KONSULTASI
Logo

Gapoktan Manunggal Sakti di Siak Sukses Kembangkan Padi Gogo di Sela Lahan PSR, Dukung Swasembada Pangan

13 April 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorDwi Fatimah
Gapoktan Manunggal Sakti di Siak Sukses Kembangkan Padi Gogo di Sela Lahan PSR, Dukung Swasembada Pangan

sawitsetara.co - SIAK — Kelompok Gabungan Tani (Gapoktan) Manunggal Sakti di Kecamatan Dayun, Kabupaten Siak, Riau, menunjukkan terobosan menarik dalam mengelola masa peremajaan kebun sawit.

Di tengah program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), para petani tidak hanya menunggu tanaman menghasilkan, tetapi juga menanam padi gogo untuk menjaga pendapatan sekaligus mendukung ketahanan pangan.

WhatsApp Image 2026-04-13 at 14.40.43 (1).jpeg

Ketua Gapoktan Manunggal Sakti, Budi Santoso, mengatakan kelompoknya mulai terlibat dalam program PSR sejak 2019. Latar belakangnya adalah kondisi kebun sawit anggota yang sudah tua—sebagian ditanam sejak 1983–1984—sehingga produktivitasnya menurun.

“PSR menjadi solusi untuk meremajakan kebun sekaligus memperbaiki tata kelola. Kami juga belajar dari setiap tahap pelaksanaannya,” ujar Budi kepada sawitsetara.co.

Sawit Setara Default Ad Banner

Hingga kini, Gapoktan Manunggal Sakti telah menjalankan PSR dalam tiga tahap. Tahap pertama mencakup 126 hektare dengan 47 petani, tahap kedua 42 hektare dengan 36 petani, dan tahap ketiga seluas 130 hektare yang melibatkan 60 petani. Pada tahap ketiga inilah praktik tumpang sari dengan padi gogo mulai diterapkan.

Menurut Budi, penanaman padi gogo menjadi strategi penting selama masa belum menghasilkan (TBM) sawit. Selain memberikan tambahan pendapatan, langkah ini juga membantu petani tetap produktif.

“Kalau dihitung secara usaha, ini sangat membantu. Selama sawit belum panen, petani tetap punya pemasukan,” katanya.

WhatsApp Image 2026-04-13 at 16.35.26.jpeg

Di lahan tersebut, pengelolaan melibatkan sekitar 21 orang, terdiri atas petani pemilik lahan dan tim penanggung jawab. Para petani mengelola kebun secara swakelola tanpa pinjaman bank. Dana bantuan PSR dimanfaatkan secara efisien hingga mampu menopang biaya perawatan sampai tanaman mulai menghasilkan.

Sawit Setara Default Ad Banner

Hasilnya mulai terlihat. Pada tahap pertama, tanaman sawit yang kini berusia enam tahun mampu menghasilkan hingga 3 ton per hektare. Sementara tahap kedua, yang berumur empat tahun, sudah mencapai sekitar 2 ton per hektare.

Budi menekankan pentingnya penggunaan bibit unggul dalam meningkatkan produktivitas. Selain itu, Gapoktan juga mulai menerapkan praktik perkebunan berkelanjutan dengan pencatatan administrasi yang rapi, mulai dari penanaman hingga pemupukan.

“Kami ingin menunjukkan bahwa petani sawit juga bisa tertib dan mengikuti aturan. Saat tata kelola baik, produksi juga meningkat,” ujarnya.

Gapoktan Manunggal Sakti bahkan telah mengikuti kegiatan ISPO dan tengah dalam proses pengurusan sertifikasi keberlanjutan RSPO.

WhatsApp Image 2026-04-13 at 16.35.44.jpeg

Ke depan, Gapoktan Manunggal Sakti berharap semakin banyak petani sawit bergabung dalam kelembagaan dan mengikuti program PSR. Selain meningkatkan produksi, langkah ini dinilai mampu memperkuat citra sawit rakyat sebagai sektor yang tertata dan berkelanjutan.

Di tengah isu keberlanjutan dan ketahanan pangan, praktik integrasi sawit dan padi gogo yang dilakukan Gapoktan ini menjadi contoh bagaimana petani dapat beradaptasi dan tetap produktif dalam masa transisi.

Tags:

PSRperemajaan sawit rakyat

Berita Sebelumnya
Perusahaan Di Babel Diminta Patuhi Kesepakatan Harga TBS Sawit

Perusahaan Di Babel Diminta Patuhi Kesepakatan Harga TBS Sawit

Simbiosis mutualisme, itulah yang seharusnya dilakukan oleh perusahaan kepada petani, dimana petani berhak mendapatkan harga tandan buah segar (TBS) dari perusahaan sesuai dengan harga kesepakatan TBS,

12 April 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *