
sawitsetara.co - PESISIR SELATAN — Lidi kelapa sawit yang selama ini lebih banyak dipandang sebagai limbah mulai menemukan nilai ekonominya di Kampung Ganting Kubang, Nagari Kambang Utara, Kecamatan Lengayang, Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel), Sumatera Barat.
Dalam dua pekan terakhir, sejumlah ibu rumah tangga di kawasan tersebut mulai mengumpulkan sekaligus meraut lidi sawit untuk kemudian dijual kepada pengrajin. Dari pekerjaan yang dapat dilakukan dari rumah itu, warga memperoleh tambahan pendapatan dengan harga jual lidi mencapai Rp5 ribu per kilogram.
Jely (35), salah seorang pengumpul lidi sawit, mengatakan pekerjaan tersebut relatif mudah karena tidak membutuhkan tempat khusus. Ia cukup mengumpulkan dan meraut lidi yang tersedia di sekitar kebun sawit.
“Alhamdulillah sejak ada yang beli lidi sawit ini. Kami di Ganting Kubang dapat tambahan pendapatan,” katanya kepada Katasumbar, Senin (17/8/2026).
Penghasilan yang diperoleh memang belum besar. Namun, bagi ibu rumah tangga, aktivitas tersebut menjadi pekerjaan tambahan yang bisa dilakukan tanpa meninggalkan rumah.
Dia (34), ibu rumah tangga lainnya, mengatakan dalam sehari ia mampu mengumpulkan sekitar 5 kilogram lidi sawit yang telah diraut.
“Dalam sehari bisa 5 kilogram. Kerjanya hanya duduk,” ujarnya.
Dengan harga Rp5 ribu per kilogram, pengumpulan lima kilogram lidi yang telah diraut dapat menghasilkan sekitar Rp25 ribu dalam sehari. Nilai tersebut menjadi tambahan pemasukan bagi keluarga, terutama karena bahan bakunya tersedia dari lingkungan sekitar.
Lidi yang dikumpulkan warga selanjutnya dibeli pengrajin untuk diolah menjadi berbagai produk bernilai jual. Di antaranya piring, keranjang buah, hingga perlengkapan pesta.
Salah seorang pengrajin, Rio, mengatakan permintaan terhadap produk berbahan lidi sawit cukup menjanjikan. Produk yang dibuatnya bahkan telah dipasarkan hingga ke luar provinsi.
“Piring misalnya banyak digunakan saat acara-acara pesta pernikahan. Begitu juga dengan keranjang buah banyak digunakan ibu-ibu rumah tangga sehingga produk dari lidi sawit itu laku dijual,” katanya.
Rio mulai mengembangkan kerajinan berbahan lidi sawit sekitar satu tahun lalu. Ia memilih bahan tersebut setelah melihat banyak lidi sawit yang sebelumnya hanya terbuang dan belum dimanfaatkan secara ekonomi.
Kini, rantai usaha sederhana mulai terbentuk. Warga mengumpulkan dan meraut lidi, sementara pengrajin mengolahnya menjadi produk yang memiliki nilai jual lebih tinggi.
Usaha itu juga tidak berhenti pada transaksi bahan baku. Rio mengatakan aktivitas kerajinan tersebut mulai menarik minat anak-anak di sekitar tempat tinggalnya untuk belajar membuat berbagai produk dari lidi sawit.
“Sudah banyak anak-anak yang belajar membuat produk tersebut sehingga bisa menjadi modal mereka ke depan untuk mencari nafkah dengan usaha sendiri dengan bahan baku yang melimpah,” tuturnya.
Bagi warga Ganting Kubang, pemanfaatan lidi sawit menunjukkan bahwa limbah perkebunan tidak selalu berakhir sebagai sesuatu yang tidak berguna. Di tangan masyarakat, bagian tanaman yang sebelumnya dibuang dapat menjadi bahan baku kerajinan sekaligus membuka sumber pendapatan baru.
Tags:


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *