KONSULTASI
Logo

Petani Mandiri di Kuansing Tolak Wacana Penutupan PKS Tanpa Kebun: “Kami Mau Jual ke Mana?”

15 April 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorDwi Fatimah
Petani Mandiri di Kuansing Tolak Wacana Penutupan PKS Tanpa Kebun: “Kami Mau Jual ke Mana?”
HOT NEWS

sawitsetara.co - TELUK KUANTAN — Wacana penutupan pabrik kelapa sawit (PKS) tanpa kebun atau PKS komersial menuai penolakan dari kalangan petani mandiri. Kebijakan yang disebut-sebut untuk melindungi PKS konvensional ini justru dinilai berpotensi mempersempit akses pasar bagi petani kecil yang tidak terikat kemitraan.

Ketua Koperasi Perkebunan Soko Jati, Sarkawi, menyampaikan kegelisahan petani di Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau. Ia menilai kebijakan tersebut tidak berpihak pada realitas di lapangan, khususnya bagi petani mandiri.

“Ambo (saya) mendengar isu bahwa pabrik kelapa sawit tanpa kebun tak boleh beli buah sawit atau mau ditutup. Rasanya di Ambo itu sangat keliru,” ujarnya kepada sawitsetara.co, Senin (13/4/2026).

Sawit Setara Default Ad Banner

Menurut Sarkawi, keberadaan PKS tanpa kebun selama ini menjadi penopang utama bagi petani yang tidak memiliki akses ke PKS inti plasma. Tanpa opsi tersebut, petani akan kehilangan saluran penjualan yang selama ini relatif terbuka.

Ia menjelaskan bahwa petani mandiri tidak selalu dapat menjual hasil panen ke PKS berbasis kemitraan. Selain keterbatasan akses, persoalan harga juga menjadi pertimbangan utama.

“Kami dari petani kelapa sawit mandiri yang tidak bermitra dengan PKS inti plasma, hadirnya PKS tanpa kebun sangat membantu. Karena kami bisa menjual hasil kebun ke sana. Jadi kalau itu ditutup sangat susah kami rasanya,” tegasnya.

Sawit Setara Default Ad Banner

Kekhawatiran tersebut bukan tanpa alasan. Dalam praktiknya, petani mandiri kerap menghadapi posisi tawar yang lemah ketika pilihan pembeli terbatas. Ketergantungan pada PKS tertentu berpotensi menekan harga TBS di tingkat petani.

Sarkawi mengingatkan agar pemerintah tidak mengambil langkah yang justru mempersempit ruang gerak petani kecil. Ia menilai kebijakan semestinya memberi kemudahan, bukan sebaliknya.

“Jangan bertindak di luar kewajaran. Kami mohon kepada bapak-bapak pemangku kepentingan, janganlah masyarakat itu dipersulit. Berilah kemudahan,” katanya.

Sawit Setara Default Ad Banner

Jika wacana penutupan benar-benar direalisasikan, dampaknya diperkirakan langsung dirasakan petani di tingkat tapak. Salah satu kekhawatiran utama adalah hilangnya akses pasar yang selama ini menopang pendapatan mereka.

“Bingung, kami bingung. Menjual ke mana? Kalau jual ke PKS inti plasma, diterima pun mungkin di harga lebih murah,” ungkap Sarkawi.

Di tengah narasi bahwa PKS tanpa kebun dianggap mengganggu PKS konvensional, suara petani seperti Sarkawi menunjukkan sisi lain dari persoalan tersebut. Bagi petani mandiri, keberadaan PKS komersial bukan ancaman, melainkan penyeimbang.

Tags:

PKS Tanpa Kebun

Berita Sebelumnya
Business Matching Produk UMKM Kelapa Sawit Dorong Keberlanjutan Industri Sawit, Libatkan Ratusan Pelaku Usaha

Business Matching Produk UMKM Kelapa Sawit Dorong Keberlanjutan Industri Sawit, Libatkan Ratusan Pelaku Usaha

Acara ini menjadi bagian dari upaya mendorong pemberdayaan UMKM kelapa sawit, khususnya dalam memperluas akses pasar dan kemitraan usaha. Juga, hilirisasi kelapa sawit inklusif pro petani sawit.

14 April 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *