yang saat ini sedang membaik turut membantu meningkatkan pendapatan petani. Meski demikian, Edy berharap petani KUD Bukit Jaya bisa segera menikmati harga TBS sesuai ketetapan Dinas Perkebunan Sumatera Barat melalui pola kemitraan resmi dengan pabrik kelapa sawit (PKS).
“Kami berharap bisa mendapatkan harga disbun atau harga kemitraan seperti yang ditetapkan pemerintah provinsi. Karena sekarang harga Sumatera Barat termasuk yang tertinggi di Indonesia,” ungkapnya.

Dukungan pemerintah daerah sendiri dinilai cukup besar terhadap pelaksanaan PSR di Dharmasraya. Menurut Edy, koordinasi antara koperasi dengan Dinas Pertanian dan Perkebunan terus berjalan sejak awal program dimulai.
“Kami sering berkoordinasi dengan dinas, terutama bidang perkebunan. Dukungan pemerintah sangat besar untuk keberhasilan PSR ini,” katanya.
Ke depan, KUD Bukit Jaya berharap program PSR terus berlanjut dan mampu menjadi contoh keberhasilan peremajaan sawit rakyat di Dharmasraya. Selain meningkatkan produksi dan kualitas TBS, program tersebut juga dinilai mampu mengembalikan semangat petani untuk mengelola kebun secara lebih modern dan berkelanjutan.
Untuk informasi lebih lengkap terkait KUD Bukit Jaya, silakan klik tautan berikut:
SAWIT TALK-KUPAS TUNTAS BANTUAN SARPRAS 5,6 M DAN PROGRAM PSR
Tags:



Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *