
sawitsetara.co - TELUK KUANTAN — Wacana penutupan pabrik kelapa sawit (PKS) tanpa kebun atau PKS komersial menuai penolakan dari kalangan petani mandiri. Kebijakan yang disebut-sebut untuk melindungi PKS konvensional ini justru dinilai berpotensi mempersempit akses pasar bagi petani kecil yang tidak terikat kemitraan.
Ketua Koperasi Perkebunan Soko Jati, Sarkawi, menyampaikan kegelisahan petani di Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau. Ia menilai kebijakan tersebut tidak berpihak pada realitas di lapangan, khususnya bagi petani mandiri.
“Ambo (saya) mendengar isu bahwa pabrik kelapa sawit tanpa kebun tak boleh beli buah sawit atau mau ditutup. Rasanya di Ambo itu sangat keliru,” ujarnya kepada sawitsetara.co, Senin (13/4/2026).

Menurut Sarkawi, keberadaan PKS tanpa kebun selama ini menjadi penopang utama bagi petani yang tidak memiliki akses ke PKS inti plasma. Tanpa opsi tersebut, petani akan kehilangan saluran penjualan yang selama ini relatif terbuka.
Ia menjelaskan bahwa petani mandiri tidak selalu dapat menjual hasil panen ke PKS berbasis kemitraan. Selain keterbatasan akses, persoalan harga juga menjadi pertimbangan utama.
“Kami dari petani kelapa sawit mandiri yang tidak bermitra dengan PKS inti plasma, hadirnya PKS tanpa kebun sangat membantu. Karena kami bisa menjual hasil kebun ke sana. Jadi kalau itu ditutup sangat susah kami rasanya,” tegasnya.

Kekhawatiran tersebut bukan tanpa alasan. Dalam praktiknya, petani mandiri kerap menghadapi posisi tawar yang lemah ketika pilihan pembeli terbatas. Ketergantungan pada PKS tertentu berpotensi menekan harga TBS di tingkat petani.
Sarkawi mengingatkan agar pemerintah tidak mengambil langkah yang justru mempersempit ruang gerak petani kecil. Ia menilai kebijakan semestinya memberi kemudahan, bukan sebaliknya.
“Jangan bertindak di luar kewajaran. Kami mohon kepada bapak-bapak pemangku kepentingan, janganlah masyarakat itu dipersulit. Berilah kemudahan,” katanya.

Jika wacana penutupan benar-benar direalisasikan, dampaknya diperkirakan langsung dirasakan petani di tingkat tapak. Salah satu kekhawatiran utama adalah hilangnya akses pasar yang selama ini menopang pendapatan mereka.
“Bingung, kami bingung. Menjual ke mana? Kalau jual ke PKS inti plasma, diterima pun mungkin di harga lebih murah,” ungkap Sarkawi.
Di tengah narasi bahwa PKS tanpa kebun dianggap mengganggu PKS konvensional, suara petani seperti Sarkawi menunjukkan sisi lain dari persoalan tersebut. Bagi petani mandiri, keberadaan PKS komersial bukan ancaman, melainkan penyeimbang.
Tags:



Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *