
sawitsetara.co - PEKANBARU — Pemerintah Kota Pekanbaru mendorong pengembangan perkebunan kelapa sawit dengan mengutamakan peningkatan produktivitas lahan yang sudah tersedia. Langkah itu dinilai penting untuk menjaga pertumbuhan ekonomi sekaligus menghindari tekanan terhadap lingkungan akibat pembukaan lahan baru.
Wakil Wali Kota Pekanbaru Markarius Anwar mengatakan potensi perkebunan di daerahnya masih cukup besar. Meski dikenal sebagai kota, sekitar 65 persen wilayah Pekanbaru masih berupa kawasan perkampungan dan perkebunan.
Hal tersebut disampaikan Markarius saat membuka Sosialisasi Rencana Aksi Daerah Kelapa Sawit Berkelanjutan (RAD-KSB) yang digelar Dinas Pertanian dan Perikanan Kota Pekanbaru di Hotel Pangeran Pekanbaru, Rabu (30/9/2026).
Menurut Markarius, kondisi tersebut menunjukkan perkebunan masih dapat menjadi salah satu penopang perekonomian daerah. Pengelolaan yang tepat dinilai dapat meningkatkan pendapatan daerah sekaligus memperbaiki kesejahteraan masyarakat.
“Ini menunjukkan bahwa sektor perkebunan memiliki potensi untuk meningkatkan pendapatan daerah dan pertumbuhan ekonomi masyarakat,” kata Markarius.
Saat ini, luas perkebunan kelapa sawit di Pekanbaru mencapai sekitar 24 ribu hektare. Pemerintah kota ingin potensi tersebut dikelola secara terarah agar manfaat ekonominya tetap berjalan tanpa mengabaikan fungsi lingkungan.
Markarius mengatakan penyusunan RAD-KSB menjadi bagian penting untuk menyamakan arah antara pemerintah, pekebun, pelaku usaha, dan pemangku kepentingan lainnya.
RAD-KSB nantinya menjadi pedoman dalam menjalankan berbagai program perkebunan, terutama komoditas kelapa sawit. Pengembangan perkebunan diarahkan agar lebih produktif, tertata, dan berkelanjutan.
“Potensi perkebunan yang masih cukup besar harus kita kelola secara seimbang. Pertumbuhan ekonomi jangan sampai mengorbankan kelestarian lingkungan,” ujarnya.
Dorong Intensifikasi dan Peremajaan
Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Pekanbaru Maisisco mengatakan konsep sawit berkelanjutan tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi dan pendapatan pekebun.
Menurut dia, terdapat sejumlah aspek yang perlu diperhatikan, mulai dari tata kelola lahan, lingkungan, legalitas, produktivitas hingga peningkatan kesejahteraan masyarakat.
“Pendekatan berkelanjutan diperlukan agar pengembangan sawit dapat memberikan manfaat ekonomi dalam jangka panjang tanpa mengabaikan daya dukung lingkungan,” kata Maisisco.
Riau sendiri merupakan salah satu sentra utama kelapa sawit nasional. Berdasarkan data yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, produksi CPO Riau pada 2025 mencapai sekitar 9,46 juta ton.
Sementara berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Riau, produksi perkebunan rakyat untuk komoditas kelapa sawit pada 2024 mencapai sekitar 5,58 juta ton.
Besarnya produksi tersebut menunjukkan peran perkebunan rakyat dalam rantai industri sawit Riau. Karena itu, peningkatan produktivitas kebun rakyat menjadi salah satu bagian penting dalam agenda sawit berkelanjutan.
Pemerintah pusat saat ini mendorong peningkatan produksi melalui intensifikasi dan peremajaan tanaman. Pendekatan tersebut memungkinkan produktivitas ditingkatkan dari lahan yang sudah ada sehingga pertumbuhan produksi tidak harus ditempuh melalui pembukaan lahan baru.
Bagi Pekanbaru, arah tersebut sejalan dengan penyusunan RAD-KSB. Pemerintah daerah dapat memiliki pedoman yang lebih jelas dalam mengelola potensi sekitar 24 ribu hektare perkebunan sawit sekaligus menjaga keseimbangan antara kepentingan ekonomi dan lingkungan.
Dengan demikian, pengembangan sawit di Pekanbaru tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan produksi, tetapi juga memperkuat legalitas, tata kelola perkebunan, produktivitas pekebun dan keberlanjutan lingkungan.
Tags:


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *