KONSULTASI
Logo

Lebih dari 80 Persen Ekspor Sawit Sudah Berupa Produk Olahan, Bukan Melulu CPO

30 Juli 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorHendrik Khoirul
Lebih dari 80 Persen Ekspor Sawit Sudah Berupa Produk Olahan, Bukan Melulu CPO

sawitsetara.co - PANGKALAN BUN — Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) menyatakan hilirisasi telah mengubah wajah ekspor kelapa sawit Indonesia. Saat ini, lebih dari 80 persen ekspor sawit nasional tidak lagi berbentuk crude palm oil (CPO) atau minyak sawit mentah, melainkan produk olahan yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.

Direktur Keuangan, Manajemen Risiko, dan Umum BPDP Zaid Burhan Ibrahim mengatakan perubahan struktur ekspor tersebut menjadi indikator bahwa kebijakan hilirisasi mulai memberikan dampak nyata terhadap penguatan industri sawit nasional.

“Struktur ekspor sawit Indonesia juga telah mengalami perubahan yang positif. Lebih dari 80 persen ekspor sawit Indonesia sudah berbentuk produk hilir, bukan lagi minyak mentah. Hal ini menunjukkan bahwa hilirisasi mulai memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi industri nasional,” ujar Zaid dalam kunjungan kerja bertema Exploring the Future of Sustainable Palm Oil: From Research to Plantation Excellence di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, Rabu (29/7/2026).

Apj

Menurut Zaid, industri sawit tetap menjadi salah satu penyumbang devisa terbesar Indonesia dengan nilai ekspor yang mencapai lebih dari 20 miliar dolar AS setiap tahun. Perkembangan hilirisasi juga telah mendorong pemanfaatan sawit di berbagai sektor industri.

Di sektor pangan dan farmasi, minyak sawit diolah menjadi beragam produk seperti margarin, minyak goreng, roti, serta vitamin A dan vitamin E. Sementara di sektor oleokimia, sawit menjadi bahan baku sabun, detergen, kosmetik, produk rias, hingga skincare.

Pemanfaatan sawit juga berkembang di sektor energi melalui produksi biodiesel, avtur berbasis sawit, dan bensin sawit. Adapun limbah sawit dimanfaatkan sebagai biomassa untuk menghasilkan pakan ternak, kerajinan, hingga bioetanol.

Selain meningkatkan nilai ekspor, Zaid menilai industri sawit memiliki peran besar dalam perekonomian daerah. Berdasarkan data BPDP, sekitar 41 persen perkebunan kelapa sawit nasional dikelola oleh masyarakat.

“Kalau kita lihat dari ujung Sumatra sampai ke timur, itu ada semua. Dari Sumatra Utara, Aceh, Jambi, Riau, Palembang, Kalimantan, Sulawesi, itu ada semua,” katanya.

Apj

BPDP juga mencatat industri sawit menyerap sekitar 16,5 juta tenaga kerja. Sebanyak 9,7 juta orang bekerja secara langsung di sektor perkebunan, terdiri atas 5,2 juta tenaga kerja di perkebunan rakyat dan 4,5 juta karyawan perusahaan perkebunan. Sementara sekitar 8 juta tenaga kerja lainnya terserap secara tidak langsung pada sektor pendukung, mulai dari jasa angkutan tandan buah segar (TBS) dan CPO, penyedia pupuk serta alat perkebunan, hingga berbagai layanan penunjang industri.

“Di berbagai daerah sentra sawit, kehadiran industri ini menjadi pendorong pembangunan infrastruktur, tumbuhnya pusat-pusat ekonomi baru, berkembangnya UMKM, hingga meningkatnya produk domestik regional bruto dan pendapatan regional bruto Indonesia,” ujar Zaid.

Tags:

Hilirisasi

Berita Sebelumnya
Gubernur Kaltara Dorong Koperasi Sawit Rakyat Berbenah, Soroti Tata Kelola hingga Digitalisasi

Gubernur Kaltara Dorong Koperasi Sawit Rakyat Berbenah, Soroti Tata Kelola hingga Digitalisasi

Gubernur Kalimantan Utara Zainal A. Paliwang menilai penguatan koperasi kelapa sawit rakyat menjadi salah satu prasyarat untuk meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus memperkuat daya saing industri sawit di daerah.

29 Juli 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *