KONSULTASI
Logo

Mentan: Hilirisasi CPO Berpotensi Dongkrak Nilai Ekonomi hingga Rp10.000 Triliun

3 Juli 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorHendrik Khoirul
Mentan: Hilirisasi CPO Berpotensi Dongkrak Nilai Ekonomi hingga Rp10.000 Triliun


sawitsetara.co - JAKARTA – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebut hilirisasi minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) menjadi salah satu kunci untuk meningkatkan nilai tambah komoditas Indonesia. Menurut dia, pengolahan CPO di dalam negeri dapat melipatgandakan nilai ekspor hingga mencapai Rp10.000 triliun.

Amran mengatakan nilai ekspor CPO saat ini berkisar Rp1.000 triliun. Namun, jika seluruh produksi diolah menjadi produk hilir sebelum diekspor, nilai ekonominya diperkirakan meningkat hingga sepuluh kali lipat.

“Kali 10 saja kita hilirisasi CPO semua, itu bisa menghasilkan kali 10, Rp10.000 triliun CPO saja. Belum termasuk dalam negeri, hanya ekspor,” ujar Amran dalam acara Pemilihan Ketua Umum Persatuan Wredatama (PWRI) Pertanian Masa Bhakti 2026–2031 di Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Selasa (30/6).

Sawit Setara Default Ad Banner

Menurut Amran, pengembangan industri hilir sawit bukan hanya meningkatkan nilai tambah bagi Indonesia, tetapi juga mengubah posisi Indonesia dalam rantai pasok global. Selama ini, kata dia, banyak negara memperoleh nilai ekonomi lebih besar dengan mengolah bahan baku sawit yang berasal dari Indonesia.

Ia menilai posisi Indonesia sebagai produsen CPO terbesar di dunia menjadi modal penting untuk memperkuat perekonomian nasional.

“Ini senjata yang paling bagus untuk ekonomi untuk dunia. Baru CPO kita pegang dan kita nomor satu dunia,” ujarnya.

Amran menyebut potensi hilirisasi tidak hanya berasal dari sawit. Menurut dia, jika pengolahan komoditas unggulan seperti CPO, kelapa, dan gambir dilakukan secara menyeluruh di dalam negeri, nilai tambah yang dihasilkan dapat mencapai Rp35.000 triliun.

“Itu baru sawit, kelapa dengan gambir, Rp35.000 triliun. Itu sama dengan 10 tahun APBN. Itu mimpi besar Bapak Presiden,” ujarnya.

Sawit Setara Default Ad Banner

Ia mengatakan strategi hilirisasi bertujuan menghentikan praktik ekspor bahan mentah dan menggantinya dengan ekspor produk bernilai tambah tinggi. Langkah tersebut, menurut Amran, akan memperkuat daya saing Indonesia di pasar global sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Pada komoditas kelapa, Amran melihat peluang besar seiring meningkatnya permintaan dunia terhadap produk berbasis kelapa, seperti coconut milk dan virgin coconut oil (VCO). Menurut dia, pengolahan kelapa di dalam negeri dapat meningkatkan nilai ekonominya hingga seratus kali lipat.

“Kalau kita olah naik 100 kali lipat. Ini baru satu belum yang lain di bawah. Kalau Rp24 triliun dikali 100 itu Rp2.400 triliun,” ujarnya.

Sawit Setara Default Ad Banner

Selain produk utama, Amran menilai berbagai produk turunan air kelapa juga masih memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Ia mengatakan Indonesia seharusnya mampu menjadi pemain utama karena merupakan salah satu produsen kelapa terbesar di dunia.

Amran juga menyoroti potensi hilirisasi gambir. Menurut dia, Indonesia menguasai sekitar 80 persen produksi gambir dunia, sementara produk turunannya seperti tinta, sabun, dan sampo memiliki nilai ekonomi yang jauh lebih tinggi dibandingkan bahan mentah.

Ia mengatakan teknologi pengolahan komoditas tersebut telah tersedia di dalam negeri. Pemerintah pun mulai membangun sejumlah fasilitas hilirisasi di beberapa daerah, antara lain Maluku Utara, Morowali, dan Riau.

Menurut Amran, minat investor terhadap proyek hilirisasi juga terus meningkat. Banyak pihak, kata dia, mulai menjajaki peluang investasi di sektor tersebut.

“Kalau itu terjadi, itu kita goyangkan, kita getarkan dunia. Bukan Asia Tenggara, dunia akan bergetar karena kita berada di garis khatulistiwa,” ujar Amran.


Berita Sebelumnya
B50 Resmi Berlaku, Pakar Pastikan Aman untuk Mesin Diesel dan Emisi Lebih Ramah Lingkungan

B50 Resmi Berlaku, Pakar Pastikan Aman untuk Mesin Diesel dan Emisi Lebih Ramah Lingkungan

Seiring dimulainya implementasi tersebut, masyarakat, khususnya pemilik kendaraan diesel, tidak perlu khawatir terhadap dampak penggunaan B50 terhadap mesin kendaraan. Pakar otomotif sekaligus peneliti Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, memastikan bahwa peralihan dari B40 ke B50 tidak akan menimbulkan perubahan signifikan pada kendaraan yang selama ini telah menggunakan biodiesel.

2 Juli 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *