KONSULTASI
Logo

Bea Keluar 2025 Tembus Rp28,44 Triliun, Sawit Jadi Mesin Utama Penerimaan Negara

27 Januari 2026
AuthorDwi Fatimah
EditorDwi Fatimah
Bea Keluar 2025 Tembus Rp28,44 Triliun, Sawit Jadi Mesin Utama Penerimaan Negara

sawitsetara.co - Penerimaan negara dari bea keluar sepanjang 2025 mencatatkan kinerja impresif. Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan melaporkan, total penerimaan bea keluar mencapai Rp28,44 triliun, atau melonjak 36% dibandingkan tahun 2024.

Lonjakan tersebut sebagian besar ditopang oleh komoditas sawit dan produk turunannya. Sepanjang 2025, penerimaan bea keluar dari sektor sawit mencapai Rp21,93 triliun, setara 77% dari total penerimaan bea keluar nasional. Bahkan, penerimaan bea keluar sawit tercatat melambung 130,3% dibandingkan tahun sebelumnya.

Kinerja positif sawit tidak lepas dari tren kenaikan harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO). Berdasarkan data Refinitiv, rata-rata harga CPO pada 2025 mencapai MYR 4.232,98 per ton, naik sekitar 2% dibandingkan 2024. Kenaikan harga ini otomatis mendorong nilai ekspor dan kontribusi bea keluar ke kas negara.

Berbanding terbalik dengan sawit, penerimaan bea keluar mineral justru melemah. Pada 2025, penerimaan dari sektor mineral hanya mencapai Rp195 miliar, atau terkontraksi 17,9% dibandingkan tahun sebelumnya.

Sawit Setara Default Ad Banner

Penurunan ini terjadi di tengah melonjaknya harga tembaga global. Data Refinitiv menunjukkan, rata-rata harga copper sepanjang 2025 mencapai US$4,8 per pound atau sekitar US$10.582 per ton, meningkat 14% secara tahunan.

Namun, tingginya harga tembaga tidak serta-merta meningkatkan penerimaan negara. Insiden longsor lumpur di tambang bawah tanah PT Freeport Indonesia menjadi faktor utama pelemahan kinerja sektor ini. Sejak 8 September 2025, Freeport menghentikan sementara operasional tambang Grasberg Block Cave akibat tertutupnya akses utama tambang demi keselamatan pekerja dan proses penanganan darurat.

Situasi tersebut diperparah dengan berakhirnya izin ekspor konsentrat tembaga Freeport pada 16 September 2025. Dengan status force majeure, ekspor konsentrat tembaga pun tidak dapat dilakukan, sehingga berdampak langsung pada penerimaan bea keluar mineral.

Di sisi lain, biji kakao mencatatkan kinerja positif. Penerimaan bea keluar dari komoditas ini melonjak 28% pada 2025 dan mencapai Rp168,6 miliar, menjadi salah satu penopang tambahan di luar sektor sawit.

Sawit Setara Default Ad Banner

Secara keseluruhan, data ini menunjukkan bahwa sawit kembali mengukuhkan posisinya sebagai tulang punggung penerimaan bea keluar Indonesia, di tengah tantangan sektor mineral akibat gangguan operasional dan kebijakan ekspor.


Berita Sebelumnya
GAPKI Soroti Lambatnya PSR dan Dampak Kebijakan B50 terhadap Ekspor maupun Harga Minyak Goreng

GAPKI Soroti Lambatnya PSR dan Dampak Kebijakan B50 terhadap Ekspor maupun Harga Minyak Goreng

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Eddy Martono menyampaikan pandangannya terkait sejumlah isu krusial dalam industri kelapa sawit. Mulai dari lambatnya peremajaan sawit rakyat (PSR) hingga potensi dampak kebijakan B50 terhadap ekspor dan harga minyak goreng dalam negeri.

| Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *