
sawitsetara.co - DENPASAR — Batang kelapa sawit hasil peremajaan perkebunan berpeluang menjadi salah satu bahan baku Sustainable Aviation Fuel (SAF) yang diakui dalam skema Carbon Offsetting and Reduction Scheme for International Aviation (CORSIA). Peluang itu muncul setelah Indonesia bersama Jepang mengajukan usulan kepada Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO).
Usulan tersebut disampaikan dalam pertemuan keempat ICAO Committee on Aviation Environmental Protection Working Group 5 (CAEP WG5/4) yang digelar di Bali pada 6–10 Juli 2026.
Melalui dokumen kerja yang diajukan, Indonesia dan Jepang mengusulkan Oil Palm Trunk (OPT) atau batang kelapa sawit hasil peremajaan rutin perkebunan diklasifikasikan sebagai agricultural residue atau residu pertanian. Jika disetujui, OPT akan berpeluang masuk ke dalam daftar positif bahan baku CORSIA yang dapat digunakan dalam produksi SAF.
Usulan itu hanya mencakup batang kelapa sawit yang berasal dari kegiatan peremajaan kebun, sedangkan bagian akar dan pelepah tidak termasuk dalam klasifikasi yang diajukan.
Masuknya OPT ke dalam daftar bahan baku CORSIA dinilai dapat memperluas pilihan biomassa untuk pengembangan bahan bakar penerbangan rendah emisi. Inisiatif tersebut juga menjadi bagian dari kerja sama teknis Indonesia dan Jepang dalam pengembangan SAF melalui jalur konversi alcohol-to-jet.
Selain membahas usulan OPT, forum ICAO juga mengulas berbagai aspek pengembangan bahan bakar penerbangan rendah karbon, mulai dari pengembangan SAF dan Lower Carbon Aviation Fuel, sistem pencatatan serta penghitungan bahan bakar penerbangan, metodologi Core Life Cycle Assessment, hingga Induced Land Use Change (ILUC) dalam perhitungan emisi siklus hidup.
Indonesia turut menyoroti pembahasan ILUC karena komponen tersebut berpengaruh terhadap besaran emisi siklus hidup suatu bahan baku. Nilai ILUC menjadi salah satu faktor yang menentukan tingkat pengurangan emisi sekaligus daya saing bahan baku sebagai sumber SAF.
Melalui Working Paper yang disampaikan, tim ahli Indonesia mengusulkan agar pemodelan ILUC dilakukan secara transparan dengan data yang dapat ditelusuri serta metode ilmiah yang dapat diuji. Indonesia juga mendorong pelibatan negara-negara produsen bahan baku dalam penyediaan dan verifikasi data, peninjauan asumsi, serta analisis sensitivitas model.
Usulan tersebut mendapat respons positif dalam forum. Pembahasannya kemudian berlanjut pada akses terhadap model perhitungan, peningkatan kapasitas teknis, dan penguatan komunikasi antara pengembang model dengan negara-negara produsen bahan baku.
Forum ICAO di Bali menjadi salah satu upaya Indonesia memperkenalkan potensi batang kelapa sawit hasil peremajaan sebagai sumber biomassa yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung pengembangan bahan bakar penerbangan rendah karbon di tingkat global.
Tags:


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *