KONSULTASI
Logo

GAPKI Dorong Kemitraan Sawit Indonesia-India di Tengah Tantangan Pasokan 2027

1 Oktober 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorHendrik Khoirul
GAPKI Dorong Kemitraan Sawit Indonesia-India di Tengah Tantangan Pasokan 2027

sawitsetara.co - JAKARTA — Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mendorong penguatan kemitraan industri kelapa sawit antara Indonesia dan India. Kerja sama itu dinilai penting untuk menjaga hubungan perdagangan kedua negara sekaligus memperluas kolaborasi di bidang produktivitas, keberlanjutan, dan ketertelusuran sawit.

Dorongan tersebut disampaikan Ketua Umum GAPKI Eddy Martono dalam opening remarks GlobOil India 2026 di Mumbai, India, yang berlangsung pada 29 September-1 Oktober 2026.

India merupakan salah satu pasar utama minyak sawit Indonesia. Hampir separuh kebutuhan sawit India dipasok dari Indonesia. Pada kuartal I 2026, ekspor sawit Indonesia ke India mencapai 988.000 ton atau tumbuh 28 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Hubungan perdagangan tersebut mendapat momentum setelah India memangkas bea masuk dasar crude palm oil (CPO) dari 10 persen menjadi 5 persen mulai 24 September 2026. GAPKI memperkirakan kebutuhan impor sawit India masih berada di kisaran 7 juta-8 juta ton per tahun hingga 2030.

Menurut Eddy, potensi pasar tersebut dapat dikembangkan tidak hanya melalui perdagangan CPO, tetapi juga kerja sama yang mendorong produktivitas industri sawit di kedua negara.

GAPKI membuka peluang kerja sama peningkatan produktivitas sawit dengan pelaku industri India. Langkah tersebut melanjutkan nota kesepahaman dengan Solvent Extractors’ Association of India (SEA) dan Asian Palm Oil Alliance (APOA) yang diteken dalam GlobOil 2025.

GAPKI juga menjajaki kerja sama baru dengan Indian Vegetable Oil Producers’ Association (IVPA).

apkasindo

B50 dan Tantangan Pasokan

Peluang memperkuat pasar India berlangsung ketika industri sawit Indonesia menghadapi perubahan besar di dalam negeri. Program biodiesel B50 akan meningkatkan penyerapan CPO domestik dan berpotensi mempersempit ruang ekspor.

Indonesia menjadi negara pertama yang menerapkan biodiesel B50 secara nasional. Implementasi penuh ditargetkan mulai 1 Oktober 2026. Program tersebut diproyeksikan menyerap sekitar 15,2 juta-16,3 juta ton CPO per tahun.

Pada saat yang sama, GAPKI memperkirakan produksi sawit Indonesia pada 2027 turun 2,9 persen menjadi sekitar 56,8 juta ton. Penurunan itu dipengaruhi kekeringan akibat fenomena El Nino di sejumlah wilayah sentra sawit, terutama Sumatra dan Kalimantan.

Kondisi tersebut membuat peningkatan produktivitas menjadi salah satu agenda penting dalam menjaga kesinambungan pasokan sekaligus memenuhi kebutuhan pasar domestik dan ekspor.

Selain pasokan, tata kelola ekspor sawit juga akan mengalami perubahan. Lima produk sawit diwajibkan diekspor melalui PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI), dengan penerapan penuh mulai 1 Januari 2027.

Eddy menegaskan perubahan mekanisme tersebut tidak berarti perdagangan sawit Indonesia dengan pasar global akan dihentikan.

“Kebijakan tersebut bukan pembatasan perdagangan, melainkan perubahan mekanisme tata kelola ekspor. Volume perdagangan tetap berjalan meski mekanisme ekspornya berubah,” kata Eddy dalam keterangannya, Kamis (1/10/2026).

apkasindo

GAPKI Promosikan Sawit Berkelanjutan

Dalam GlobOil India 2026, GAPKI juga membawa agenda keberlanjutan dengan mempromosikan minyak sawit Indonesia yang berkelanjutan kepada pasar India.

Partisipasi GAPKI dalam ajang tersebut didukung Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), yang selama ini mendukung kebijakan pemerintah untuk mewujudkan perkebunan kelapa sawit berkelanjutan.

Kerja sama Indonesia-India juga tidak berhenti pada perdagangan. GAPKI melihat peningkatan produktivitas, penerapan praktik berkelanjutan, dan ketertelusuran sebagai bagian penting dari hubungan jangka panjang industri sawit kedua negara.

Agenda serupa juga berkaitan dengan upaya Indonesia mempertahankan akses ke pasar Uni Eropa. Ketua Bidang Luar Negeri GAPKI Fadhil Hasan mengatakan Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Uni Eropa (I-EU CEPA) memberikan kuota ekspor sawit Indonesia ke Uni Eropa dengan bea masuk 0 persen, sekaligus bebas bea keluar dan pungutan ekspor.

Kuota tersebut dimulai dari 1,9 juta ton dan meningkat 3 persen per tahun selama sembilan tahun.

Namun, pemanfaatan peluang tersebut bergantung pada kesiapan industri memenuhi Regulasi Bebas Deforestasi Uni Eropa (EUDR). Tantangan utamanya mencakup ketertelusuran kebun petani kecil serta penyelarasan ISPO dengan sistem verifikasi Uni Eropa.

Fadhil juga memperkirakan harga sawit pada 2027 tetap tinggi. Karena itu, percepatan peremajaan sawit rakyat dan peningkatan produktivitas menjadi bagian penting untuk menjaga daya saing industri.

Melalui GlobOil India 2026, GAPKI berharap dialog dengan pembeli, pedagang, dan pelaku industri minyak nabati global dapat berkembang menjadi kemitraan jangka panjang.

Untuk Indonesia dan India, kemitraan tersebut diarahkan tidak hanya untuk memperkuat arus perdagangan minyak sawit, tetapi juga membangun kerja sama berbasis produktivitas, keberlanjutan, dan ketertelusuran.

Tags:

Berita Sawit

Berita Sebelumnya
Harga TBS Mitra Swadaya Papua Turun hingga Rp42,37 per Kilogram

Harga TBS Mitra Swadaya Papua Turun hingga Rp42,37 per Kilogram

Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit produksi pekebun Mitra Swadaya di Provinsi Papua mengalami penurunan pada seluruh komposisi varietas tanaman untuk periode II September 2026.

30 September 2026Harga TBS

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *