
sawitsetara.co - SUBULUSSALAM – Panen perdana kebun sawit yang dikelola dayah di kawasan Rikit, Kampong Singgersing, Kecamatan Sultan Daulat, menjadi penanda arah baru pembangunan sosial-ekonomi di Kota Subulussalam. Pemerintah kota mulai mendorong kemandirian ekonomi lembaga pendidikan keagamaan melalui pengelolaan lahan produktif.
Wali Kota Subulussalam H.M. Rasyid yang meresmikan sekaligus memanen sawit perdana, Selasa (30/12/2025), menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan tidak diukur dari lamanya masa jabatan, melainkan dari manfaat nyata yang dirasakan masyarakat.
“Jabatan itu sebentar, tak lama, namun karya atau hasil kerja yang baik akan dikenang selamanya dan ada nilai jariahnya,” kata H.M. Rasyid dalam sambutannya.

Menurutnya, kebun sawit dayah bukan sekadar program bantuan, tetapi instrumen jangka panjang agar dayah dan santri memiliki sumber ekonomi yang berkelanjutan. Dengan demikian, ketergantungan terhadap bantuan eksternal dapat dikurangi.
Dalam pidatonya, Wali Kota juga mengaitkan program tersebut dengan jejak kepemimpinan pendahulunya, almarhum H. Merah Sakti, yang semasa menjabat pernah memberikan bantuan bibit sawit kepada dayah di Subulussalam.
“Bagi dayah yang berhasil, bantuan itu sangat bermanfaat. Meskipun beliau telah tiada, kebaikan itu akan terus dikenang sepanjang masa,” ujarnya.
H.M. Rasyid menilai, warisan kebijakan yang menyentuh langsung kebutuhan umat merupakan bentuk amal jariah yang nilainya melampaui masa jabatan.

Program bantuan lahan untuk dayah, lanjutnya, akan terus berlanjut pada tahun-tahun mendatang. Pemerintah Kota Subulussalam menggandeng Gugus Tugas Reforma Agraria (GTRA) untuk memastikan penyaluran lahan tepat sasaran.
“Melalui GTRA, kami akan memverifikasi dayah yang akan dibantu pemerintah, termasuk warga yang miskin ekstrem. Program ini sangat membantu dayah dan para santri,” tegasnya.
Namun, Wali Kota menekankan bahwa kebijakan tersebut dijalankan secara selektif dan berkeadilan. “Dayah Darurrahmah Sepadan tidak termasuk dayah yang dapat bantuan,” ujarnya, sembari menyinggung kisah anak khalifah Umar bin Khattab sebagai pelajaran tentang integritas dan keadilan dalam kepemimpinan.
Ia pun meminta agar dayah penerima bantuan tidak menyia-nyiakan kepercayaan pemerintah dengan mengelola lahan secara serius dan produktif. Dari pihak penerima manfaat, Pimpinan Dayah Hidayatullah, H. Qaharudin, menyatakan rasa syukur atas realisasi program tersebut.
“Ini karunia Allah. Belum genap satu tahun, Wali Kota telah memenuhi janjinya,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, pengelolaan kebun sawit tidak akan dilakukan secara individual. Berdasarkan komunikasi dengan pimpinan Dayah Al Mansyuriyah dan rencana koordinasi dengan dayah lainnya, kebun tersebut akan dikelola bersama.
“Lahan ini rencananya akan dikelola bersama dan hasilnya pun akan dibagi sama,” katanya.
Panen sawit perdana dilakukan secara simbolis oleh pimpinan enam dayah atau perwakilannya bersama Wali Kota Subulussalam, Kapolres, serta perwakilan Badan Pertanahan Nasional (BPN).
Enam dayah yang terlibat dalam program ini meliputi Dayah Hidayatullah, Darul Muhyi, Al Mansyuriyah, Nurul Mujtaba, Mu’jizatul Qur’an Al Hasani Al Syafii, dan Dayah Subulurrahmah. Pada kesempatan yang sama, para pimpinan dayah atau perwakilannya mengikuti pengundian lokasi lahan dengan pendampingan tim GTRA Kota Subulussalam.
Melalui program ini, Pemerintah Kota Subulussalam berharap dayah tidak hanya berfungsi sebagai pusat pendidikan keagamaan, tetapi juga mampu menjadi basis penguatan ekonomi umat dan kemandirian santri di masa depan.



Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *