KONSULTASI
Logo

Hari Batik Nasional, Kampung Batik Laweyan Hadirkan Batik dengan Lilin Sawit

2 Oktober 2026
AuthorDwi Fatimah
EditorDwi Fatimah
Hari Batik Nasional, Kampung Batik Laweyan Hadirkan Batik dengan Lilin Sawit

sawitsetara.co – Peringatan Hari Batik Nasional tidak hanya menjadi momentum untuk merayakan batik sebagai warisan budaya Indonesia, tetapi juga mendorong inovasi agar industri batik semakin ramah lingkungan.

Semangat tersebut salah satunya terlihat di Kampung Batik Laweyan, Solo, Jawa Tengah. Para pelaku usaha batik di kawasan tersebut mulai menggunakan malam atau lilin berbahan dasar sawit sebagai alternatif dari malam parafin yang selama ini banyak berasal dari minyak bumi.

Inovasi ini dikembangkan menggunakan stearin, salah satu turunan minyak sawit. Penggunaan material berbasis tumbuhan tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan proses produksi batik yang lebih memperhatikan aspek lingkungan.

Salah satu pengusaha batik di Kampung Batik Laweyan, Alpha Febela Priyatmono, mengatakan malam sawit dikembangkan bersama komunitas dan industri sawit untuk menghasilkan material yang lebih ramah lingkungan.

“Sekarang kami menggunakan material sawit. Salah satu turunan sawit itu namanya stearin. Kami membuat material malam sawit itu dari stearin,” ujar Alpha.

Menurutnya, malam berbahan sawit memiliki karakter berbeda dibandingkan malam berbasis minyak bumi. Salah satunya lebih mudah mencair sehingga dapat membantu menghemat energi dalam proses produksi batik.

“Satu, malam sawit itu mudah mencair sehingga energinya bisa menghemat energi dibanding malam biasa,” katanya.

Selain penggunaan energi yang lebih efisien, Alpha menyebut penggunaan bahan berbasis tumbuhan juga menjadi bagian dari upaya menghadirkan proses produksi yang lebih ramah lingkungan.

apkasindo

Inovasi tersebut sekaligus diarahkan untuk memperkuat citra batik sebagai produk budaya yang terus berkembang dan mulai memperhatikan keberlanjutan dari sisi material maupun proses produksinya.

“Jadi konteksnya untuk mem-branding batik yang ramah lingkungan. Batik ramah lingkungan itu bisa melalui prosesnya atau materialnya. Materialnya kan ada juga menggunakan warna alam dan malam sawit,” jelasnya.

Dari sisi kualitas, penggunaan malam sawit disebut tidak memberikan perbedaan berarti terhadap hasil akhir batik. Namun, material tersebut memiliki harga yang sedikit lebih tinggi dibandingkan malam biasa karena membawa konsep ramah lingkungan.

“Malam sawit ini kami gunakan untuk produk batik Quran dan untuk fashion juga, walaupun harganya terpaut Rp5 ribu lebih mahal daripada biasanya,” ungkap Alpha.

Pemanfaatannya bahkan tidak terbatas pada produk fashion. Komunitas batik Laweyan juga menggunakannya untuk berbagai karya nonfashion, salah satunya pengembangan Batik Quran.

“Batik Quran itu kan kami bikin dua versi. Versi yang pertama dari khat Kudus itu sudah selesai 30 juz. Kami sekarang bikin yang khat Utsmani itu dari lilin sawit juga,” paparnya.

Alpha menjelaskan, material malam yang digunakan saat ini memiliki kandungan stearin mendekati 60 persen. Kandungan tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan pengembangan sebelumnya yang menggunakan stearin kurang dari 5 persen.

apkasindo

“Kalau kami sudah pakai stearin mendekati 60 persen, maka kami akhirnya lolos disertifikasi RSPO,” katanya.

Malam sawit tersebut telah digunakan selama sekitar enam bulan setelah memperoleh sertifikasi dari Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) pada tahun sebelumnya.

Tidak berhenti pada penggunaan material berbasis sawit, upaya mewujudkan batik ramah lingkungan di Laweyan juga diarahkan pada kawasan produksinya.

Menurut Alpha, aspek lingkungan mulai diperhatikan dari berbagai sisi, termasuk pengukuran kelembapan udara, pencahayaan yang masuk ke ruang produksi, hingga penghawaan.

“Cita-cita kami di Laweyan ini adalah suatu kawasan industri batik yang ramah lingkungan. Ramah lingkungannya tidak hanya dari hasilnya batiknya, tetapi juga tempat produksinya,” jelasnya.

Konsep tersebut secara bertahap diarahkan menuju kawasan dengan prinsip green building. Namun, Alpha mengakui prosesnya tidak dapat dilakukan secara instan karena membutuhkan riset, edukasi, serta penerapan secara bertahap.

Ia berharap inovasi malam berbahan sawit yang dikembangkan koperasi batik di Laweyan nantinya dapat dimanfaatkan secara lebih luas oleh pelaku usaha batik.

apkasindo

“Kami berharap, malam sawit buatan koperasi batik di Laweyan ini bisa dimanfaatkan lebih luas oleh para pelaku usaha di sini,” harapnya.

Di momentum Hari Batik Nasional, inovasi malam sawit tersebut menunjukkan bahwa pelestarian batik tidak hanya berbicara tentang mempertahankan warisan budaya, tetapi juga membuka ruang bagi teknologi, inovasi, dan bahan baku baru untuk membangun industri batik yang lebih berkelanjutan.

Tags:

Batik Sawit

Berita Sebelumnya
Afrika Jadi Bidikan Baru Ekspor Sawit Indonesia, Kemlu Siapkan Diplomasi Pasar

Afrika Jadi Bidikan Baru Ekspor Sawit Indonesia, Kemlu Siapkan Diplomasi Pasar

Pemerintah memperluas sasaran pasar ekspor produk sawit Indonesia ke Afrika. Kementerian Luar Negeri menempatkan kawasan tersebut sebagai salah satu pasar baru yang potensial, bersama produk makanan dan minuman serta manufaktur.

1 Oktober 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *