
sawitsetara.co - PEKANBARU — Kota Pekanbaru, ibu kota Provinsi Riau, disebut-sebut menjadi salah satu kota terpanas di Indonesia akibat dikungkung kelapa sawit. Perkebunan kelapa sawit dituding sebagai penyumbang terbesar emisi gas rumah kaca (GRK) global yang memicu panas ekstrem.
Namun, benarkah perkebunan kelapa sawit jadi penyebab panas ekstrem di Pekanbaru?
Disadur dari buku Mitos vs Fakta Industri Minyak Sawit Indonesia, berbagai studi menunjukkan bahwa sumber utama emisi GRK global bukan berasal dari komoditas tertentu, melainkan dari sektor energi berbasis fosil. Laporan dari International Energy Agency (IEA, 2016) serta kajian Olivier dkk. (2022) menegaskan bahwa sektor energi menjadi kontributor terbesar emisi GRK dunia.
Data yang dirilis World Resources Institute (WRI, 2021) menunjukkan bahwa dari total emisi global sebesar 49,4 gigaton CO₂ ekuivalen (Gt CO₂e), sektor energi menyumbang sekitar 73,2 persen. Emisi dari sektor ini terutama berasal dari penggunaan energi fosil untuk industri, bangunan (komersial dan perumahan), serta transportasi.
Sementara itu, sektor pertanian, kehutanan, dan perubahan tata guna lahan (agriculture, forestry, and land use/AFOLU) berada di posisi kedua dengan kontribusi sebesar 18,4 persen. Adapun sektor industri menyumbang 5,2 persen dan sektor limbah sekitar 3,2 persen dari total emisi global.
Lebih rinci, lima penyumbang terbesar emisi dalam sektor pertanian, kehutanan, dan tata guna lahan meliputi:
• Livestock and manure: 5,8 persen
• Agricultural soil: 4,1 persen
• Crop burning: 3,8 persen
• Forest land: 2,2 persen
• Crop land: 1,4 persen
Komposisi tersebut menunjukkan bahwa sumber utama emisi di sektor pertanian dan kehutanan lebih banyak berasal dari aktivitas peternakan, pengelolaan tanah, serta praktik pembakaran dan perubahan tutupan lahan secara umum.
Dengan demikian, secara global, perkebunan kelapa sawit tidak tercatat sebagai kontributor terbesar emisi GRK dunia. Emisi global masih didominasi oleh sektor energi fosil, sementara kontribusi dari sektor pertanian dan kehutanan pun terdiri dari berbagai subsektor yang lebih luas, bukan spesifik pada satu komoditas tertentu.
Berdasarkan data tersebut, tudingan bahwa kelapa sawit merupakan penyumbang terbesar emisi GRK tidak memiliki dasar yang kuat dalam statistik emisi global. Diskursus mengenai emisi semestinya merujuk pada proporsi sektoral yang komprehensif agar tidak menimbulkan generalisasi yang menyesatkan.


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *