KONSULTASI
Logo

BPDP dan Unair Dorong Limbah Sawit Jadi Peluang Bisnis Baru bagi UMKM

23 Oktober 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorHendrik Khoirul
BPDP dan Unair Dorong Limbah Sawit Jadi Peluang Bisnis Baru bagi UMKM

sawitsetara.co – MALANG — Produk sampingan industri kelapa sawit berpotensi menjadi sumber bahan baku bagi usaha pakan ternak. Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) bersama Universitas Airlangga mendorong peternak dan pelaku UMKM mengembangkan potensi tersebut melalui pengolahan limbah berbasis ekonomi sirkular.

Upaya itu diwujudkan melalui Workshop dan Aksi Nyata bertema “Peningkatan Nilai Tambah Limbah Kelapa Sawit melalui Inovasi Pakan Ternak Berbasis Ekonomi Sirkular”. Kegiatan berlangsung pada 20–22 Oktober 2026 di Gedung GKSI Jawa Timur, Kabupaten Malang.

Workshop yang melibatkan Laboratorium Pengembangan Ekonomi Pembangunan (LPEP) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga tersebut diikuti peternak dan pelaku UMKM dari sektor pakan ternak, peternakan, serta pengolahan hasil perkebunan.

Program ini tidak hanya memperkenalkan teknik pengolahan limbah sawit menjadi pakan. Peserta juga mendapatkan pembekalan mengenai kelayakan usaha, perizinan, pembiayaan, hingga akses kemitraan dengan lembaga keuangan.

Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP, Helmi Muhansyah, mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas pemahaman masyarakat mengenai manfaat kelapa sawit.

“Kami bekerja sama dengan FEB Unair untuk kegiatan di Malang ini sebagai upaya mengenalkan kebaikan sawit jadi sawit bukan hanya dijadikan minyak goreng tetapi bagus untuk pakan ternak dari bungkil serta daunnya,” kata Helmi.

tamplate

Menurut dia, produk sampingan kelapa sawit dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan sektor lain, termasuk peternakan. Pemanfaatan tersebut membuka peluang peningkatan nilai tambah dari bahan yang selama ini belum sepenuhnya dimanfaatkan secara optimal.

Produksi Sawit Besar, Bahan Baku Tersedia

Ketua LPEP FEB Universitas Airlangga, Prof. Dyah Wulan Sari, mengatakan Indonesia memiliki potensi besar untuk menghubungkan industri perkebunan dengan sektor peternakan melalui ekonomi sirkular.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik dan Kementerian Pertanian, produksi minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) Indonesia mencapai 47,24 juta ton pada 2025. Luas areal perkebunannya sekitar 16,16 juta hektare.

Industri tersebut menghasilkan sejumlah produk sampingan, seperti solid sawit, bungkil inti sawit, dan pelepah sawit. Melalui pengolahan yang tepat, bahan-bahan tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari formulasi pakan ternak.

“Produksi sawit kita sangat besar, dan setiap ton minyak yang dihasilkan juga menyisakan produk sampingan seperti solid sawit, bungkil inti sawit, dan pelepah. Sementara peternak menghadapi pakan yang mahal. Dua kondisi ini bisa dipertemukan lewat ekonomi sirkular, yakni limbah dari satu sektor menjadi bahan baku bagi sektor lain,” ujar Dyah.

Model tersebut memungkinkan produk sampingan perkebunan menjadi input bagi sektor peternakan. Di sisi lain, pengolahan bahan baku itu berpotensi menciptakan kegiatan usaha baru di tingkat lokal.

Riset Sawit untuk Mendukung Peternakan

Helmi juga menyoroti hasil Grant Riset Sawit yang berkaitan dengan pemanfaatan produk sampingan industri sawit untuk meningkatkan produktivitas peternakan.

“Salah satu hasil Grant Riset Sawit menunjukkan pemanfaatan Palm Fatty Acid Distillate (PFAD) menjadi lemak kalsium untuk pakan sapi perah terbukti meningkatkan kuantitas dan kualitas susu,” ujarnya.

PFAD merupakan produk sampingan proses pemurnian minyak sawit. Pengolahannya menjadi lemak kalsium untuk pakan sapi perah memperlihatkan peluang pengembangan produk berbasis sawit bagi industri peternakan.

Dekan FEB Universitas Airlangga, Prof. Dr. Rudi Purwono, mengatakan inovasi pakan alternatif juga berkaitan dengan upaya meningkatkan produksi susu nasional.

Konsumsi susu di Indonesia, menurut dia, masih belum sepenuhnya terpenuhi. Karena itu, peningkatan produksi perlu didukung perbaikan kesejahteraan peternak agar semakin banyak masyarakat, terutama generasi muda, tertarik mengembangkan usaha peternakan.

Rudi menilai biaya pakan yang mencapai 60–70 persen dari total biaya produksi menjadi salah satu tantangan utama. Diversifikasi bahan baku melalui pemanfaatan limbah sawit dapat menjadi alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada pakan pabrikan.

tamplate

Pelatihan Teknis hingga Akses Pembiayaan

Untuk mendorong peluang tersebut menjadi kegiatan ekonomi, penyelenggara membekali peserta dengan keterampilan teknis dan pengelolaan bisnis.

Materi pelatihan mencakup pengolahan pakan ternak, standar mutu dan keamanan pakan, formulasi pakan, serta teknologi fermentasi. Peserta juga mempraktikkan pengolahan solid sawit, bungkil inti sawit, dan pelepah sawit.

Dalam sesi studi kasus, Maulana Akbar, peternak kambing asal Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan, membagikan pengalamannya menggunakan solid sawit fermentasi yang dicampur hijauan dan konsentrat.

Penggunaan campuran tersebut dilaporkan mampu menekan biaya pakan 30–40 persen dibandingkan penggunaan ampas tahu. Dalam uji coba 30 hari, beberapa kambing mengalami kenaikan bobot badan 3–4 kilogram. Pasokan limbah dari perusahaan sawit di sekitar lokasi usaha turut membantu menjaga ketersediaan bahan baku.

Peserta kemudian mempelajari perhitungan biaya produksi, analisis keuntungan, dan penyusunan model bisnis sederhana. Pelatihan tersebut diarahkan untuk membantu peserta menilai kelayakan usaha sebelum mengembangkan produksi secara komersial.

BPDP dan Universitas Airlangga juga memfasilitasi pendampingan Nomor Induk Berusaha (NIB) dan perizinan melalui sistem Online Single Submission Risk Based Approach (OSS-RBA).

Dukungan lain mencakup pengenalan skema pembiayaan, termasuk Kredit Usaha Rakyat (KUR), serta business matching dengan perbankan Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) dan lembaga pembiayaan.

Pada akhir kegiatan, setiap peserta menyusun rencana aksi pengembangan usaha sebagai pedoman tindak lanjut setelah workshop.

Melalui rangkaian kegiatan tersebut, pemanfaatan limbah sawit diharapkan dapat berkembang dari praktik pengolahan pakan menjadi peluang bisnis bagi peternak dan UMKM. Keberlanjutan usaha tetap membutuhkan pasokan bahan baku yang konsisten, proses pengolahan sesuai standar, serta perhitungan bisnis yang matang.

Tags:

Berita Sawit

Berita Sebelumnya
Penas III Jadi Momentum Konsolidasi Program APKASINDO, KH Suher Harap Petani Sawit Makin Sejahtera

Penas III Jadi Momentum Konsolidasi Program APKASINDO, KH Suher Harap Petani Sawit Makin Sejahtera

Pertemuan Nasional Petani Kelapa Sawit Indonesia ke-III (Penas III) diharapkan menjadi momentum konsolidasi program kerja Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO). Forum ini diharapkan menghasilkan rumusan bersama untuk memperkuat perjuangan dan kesejahteraan petani sawit nasional.

22 Oktober 2026Edukasi

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *