KONSULTASI
Logo

Kereta Api Berperan Strategis Pada Komoditas Kelapa Sawit

5 Mei 2026
AuthorIbnu
EditorIbnu
Kereta Api Berperan Strategis Pada Komoditas Kelapa Sawit
HOT NEWS

sawitsetara.co - MEDAN – PT Kereta Api Indonesia (KAI) Divisi Regional I Sumatera Utara mencatatkan performa gemilang pada sektor angkutan logistik, khususnya komoditas Crude Palm Oil (CPO) yang telah mengangkut sebanyak 9.855 ton selama periode April 2026.

"Jumlah tersebut naik 38 persen dibandingkan Maret 2026 yang tercatat sebanyak 7.125 ton," kata Plt. Manager Humas KAI Divre I Sumatera Utara, Anwar Yuli Prastyo, di Medan, Selasa (5/5/2026).

Anwar juga menerangkan, bahwa capaian tersebut mempertegas peran strategis kereta api dalam rantai pasok industri sawit di Sumatera Utara.

Seperti dikethui Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025, luas perkebunan kelapa sawit di Sumatera Utara mencapai sekitar 1,36 juta hektare. Sumatera Utara menempati posisi kedua sebagai provinsi dengan kebun sawit terbesar di Sumatera setelah Riau, dengan pusat perkebunan berada di wilayah Langkat, Deli Serdang, dan Labuhan Batu Raya.

"Sumatera Utara merupakan salah satu produsen kelapa sawit terbesar di Indonesia dengan sejarah panjang sejak sebelum kemerdekaan. Perlu diketahui bahwa angkutan CPO dengan moda transportasi kereta api saat ini hanya tersedia di wilayah Sumatera Utara,” kata Anwar.


Sawit Setara Default Ad Banner

Anwar menambahkan, kehadiran layanan kereta api sangat vital dalam mempercepat distribusi dari Pabrik Kelapa Sawit (PKS) menuju gerbang ekspor dan pusat industri.

Adapun ekspor kelapa sawit Sumatera Utara pada 2025 menunjukkan kinerja positif dengan tren penguatan harga TBS (Tandan Buah Segar) mencapai sekitar Rp3.451,27/kilogram pada akhir tahun dan CPO menjadi komoditas utama ekspor. Pelabuhan Belawan memegang peran kunci, dengan penguatan hilirisasi domestik dan target produksi yang didorong melalui optimalisasi lahan, terutama di wilayah Deli Serdang.

"Melihat hal ini maka kehadiran kereta api mempermudah distribusi CPO dari PKS menuju pelabuhan seperti Belawan dan Kuala Tanjung untuk memenuhi permintaan pasar di luar Sumatera Utara. Selain itu, angkutan CPO juga dikirim menuju Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei, yang menjadi pusat industri hilir berbasis sawit," ungkap Anwar.


Sawit Setara Default Ad Banner

Selain untuk kebutuhan industri turunan, CPO juga berperan sebagai bahan baku utama biodiesel. Pemanfaatan biodiesel sebagai campuran solar mampu menghasilkan emisi gas buang yang lebih rendah dan ramah lingkungan.

KAI Divre I Sumatera Utara telah mengimplementasikan penggunaan energi tersebut pada perangkat diesel operasionalnya.

Saat ini, seluruh lokomotif dan mesin pembangkit di wilayah Divre I Sumut telah menggunakan bahan bakar B40 (40% berbahan baku dari kelapa sawit).

“Saat ini bahkan sedang dilakukan uji coba penggunaan bahan bakar B50 untuk lokomotif. Langkah ini merupakan bagian dari upaya perusahaan dalam mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil serta mendukung program transisi energi nasional,” jelas Anwar.

Seperti diketahui bahwa sebelumnya Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menginisiasi uji penggunaan B50 pada sektor perkeretaapian yang berlangsung di Yogyakarta. Langkah ini menjadi bagian penting dari rangkaian persiapan implementasi B50 secara nasional pada awal Juli 2026 nanti, sekaligus memastikan kesiapan teknis pada sektor transportasi strategis.


Sawit Setara Default Ad Banner

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE), Eniya Listiani Dewi mengatakan bahwa uji coba pelaksanaan B50 sudah dilakukan sejak Desember 2025 lalu, dan sektor kereta api dimulai paling akhir.

"Jadi sejak 9 Desember (2025) kita sudah mulai seluruh rangkaian dari uji pelaksanaan di otomotif, di pertambangan, di alat pertanian, uji di perkapalan, uji di genset dan terakhir ini uji di perkeretapian, karena kita harus menunggu lebaran selesai," ujar Eniya.

Eniya menuturkan uji coba B50 untuk kereta akan dilakukan dua pengujian, yang pertama di Stasiun Lempuyangan ini adalah untuk uji genset kereta yang akan berangkat ke Jakarta dan kembali ke Yogyakarta selama 2.400 jam.



Berita Sebelumnya
Oligopsoni dalam Pasar TBS: Kehadiran PKS Tanpa Kebun Bukan Alternatif Bagi Petani, Tapi…

Oligopsoni dalam Pasar TBS: Kehadiran PKS Tanpa Kebun Bukan Alternatif Bagi Petani, Tapi…

Fenomena ini terjadi karena kegiatan pengolahan hasil pertanian membutuhkan investasi besar, teknologi, serta skala produksi yang tinggi agar dapat beroperasi secara efisien. Dengan kapasitas yang besar, perusahaan pengolah mampu menekan biaya per unit (economies of scale), sehingga secara alami hanya pelaku usaha bermodal kuat yang mampu bertahan di sisi hilir.

4 Mei 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *