
sawitsetara.co – BANGKOK — Industri kelapa sawit Malaysia perlu menyeimbangkan tuntutan keberlanjutan dengan profitabilitas dan pertumbuhan jangka panjang. Asosiasi Minyak Sawit Malaysia (MPOA) menilai, peningkatan biaya kepatuhan terhadap standar keberlanjutan tidak boleh membebani pekebun kecil secara berlebihan.
Chief Executive Officer MPOA Roslin Azmy Hassan mengatakan, keberlanjutan dan profitabilitas merupakan dua aspek yang saling bergantung. Praktik produksi berkelanjutan harus memberikan manfaat ekonomi bagi produsen agar dapat diterapkan dalam jangka panjang.
“Industri yang paling berkelanjutan adalah industri yang sudah kita miliki, jika kita dapat membuatnya lebih produktif,” kata Roslin dalam seminar Plantation 360: Mobilising Private Capital for More and Better Jobs di Bangkok, Selasa (13/10/2026).
Seminar tersebut diselenggarakan bersama oleh Dewan Negara-Negara Produsen Minyak Sawit (CPOPC) dan Kantor Direktur Eksekutif untuk Kelompok Pemungutan Suara Asia Tenggara (EDSI 6) Grup Bank Dunia. Kegiatan ini berlangsung di sela-sela Pertemuan Tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Grup Bank Dunia 2026.
Roslin menyoroti meningkatnya tuntutan sertifikasi, ketertelusuran produk, pengurangan emisi gas rumah kaca, perlindungan keanekaragaman hayati, serta uji tuntas rantai pasok.
Menurut dia, berbagai persyaratan tersebut penting untuk mempertahankan akses pasar sekaligus menjaga kepercayaan investor dan konsumen. Namun, peningkatan biaya kepatuhan belum tentu diikuti kenaikan produktivitas atau penciptaan nilai ekonomi.
Karena itu, industri sawit perlu memastikan penerapan standar keberlanjutan berjalan seiring dengan peningkatan efisiensi dan pendapatan produsen.
Produktivitas Jadi Prioritas
Roslin menguraikan lima prioritas untuk menyeimbangkan keberlanjutan dengan kinerja ekonomi industri sawit.
Pertama, meningkatkan produktivitas tanpa memperluas lahan perkebunan. Upaya ini dapat dilakukan melalui peremajaan tanaman kelapa sawit tua, penggunaan bahan tanam yang lebih baik, serta penerapan praktik agronomi yang lebih optimal.
Industri juga perlu memperluas penggunaan mekanisasi, otomatisasi, dan teknologi digital. Langkah tersebut diharapkan meningkatkan efisiensi produksi sekaligus memperkuat daya saing perkebunan.
Kedua, memperkuat dukungan bagi pekebun kecil agar mampu memenuhi persyaratan keberlanjutan.
Malaysia memiliki sekitar 450.000 pekebun kecil yang mengelola hampir sepertiga dari total luas perkebunan kelapa sawit negara tersebut. Kelompok ini menghadapi keterbatasan akses terhadap pembiayaan, teknologi, dan tenaga kerja.
Roslin menilai, keterbatasan tersebut membuat pekebun kecil membutuhkan dukungan lebih besar untuk menjalankan peremajaan tanaman dan meningkatkan standar pengelolaan perkebunan.
“Pemerintah, lembaga keuangan, bank pembangunan, dan sektor swasta harus menyediakan pembiayaan inovatif, termasuk pinjaman berbunga ringan dan jaminan, untuk mendukung peremajaan, adopsi teknologi, serta peningkatan keberlanjutan,” ujarnya.
Skema pembiayaan tersebut diharapkan membantu pekebun memenuhi persyaratan pasar tanpa kehilangan kemampuan untuk mempertahankan usaha mereka.
Investasi Hijau dan Hilirisasi
Prioritas berikutnya adalah memperlakukan keberlanjutan sebagai investasi, bukan sekadar biaya tambahan bagi perusahaan dan pekebun.
Roslin mendorong pendanaan untuk energi terbarukan, penangkapan metana, pemanfaatan biomassa, digitalisasi, dan adaptasi iklim.
Menurut dia, investasi tersebut dapat membantu menekan emisi sekaligus meningkatkan efisiensi dan profitabilitas industri sawit.
Selain memperbaiki proses produksi, industri juga perlu meningkatkan nilai tambah dari setiap ton minyak sawit yang dihasilkan.
Upaya tersebut dapat dilakukan melalui pengembangan produk hilir, seperti oleokimia, energi terbarukan, biogas, dan pupuk hayati.
Limbah pertanian juga perlu dimanfaatkan sebagai sumber pendapatan tambahan. Dengan demikian, industri tidak hanya bergantung pada penjualan produk utama, tetapi juga dapat menciptakan nilai ekonomi dari hasil samping pengolahan sawit.
Roslin menambahkan, kolaborasi yang lebih kuat di sepanjang rantai pasok diperlukan agar standar keberlanjutan menghasilkan manfaat lingkungan dan sosial yang nyata.
Penerapan standar tersebut, kata dia, juga harus mempertimbangkan kondisi dan tantangan yang dihadapi negara-negara produsen.
“Kita tidak seharusnya memilih antara keberlanjutan, profitabilitas, dan pertumbuhan. Kita membutuhkan ketiganya,” ujar Roslin.
Malaysia merupakan produsen minyak sawit terbesar kedua di dunia setelah Indonesia. Negara tersebut menyumbang sekitar 24–26 persen produksi minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) global.
Luas perkebunan kelapa sawit Malaysia mencapai sekitar 5,6–5,8 juta hektare.
Besarnya kontribusi tersebut membuat keseimbangan antara produktivitas, keberlanjutan, dan profitabilitas menjadi penting bagi masa depan industri sawit Malaysia.
Tantangan utamanya bukan hanya memenuhi persyaratan lingkungan dan rantai pasok, tetapi juga memastikan bahwa penerapannya memberikan manfaat ekonomi bagi seluruh pelaku usaha, termasuk pekebun kecil.
Tags:


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *