KONSULTASI
Logo

Maret 2026, GAPKI Akan Lepas Serangga Penyerbuk

26 Januari 2026
AuthorIbnu
EditorIbnu
Maret 2026, GAPKI Akan Lepas Serangga Penyerbuk
HOT NEWS

sawitsetara.co – JAKARTA – Perusahaan perkebunan kelapa sawit komit untuk tidak membuka lahan baru lagi. Meski begitu perusahaan komi untuk meningkatkan produksi nasional kelapa sawit untuk mewujudkan swasembada pangan dan energi sesuai dengan Asta Cita Presiden Prabowo. Salah satu cara untuk meningkatkan produk nasional yakni dengan meningkatkan produktivitas kebun yang sudah ada, salah satunya yakni dengan melepas serangga penyerbuk.

Hal inilah yang akan dilakukan oleh perusahaan yang tergabung dalam Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit (GAPKI) yang akan melepaskan serangga penyerbuk jenis baru untuk meningkatkan produksi sawit. Pelepasannya dijadwalkan pada Maret 2026.

Serangga penyerbuk yang ada saat ini sudah lama dan kurang agresif untuk melakukan penyerbukan, terutama saat musim hujan.

Karena itu, GAPKI bekerja sama dengan Kementerian Pertanian (Kementan) dan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) untuk mendatangkan serangga penyerbuk baru serta bahan tanaman dari Tanzania , sebagai bagian dari upaya intensifikasi produksi sawit.

“Nah ini kita cari yang agresif, yang hujan pun mereka mau keluar untuk melakukan penyerbukan. Mudah-mudahan nanti di bulan depan ini, bulan Maret kita akan luncurkan untuk jenis serangga penyerbuk baru,” ujar Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono.


Sawit Setara Default Ad Banner

Industri sawit menghadapi stagnansi produksi selama lima tahun terakhir. Salah satu tantangannya adalah 41 persen kebun sawit Indonesia dimiliki petani rakyat, banyak di antaranya tanaman sudah tua dan tidak produktif.

Menurut Eddy, sebagian petani belum menyadari pentingnya menabung hasil panen untuk replanting (peremajaan). Akibatnya, dana panen sering habis untuk kebutuhan lain, sehingga proses peremajaan kebun berjalan lambat.

Dukungan dari BPDP untuk replanting sebenarnya tersedia, namun seringkali tidak mencapai target. Salah satu kendalanya adalah masalah lahan, termasuk kebun yang masuk kawasan hutan.

Eddy menceritakan pengalamannya saat program PIR Trans di Riau. Banyak petani yang ingin melakukan sertifikasi dan replanting tidak bisa mengakses dana BPDP karena kebunnya masuk dalam kawasan hutan

“Areal mereka yang 2 hektar ini masuk dalam kawasan hutan. Padahal mereka sudah sertifikasi tahun 80, waktu itu PIR Trans tuh di, waktu itu 86 oleh Presiden Soeharto itu. Mereka sudah sertifikat, masuk kawasan,” jelas Eddy.


Sawit Setara Default Ad Banner

Selain itu, petani sering enggan menebang pohon sawit tua karena mereka membutuhkan jaminan hidup selama menunggu tanaman baru berbuah.

“Sekarang lebih cepat, 3 tahun sudah bagus, 2,5 tahun sudah berbuah, 3 tahun sudah menghasilkan yang luar biasa dengan bibit-bibit yang saat ini ada,” kata dia.

Tantangan lain bagi industri sawit datang dari kebijakan Uni Eropa, yaitu European Union Deforestation Regulation (EUDR), yang mewajibkan produk yang masuk ke pasar Eropa bebas dari deforestasi.

“Ini juga menjadi tantangan. Kita sedang berjuang ya, pemerintah berjuang, asosiasi berjuang, petani berjuang untuk melawan itu,” ujar Eddy.

Eddy menilai kebijakan itu semata-mata merupakan strategi dagang karena minyak sawit Indonesia memiliki efisiensi jauh lebih tinggi dibanding minyak nabati lain. Satu hektare sawit bisa menghasilkan rata-rata 4–5 ton minyak, bahkan sampai 7–8 ton per tahun, sementara rapeseed, sunflower, atau soybean hanya menghasilkan sekitar 1 ton per hektar per tahun.


Sawit Setara Default Ad Banner

Berita Sebelumnya
Kiat Petani Sawit Kalbar Deteksi Dini Kumbang Tanduk Ganoderma di Kebun

Kiat Petani Sawit Kalbar Deteksi Dini Kumbang Tanduk Ganoderma di Kebun

Petani kelapa sawit di Kalimantan Barat (Kalbar) mulai mengandalkan cara sederhana untuk menjaga kebun mereka dari ancaman hama dan penyakit mematikan.

24 Januari 2026 | Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *