
sawitsetara.co - KUALA LUMPUR – Harga kontrak berjangka crude palm oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives ditutup melemah pada Selasa (14/4/236), setelah sehari sebelumnya sempat menguat. Penurunan ini dipicu oleh melemahnya harga minyak mentah global serta sentimen negatif dari pasar minyak nabati lainnya.
Trader proprietary dari Iceberg X Sdn Bhd, David Ng, mengatakan bahwa harga CPO turun di bawah level RM4.500 per ton seiring turunnya harga minyak mentah dunia.
“Harga minyak mentah yang lebih rendah telah menekan harga minyak sawit, karena komoditas ini banyak digunakan sebagai bahan baku biofuel,” ujarnya, dikutip Bernama.com

Pada saat yang sama, harga minyak mentah Brent tercatat turun 1,57 persen ke level US$97,80 per barel. Selain itu, tekanan juga datang dari pelemahan harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT) yang turut memengaruhi sentimen pasar.
Ng menambahkan, pelaku pasar kini melihat level support CPO berada di RM4.400 per ton, sementara resistance di kisaran RM4.550 per ton.
Secara rinci, kontrak April dan Mei 2026 masing-masing turun RM91 menjadi RM4.359 dan RM4.420 per ton. Kontrak Juni 2026 melemah RM89 menjadi RM4.466 per ton, sementara Juli 2026 turun RM81 ke RM4.491 per ton. Kontrak Agustus dan September 2026 masing-masing turun RM77 dan RM70 menjadi RM4.489 dan RM4.479 per ton.
Volume perdagangan justru melonjak menjadi 107.900 lot dari sebelumnya 66.741 lot, sementara open interest meningkat menjadi 264.587 kontrak dari 256.371 kontrak. Adapun harga fisik CPO April South jatuh RM120 menjadi RM4.460 per ton.

/Sehari sebelumnya, Senin (13/4/2026), harga CPO sempat ditutup menguat mengikuti lonjakan harga minyak mentah dunia di tengah konflik yang berlangsung di kawasan Asia Barat. David Ng menjelaskan bahwa kenaikan harga minyak mentah menjadi faktor utama penguat harga CPO saat itu.
“Kenaikan harga minyak mentah telah mendorong harga minyak sawit, karena komoditas ini banyak digunakan sebagai bahan baku biofuel,” katanya.
Pada hari tersebut, harga Brent melonjak 7,45 persen ke level US$102,30 per barel. Sentimen positif juga datang dari penguatan harga minyak kedelai di CBOT yang turut menopang pasar CPO. Ng menyebutkan, pada saat itu pasar melihat level support berada di RM4.500 per ton dan resistance di RM4.680 per ton.

Penutupan perdagangan Senin menunjukkan kontrak Mei 2026 naik ke RM4.511 per ton, Juni 2026 ke RM4.555 per ton, serta Juli 2026 ke RM4.572 per ton. Kontrak Agustus dan September 2026 masing-masing menguat menjadi RM4.566 dan RM4.549 per ton.
Volume perdagangan tercatat relatif stabil di 66.741 lot, sementara open interest sedikit menurun menjadi 256.371 kontrak. Harga fisik CPO April South pada hari itu tidak berubah di level RM4.580 per ton.
Pergerakan dua hari terakhir ini mencerminkan sensitivitas harga CPO terhadap dinamika harga energi global, khususnya minyak mentah, serta pengaruh pasar minyak nabati internasional.



Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *