
sawitsetara.co - JAKARTA – Pasokan minyak sawit berkelanjutan bersertifikat Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) dinilai memiliki ruang pertumbuhan yang masih besar di pasar dunia. Meski penjualan Certified Sustainable Palm Oil (CSPO) pada 2025 baru mencapai 16,2 juta metrik ton atau sekitar 20 persen dari total pasokan minyak sawit global, kapasitas produksi anggota RSPO menunjukkan potensi yang hampir dua kali lipat.
Laporan RSPO Impact Report 2026 mencatat produsen anggota RSPO kini memiliki kapasitas produksi CSPO sebesar 31,4 juta metrik ton. Seiring bertambahnya perkebunan yang memperoleh sertifikasi sesuai Standar RSPO, pasokan minyak sawit berkelanjutan diproyeksikan dapat mencapai hampir 40 persen dari pasokan minyak sawit global.
Potensi tersebut terlihat di berbagai kawasan. Di Amerika Latin, anggota RSPO menyumbang hampir 75 persen produksi minyak sawit regional. Dari jumlah itu, sebanyak 29,3 persen telah mengantongi sertifikasi RSPO pada 2024. Sementara di Afrika, pasokan CSPO meningkat tajam hingga 46,23 persen.
CEO RSPO Joseph D’Cruz mengatakan kapasitas produksi anggota organisasi tersebut menunjukkan bahwa tantangan saat ini bukan lagi memastikan minyak sawit berkelanjutan dapat diproduksi, melainkan memperluas penerapannya di pasar global.
“Dengan kapasitas anggota produsen kami yang mampu memasok hampir 40% dari permintaan global, kita tidak lagi mempertanyakan apakah minyak sawit berkelanjutan dapat diwujudkan, tetapi kini berfokus memperluas penerapannya di pasar global. Laporan ini menunjukkan bahwa minyak sawit berkelanjutan memberikan dampak yang terukur dan bernilai,” ujar Joseph D’Cruz dalam siaran pers, Selasa (6/8/2026).
Laporan itu juga menunjukkan jumlah anggota RSPO terus bertambah. Hingga kini terdapat 6.280 anggota yang tersebar di 103 negara dan wilayah. Pertumbuhan keanggotaan terbesar berasal dari Tiongkok, Indonesia, dan Jepang, mencerminkan meningkatnya perhatian negara-negara konsumen utama terhadap minyak sawit berkelanjutan.
Selain perkembangan pasar, RSPO melaporkan peningkatan upaya perlindungan lingkungan. Anggota organisasi tersebut kini melestarikan dan melindungi 551.637 hektare kawasan penting. Berbeda dengan laporan sebelumnya yang hanya menghitung kawasan Bernilai Konservasi Tinggi (High Conservation Value/HCV), cakupan terbaru juga memasukkan kawasan dengan Stok Karbon Tinggi (High Carbon Stock/HCS) serta lahan gambut.
Implementasi perlindungan keanekaragaman hayati juga tercermin dari berbagai praktik di lapangan, seperti pemulihan aliran air, pembangunan koridor satwa liar, hingga perlindungan habitat di sekitar perkebunan.
Di Kalimantan Barat, misalnya, Bumitama Agri Ltd menjalankan Proyek Keanekaragaman Hayati dan Masyarakat yang berupaya memperoleh keputusan hukum untuk memberikan perlindungan resmi terhadap lebih dari 8.300 hektare kawasan konservasi.
Dari sisi mitigasi perubahan iklim, anggota RSPO terus menerapkan berbagai langkah, antara lain rehabilitasi lahan gambut serta penangkapan gas metana dari limbah cair pabrik kelapa sawit. Secara kumulatif sejak 2015, berbagai upaya tersebut telah menghindarkan emisi gas rumah kaca sebesar 2,98 juta ton setara karbon dioksida (tCO2e) per tahun. Angka itu setara dengan mengurangi sekitar 694.512 mobil dari jalan raya.
Laporan tersebut juga menyoroti dampak sosial dari sertifikasi RSPO. Sebanyak 661.219 pekerja tercatat bekerja secara langsung pada operasi yang telah bersertifikat RSPO dengan sistem yang dirancang untuk melindungi hak dan kebebasan mereka.
Sementara itu, petani kecil mandiri memperoleh pendapatan sebesar US$ 7,9 juta dari penjualan kredit keberlanjutan sepanjang 2025. Menurut RSPO, keberlanjutan manfaat tersebut bergantung pada meningkatnya permintaan global terhadap kredit agar nilainya tetap terjaga dan petani memperoleh imbalan yang layak atas praktik keberlanjutan yang mereka jalankan.
Sejak 2013, program Smallholder Training Academy (STA) dan RSPO Smallholder Support Fund (RSSF) telah memberikan manfaat kepada 44.796 petani kecil.
RSPO juga memperbarui sistem pelaporan dampaknya melalui situs RSPO Impact 2026 yang menyediakan data lebih lengkap. Jika laporan cetak menyajikan ringkasan capaian tahunan, platform digital tersebut menghadirkan tren lintas tahun, indikator tambahan, serta informasi pendukung bagi anggota, mitra, media, dan pemangku kepentingan yang ingin memperoleh gambaran lebih mendalam mengenai perkembangan sektor minyak sawit berkelanjutan.
Tags:


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *