
sawitsetara.co - KAMPAR – Di tengah tantangan cuaca ekstrem yang semakin tak menentu, kebutuhan akan bibit kelapa sawit unggul menjadi kunci keberhasilan petani. Menjawab kebutuhan tersebut, Pembibitan APKASINDO Kota Batak hadir sebagai solusi nyata. Tak heran, pembibitan ini kini menjadi rebutan petani sawit dari berbagai daerah.
Dikelola langsung oleh Pengelola Pembibitan APKASINDO Kota Batak, Bruder Wilfrid Gino Sipayung, pembibitan ini dikenal konsisten menghasilkan bibit sawit unggul, bersertifikat, dan tahan terhadap cuaca ekstrem seperti kemarau panjang maupun banjir.
“Kami memulai pembibitan ini karena sulitnya memperoleh benih unggul yang jelas asal-usulnya. Dari awal, tujuan kami satu: menghadirkan bibit berkualitas tinggi yang benar-benar siap tanam dan berkelanjutan,” ujar Bruder Gino saat dijumpai di lokasi pembibitan, Desa Pantai Cermin, Kecamatan Tapung, Kabupaten Kampar, Riau.

Bibit Unggul, Tahan Uji Alam
Keunggulan utama bibit sawit dari Pembibitan APKASINDO Kota Batak terletak pada kualitas genetik dan ketatnya proses seleksi. Setiap bibit dipastikan berasal dari induk yang jelas, diseleksi sejak tahap kecambah, pre-nursery, hingga main nursery.
Secara visual, bibit unggul ini tampak hijau, sehat, tegap, bebas penyakit, dan sesuai dengan umur pertumbuhan. Bibit dengan kelainan seperti chimera, twisted, erect, maupun giant langsung dieliminasi.
“Bibit unggul memiliki toleransi yang lebih baik terhadap kondisi ekstrem. Memang tidak menjamin 100 persen tanpa risiko, tetapi daya tahannya jauh lebih tinggi dibanding bibit non-unggul,” jelas Bruder Gino.

Laris Manis, Bahkan Kewalahan Permintaan
Dengan kapasitas lahan mencapai 250 ribu bibit, pembibitan ini dikelola secara berkelanjutan. Saat ini, sekitar 100 ribu bibit tersedia di main nursery, sementara 75 ribu lainnya berada di pre-nursery. Tingginya kepercayaan petani membuat bibit dari Kota Batak kerap habis di-booking jauh hari.
“Di tempat lain pembeli yang mengejar penjual. Di sini justru kami yang harus minta maaf karena stok sudah habis,” ungkap Bruder Gino.
Mayoritas bibit disalurkan untuk Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), sementara sisanya diperuntukkan bagi petani swadaya dan kebutuhan internal.
Ramah Lingkungan dan Berkelanjutan

Tak hanya fokus pada produksi, pembibitan APKASINDO Kota Batak juga menerapkan Good Agricultural Practices (GAP). Pengendalian hama dilakukan dengan early warning system, meminimalkan penggunaan pestisida demi menjaga kualitas tanah dan sumber air.
“Bukan pemberantasan, tapi pengendalian. Lingkungan harus tetap terjaga agar sawit berkelanjutan benar-benar terwujud,” tegasnya.
Bruder Gino berpesan khusus kepada petani, terutama pemula, agar tidak main-main dalam memilih bibit. “Gunakan bibit unggul, bukan abal-abal. Memang lebih mahal di awal, tapi hasilnya akan dinikmati selama 25–30 tahun ke depan. Jangan malu bertanya dan terus belajar.”
Dengan kualitas yang teruji, daya tahan terhadap cuaca ekstrem, serta pengelolaan yang profesional dan ramah lingkungan, Pembibitan APKASINDO Kota Batak layak menjadi pilihan utama petani sawit yang ingin sukses dan berkelanjutan.

Untuk mendapatkan informasi lebih lengkap dan mendalam terkait Pembibitan APKASINDO Kota Batak, simak video podcast Sawit TALK dengan klik tautan berikut:
SAWIT TALK- PEMBIBITAN DIRESMIKAN OLEH DIREKTUR PERBENIHAN PERKEBUNAN
Tags:


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *