
sawitsetara.co - JAKARTA — Di tengah prevalensi stunting nasional yang masih 19,8 persen berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, pakar ekonomi pertanian Prof. Ir. H. Agus Pakpahan, M.S., Ph.D., menyoroti ironi kebijakan pengolahan minyak sawit nasional.
Menurutnya, buah sawit secara alami kaya karoten (provitamin A) hingga 63,7 mg per 100 gram serta vitamin E dalam kadar tinggi. Potensi vitamin dari produksi Tandan Buah Segar nasional diperkirakan mencapai 20–43 ribu ton vitamin A dan 20–45 ribu ton vitamin E per tahun.
Namun, dalam proses pemurnian Refined, Bleached, Deodorized (RBD), sekitar 99 persen vitamin alami tersebut hilang. Setelah itu, Indonesia harus mengimpor vitamin sintetik untuk fortifikasi minyak goreng.
“Ini kerugian berganda. Kita buang vitamin alami, lalu impor vitamin sintetik, dan vitamin itu pun tidak stabil saat dipakai menggoreng,” ujar Prof. Agus dalam esainya bertajuk Minyak Sawit dan Paradoks Stunting: Ironi Bangsa di Tengah Kelimpahan edisi 1 Maret 2026.
Data perdagangan menunjukkan Indonesia mengimpor ratusan ton vitamin A dan ribuan ton vitamin E setiap tahun, terutama dari China, Singapura, dan Amerika Serikat.
Penelitian juga menunjukkan vitamin sintetik mudah terdegradasi oleh panas dan oksigen, sehingga efektivitas fortifikasi menjadi terbatas.
Sebagai alternatif, Prof. Agus mendorong pengembangan Minyak Makan Merah (M3) yang mempertahankan vitamin alami karena tidak melalui proses pemucatan.
Ia mencontohkan praktik konsumsi minyak sawit merah di Nigeria, di mana minyak digunakan sebagai bumbu dan ditambahkan di akhir proses memasak sehingga kandungan vitamin tetap terjaga.
Rektor Institut Koperasi University (IKOPIN University) ini memperkirakan kerugian akibat pendekatan saat ini mencapai Rp 428 triliun per tahun.
Angka tersebut mencakup biaya penanganan stunting yang dapat diatribusikan pada alokasi lahan berlebihan, potensi nilai tambah hilirisasi yang hilang, serta devisa untuk impor vitamin.
“Kita kaya sumber daya, tapi miskin tata kelola. Jika kebijakan pangan, industri, dan kesehatan tidak disinergikan, paradoks ini akan terus berulang,” katanya.
Ia menegaskan bahwa penyelamatan generasi mendatang tidak cukup hanya dengan program bantuan makanan bergizi. Reformasi struktural industri sawit, penguatan koperasi petani, serta pemanfaatan vitamin alami sawit menjadi kunci transformasi.
“Ini bukan sekadar isu ekonomi, ini ujian peradaban,” tutup Prof. Agus.
Tags:


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *