
sawitsetara.co - KUALA LUMPUR — Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) menguat serempak pada perdagangan Senin (17/8/2026). Penguatan membawa harga CPO ke level tertinggi sejak awal April, setelah sempat tertekan dalam beberapa sesi sebelumnya.
Berdasarkan data BMD, kontrak CPO September 2026 naik 13 ringgit Malaysia menjadi 4.589 ringgit Malaysia per ton. Kontrak Oktober 2026 bertambah 7 ringgit menjadi 4.717 ringgit Malaysia per ton.
Kenaikan juga terjadi pada kontrak November 2026 sebesar 14 ringgit menjadi 4.821 ringgit per ton. Kontrak Desember 2026 naik lebih tinggi, yakni 24 ringgit menjadi 4.903 ringgit per ton.
Penguatan semakin besar pada kontrak jangka panjang. Kontrak Januari 2027 melonjak 34 ringgit menjadi 4.970 ringgit per ton, sedangkan kontrak Februari 2027 melesat 43 ringgit menjadi 5.017 ringgit per ton.
Pola tersebut menunjukkan pasar mulai memberikan premi lebih tinggi untuk pengiriman CPO dalam beberapa bulan ke depan. Kontrak jangka panjang mencatat kenaikan yang lebih besar dibandingkan kontrak jangka pendek.
Dikutip dari TradingView, sentimen pasar mendapat dorongan dari kenaikan harga minyak nabati di Bursa Dalian. Kondisi itu memperbaiki sentimen terhadap komoditas minyak nabati, termasuk CPO.
Pembelian kembali setelah harga melemah atau bargain hunting turut menopang kenaikan. Pelaku pasar memanfaatkan penurunan harga pada sesi sebelumnya untuk kembali masuk ke pasar.
Dari sisi permintaan, prospek pasar juga mulai membaik. Impor minyak nabati India pada Juli mencapai level tertinggi dalam 10 bulan. Kilang-kilang di negara tersebut meningkatkan pengisian kembali stok minyak sawit dan minyak kedelai menjelang musim festival.
India merupakan salah satu konsumen utama minyak nabati dunia. Karena itu, peningkatan aktivitas pembelian dari negara tersebut menjadi sentimen positif bagi pasar CPO.
Namun, reli harga belum sepenuhnya lepas dari tekanan. Penguatan Ringgit Malaysia menjadi salah satu faktor yang menahan kenaikan harga. Tekanan lain datang dari pelemahan kontrak minyak kedelai di Bursa Chicago.
Stok Malaysia Jadi Beban
Di balik penguatan harga, pasar CPO masih menghadapi persoalan persediaan. Stok minyak sawit Malaysia pada Juli 2026 meningkat ke level tertinggi dalam lima bulan.
Kenaikan stok terjadi ketika pertumbuhan produksi lebih cepat dibandingkan laju ekspor. Kondisi ini berpotensi menambah tekanan terhadap harga jika peningkatan pasokan tidak diimbangi permintaan.
Prospek ekspor Malaysia juga belum sepenuhnya meyakinkan. Intertek memperkirakan pengiriman CPO Malaysia pada 1-15 Agustus 2026 turun 7,9 persen dibandingkan periode yang sama pada Juli.
Penurunan ekspor tersebut menjadi salah satu faktor yang dapat membatasi ruang kenaikan harga CPO dalam jangka pendek. Dengan stok yang relatif tinggi, pasar membutuhkan peningkatan ekspor untuk menjaga keseimbangan antara pasokan dan permintaan.
China Jadi Perhatian Berikutnya
Selain India, perhatian pelaku pasar kini beralih ke China. Investor menunggu data aktivitas ekonomi Negeri Tirai Bambu untuk Juli yang akan memberikan gambaran mengenai kekuatan permintaan komoditas.
Data penjualan ritel dan produksi industri menjadi indikator yang diperhatikan. Perbaikan kedua indikator tersebut dapat memperkuat ekspektasi pemulihan permintaan minyak nabati dan CPO.
Sebaliknya, data ekonomi yang lebih lemah berpotensi menghidupkan kembali kekhawatiran mengenai permintaan China. Kondisi itu dapat membatasi penguatan harga CPO meski sentimen dari India dan pasar minyak nabati masih positif.
Dengan demikian, kenaikan CPO di BMD saat ini ditopang kombinasi bargain hunting, penguatan harga minyak nabati di Dalian, serta prospek permintaan India. Namun, tingginya stok Malaysia, potensi pelemahan ekspor, penguatan Ringgit, dan ketidakpastian data ekonomi China masih menjadi risiko bagi kelanjutan reli.
Pergerakan kontrak jangka panjang yang naik lebih agresif menunjukkan pasar masih menyimpan ekspektasi positif terhadap harga CPO. Namun, arah berikutnya akan sangat bergantung pada perkembangan ekspor Malaysia dan kekuatan permintaan dari negara konsumen utama.
Tags:


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *