
sawitsetara.co - PEKANBARU — Provinsi Riau dinilai memiliki peluang besar mengembangkan integrasi perkebunan dan peternakan, seiring luasnya areal kelapa sawit di wilayah tersebut. Dari total 16,8 juta hektare kebun sawit di Indonesia, sekitar 3,49 juta hektare atau 20,75 persen berada di Riau.
Hal itu disampaikan Sekretaris Daerah Provinsi Riau, Syahrial Abdi, dalam Welcome Dinner The 3rd Integrated Cattle and Oil Palm (ICOP) Conference 2026 di Gedung Daerah Riau, Selasa malam.
“Provinsi Riau memiliki wilayah dengan potensi sangat besar untuk pengembangan perkebunan dan peternakan,” katanya.

Menurut Syahrial, peluang ini semakin terbuka karena laju pertumbuhan penduduk mencapai 3,79 persen per tahun, jauh di atas pertumbuhan populasi sapi potong yang hanya 0,22 persen.
“Peningkatan jumlah penduduk akan mendorong terjadinya peningkatan konsumsi, termasuk produk peternak. Peningkatan konsumsi ini merupakan potensial dan peluang besar pelaku usaha untuk mengembangkan usahanya,” ujarnya.
Ia menilai, untuk memenuhi kebutuhan tersebut, diperlukan peningkatan produksi dan produktivitas ternak, terutama sapi potong. Salah satu solusi yang didorong adalah integrasi antara sektor perkebunan dan peternakan.
“Adanya kolaborasi antar perkebunan dan peternakan secara integrasi diharapkan mampu menyediakan pangan asal ternak terutama daging sapi yang bagi masyarakat,” sebutnya.

Syahrial menambahkan, model Sistem Integrasi Sapi-Kelapa Sawit (SISKA) menjadi pendekatan yang menjanjikan karena memungkinkan pemanfaatan lahan perkebunan secara optimal untuk budidaya ternak.
“Pendekatan ini tidak hanya berpotensi meningkatkan produktivitas lahan, tetapi juga membuka sumber pendapatan baru bagi pelaku usaha, mendukung diversifikasi ekonomi daerah, dan berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat, sejalan dengan tujuan pembangunan pertanian yang lebih luas,” tutupnya



Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *