
sawitsetara.co - TEGAL – Banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, selama sepekan terakhir kembali memunculkan temuan lingkungan yang menantang anggapan lama soal penyebab bencana.
Ribuan gelondongan kayu berbagai ukuran ditemukan menutup hampir seluruh tepi Pantai Larangan, Desa Munjung Agung, Kecamatan Kramat, meski wilayah hulu bencana tidak memiliki perkebunan sawit.
Kayu-kayu tersebut diduga berasal dari hulu Sungai Gung di lereng Gunung Slamet, tepatnya kawasan wisata Guci, yang sehari sebelumnya dilanda banjir bandang. Sungai Gung bermuara langsung ke kawasan pesisir tersebut.

Berdasarkan pantauan warga, jenis kayu yang terdampar sangat beragam, mulai dari pinus, mahoni, hingga sengon. Sehari setelah kejadian banjir, kayu-kayu itu keluar dari muara Kali Gung dan terbawa arus hingga ke pantai.
Pelaksana Harian Bupati Tegal Ahmad Kholid menyatakan dampak bencana kali ini lebih besar dari perkiraan awal. Sejumlah infrastruktur di kawasan wisata Guci dilaporkan rusak berat.
“Ternyata dampaknya lebih besar. Jembatan di Curug Jedor hilang, kemudian yang di Pancuran 13 juga hilang. Kami sangat prihatin dengan keadaan ini, dan untuk sementara kawasan tersebut kami tutup terlebih dahulu demi keselamatan bersama,” ujar Ahmad Kholid, dikutip Sawit Indonesia.

Fenomena kayu terhanyut dalam jumlah besar ini serupa dengan kejadian di Pantai Patenggan, Padang, Sumatera Barat, yang sebelumnya juga dikaitkan dengan banjir besar dari kawasan pegunungan. Kayu-kayu tampak terpotong rapi dan terbawa bersamaan dengan air bah dari hulu.
Kondisi di Tegal memperlihatkan bahwa bencana banjir dan longsor tidak selalu berkorelasi dengan keberadaan perkebunan sawit. Di wilayah terdampak banjir bandang Gunung Slamet, tidak ditemukan satu pun perkebunan sawit.
Isu potensi ancaman bencana di kawasan Gunung Slamet sebenarnya telah diingatkan sejak Desember 2025. Akun media sosial @purwokertoonline menulis, “Gunung Slamet sedang jadi sorotan. Di tengah bencana di Sumatera, dugaan tambang di kawasan hutannya memunculkan tanda bahaya yang tak boleh diabaikan.”

Dosen Pascasarjana INSTIPER Yogyakarta Prof. Didiek Hadjar Goenadi menilai perdebatan mengenai sawit dan hutan sering kali tidak berada pada ruang yang tepat. Menurut dia, sawit dan hutan memiliki fungsi dan tujuan berbeda sejak awal.
Ia menegaskan bahwa curah hujan ekstrem di sejumlah daerah, termasuk Sumatera, tidak bisa serta-merta dikaitkan dengan sawit. “Ini menyangkut fiskal, menyangkut pemasukan negara dan dampak kesejahteraan. Karena itu kita harus cerdas meminimalisir dampak buruk, bukan sekadar membolehkan atau melarang sawit,” ujarnya.
Tags:



Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *