KONSULTASI
Logo

IPOS Forum 2026 Hasilkan Enam Rekomendasi Strategis, Pembenahan Tata Kelola Sawit Jadi Prioritas

3 November 2026
AuthorDwi Fatimah
EditorDwi Fatimah
IPOS Forum 2026 Hasilkan Enam Rekomendasi Strategis, Pembenahan Tata Kelola Sawit Jadi Prioritas

sawitsetara.co - Masa depan industri kelapa sawit Indonesia tidak hanya ditentukan oleh besarnya produksi dan luas perkebunan, tetapi juga oleh kepastian hukum, produktivitas petani, serta kebijakan pemerintah yang mampu menjawab tantangan industri. Persoalan tersebut menjadi sorotan utama Indonesian Palm Oil Stakeholders Forum (IPOS Forum) 2026 yang menghasilkan enam rekomendasi strategis untuk memperkuat tata kelola dan daya saing sawit nasional.

Enam rekomendasi tersebut menitikberatkan pada penyelesaian persoalan lahan dan tumpang tindih regulasi, peningkatan efektivitas Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), penegakan kepastian hukum, pembenahan kebijakan ekspor, hingga percepatan peningkatan produktivitas perkebunan.

Forum yang berlangsung di Medan, Sumatera Utara, pada 29–30 Oktober 2026 ini mengangkat tema “Kemana Arah Transformasi Industri Sawit Nasional?”. Didukung Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), kegiatan tersebut dihadiri lebih dari 500 peserta yang berasal dari unsur petani, perusahaan perkebunan, pemerintah, akademisi, serta praktisi industri sawit.

Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Sumatera Utara, Timbas Prasad Ginting, menegaskan bahwa industri sawit nasional tengah menghadapi tantangan besar yang membutuhkan penanganan bersama. Salah satunya adalah penerapan mandatori biodiesel B50 mulai 1 Juli 2026, di tengah persoalan tata kelola lahan dan lambatnya peremajaan perkebunan rakyat.

Menurutnya, transformasi industri sawit tidak bisa hanya mengandalkan pelaku usaha. Pemerintah harus hadir melalui kebijakan yang memberikan kepastian dan menciptakan iklim usaha yang kondusif.

“Harapan keberlanjutan industri sawit haruslah dijaga karena berdampak besar bagi kepentingan ekonomi rakyat dan nasional. Selain itu, peran pemerintah sangatlah penting dalam membantu menyelesaikan berbagai persoalan demi keberlangsungan industri sawit yang berdaya saing di Indonesia,” ujar Timbas dalam pembukaan IPOS Forum, Kamis (29/10/2026).


HUT APKASINDO - DPW RIAU

Ia menjelaskan, enam rekomendasi yang dirumuskan dalam forum tersebut merupakan hasil pembahasan mendalam antara para ahli dan pemangku kepentingan. Seluruh masukan itu selanjutnya akan disampaikan kepada pemerintah sebagai bahan evaluasi dan perbaikan kebijakan industri sawit nasional.

PSR Jangan Berhenti pada Penyaluran Dana

Selain persoalan regulasi dan lahan, percepatan Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) menjadi salah satu agenda penting dalam transformasi industri sawit. Program ini dinilai memiliki peran strategis dalam meningkatkan produktivitas kebun rakyat sekaligus memperkuat kesejahteraan pekebun.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Heru Tri Widarto, mengatakan PSR tidak boleh dipandang sebatas kegiatan mengganti tanaman sawit yang sudah tua atau tidak produktif.

HUT APKASINDO - DPW RIAU

Lebih dari itu, PSR merupakan momentum untuk membangun kembali fondasi perkebunan rakyat melalui penggunaan bibit unggul, penerapan praktik budidaya yang baik, serta pengelolaan kebun yang lebih efisien dan berkelanjutan.

“Namun PSR merupakan kesempatan untuk membangun kembali pondasi perkebunan rakyat agar lebih produktif, efisien, dan berkelanjutan,” tutur Heru.

Berdasarkan data BPDP, sejak 2016 hingga 30 September 2026, realisasi nasional program PSR telah mencapai 438.217 hektare dengan melibatkan 196.846 pekebun. Total bantuan yang disalurkan pemerintah mencapai Rp12,48 triliun.

Sementara itu, di Sumatera Utara, realisasi PSR sepanjang 2022 hingga triwulan III tercatat mencapai 19.902,13 hektare dengan melibatkan 9.048 pekebun. Dana yang telah disalurkan mencapai Rp553,76 miliar.

Angka tersebut menunjukkan besarnya dukungan pembiayaan pemerintah terhadap peremajaan kebun rakyat. Namun, tantangan berikutnya adalah memastikan bantuan tersebut benar-benar menghasilkan peningkatan produktivitas di tingkat kebun.

Direktur Penyaluran Dana Sektor Hulu BPDP, Normansyah Hidayat Syahruddin, menekankan bahwa keberhasilan PSR membutuhkan sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, koperasi, perusahaan swasta, dan perusahaan milik negara.

“Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) ini menjadi program strategis pemerintah yang bertujuan untuk meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan perkebunan kelapa sawit rakyat, sekaligus meningkatkan kesejahteraan pekebun serta keberlanjutan industri sawit nasional,” katanya.

HUT APKASINDO - DPW RIAU

Dukungan juga disampaikan Staf Ahli Gubernur Sumatera Utara, Alfi Syahriza. Menurutnya, percepatan PSR membutuhkan langkah konkret, mulai dari penyederhanaan prosedur administrasi, pendampingan pekebun, kemudahan akses pembiayaan, hingga ketersediaan bibit unggul.

Pemerintah daerah, lanjutnya, siap memfasilitasi berbagai kebutuhan tersebut agar pelaksanaan PSR dapat berjalan lebih efektif dan menjangkau lebih banyak pekebun.

Enam Rekomendasi Jadi Pekerjaan Rumah Pemerintah

Melalui rangkaian diskusi IPOS Forum 2026, para pemangku kepentingan menyepakati enam rekomendasi utama yang dinilai mendesak untuk ditindaklanjuti pemerintah.

Pertama, menyelesaikan ketidakpastian hukum dan tumpang tindih kebijakan pertanahan serta kawasan hutan yang selama ini menjadi persoalan dalam pengelolaan perkebunan.

Kedua, mengukur keberhasilan program PSR berdasarkan hasil nyata di lapangan, terutama peningkatan produktivitas kebun, bukan sekadar besarnya dana yang telah disalurkan.

Ketiga, melakukan penertiban dan penyelesaian persoalan lahan tanpa menciptakan ketidakpastian hukum baru bagi pelaku usaha maupun pekebun.

Keempat, menerapkan regulasi yang memberikan kepastian hukum dan mendukung keberlanjutan investasi industri kelapa sawit.

Kelima, memperbaiki kebijakan ekspor satu pintu agar proses perdagangan lebih efisien dan tidak menimbulkan hambatan tambahan bagi pelaku industri.

Keenam, menempatkan peningkatan produktivitas sebagai prioritas utama dalam agenda transformasi industri sawit nasional.

Enam rekomendasi tersebut menjadi pesan penting bahwa transformasi industri sawit tidak cukup dilakukan melalui peningkatan kapasitas produksi semata. Pembenahan regulasi, penyelesaian persoalan lahan, efektivitas program pemerintah, serta kemudahan perdagangan harus berjalan beriringan.

HUT APKASINDO - DPW RIAU

Heru Tri Widarto berharap hasil forum tersebut tidak berhenti sebagai rumusan atau dokumen rekomendasi, melainkan dapat diterjemahkan menjadi kebijakan dan program kerja yang konkret serta terukur.

Menurutnya, penguatan tata kelola industri sawit harus mencakup aspek regulasi, pemanfaatan teknologi, dan pemberdayaan petani. Dengan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, industri kelapa sawit Indonesia diharapkan mampu meningkatkan produktivitas, memperkuat daya saing, serta menjaga keberlanjutan sebagai salah satu penopang penting perekonomian nasional.

Kini, tantangan sesungguhnya berada pada tindak lanjut pemerintah. Enam rekomendasi IPOS Forum 2026 diharapkan menjadi momentum untuk membenahi berbagai persoalan mendasar sekaligus membawa industri sawit Indonesia memasuki babak transformasi yang lebih produktif, berkeadilan, dan berkelanjutan.


Berita Sebelumnya
BNPB Ingatkan Pekebun Sawit: Buka Lahan Tanpa Bakar dan Siapkan Kelompok Tani Peduli Api

BNPB Ingatkan Pekebun Sawit: Buka Lahan Tanpa Bakar dan Siapkan Kelompok Tani Peduli Api

Pekebun kelapa sawit diminta memperkuat kesiapsiagaan menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama menjelang periode rawan kebakaran. Pembukaan lahan tanpa bakar, penyediaan peralatan pemadam, dan pembentukan Kelompok Tani Peduli Api (KTPA) menjadi langkah penting untuk mencegah kebakaran meluas.

2 November 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *