
sawitsetara.co - JAKARTA — Penggagas dan fasilitator pendirian Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) tahun 2000, Prof. Agus Pakpahan, mendorong lahirnya koperasi petani kelapa sawit berbasis konsep “Koperasi Kuantum” sebagai solusi untuk memperkuat posisi tawar petani swadaya di tengah berbagai persoalan tata niaga sawit nasional.
Dalam tulisan bertajuk Dari Medan Kesadaran Karet ke Medan Kesadaran Sawit: Membangun Koperasi Kuantum Petani Kelapa Sawit, Prof. Agus mengajak petani sawit belajar dari keberhasilan Credit Union Keling Kumang (CUKK) yang berawal dari kelompok kecil petani karet di Tapang Sambas, Kalimantan Barat, pada 1993.
Menurutnya, keberhasilan CUKK tidak lahir dari modal besar, melainkan dari kesadaran kolektif petani yang menghadapi persoalan ekonomi serupa dengan yang saat ini dialami petani sawit swadaya.
“Di ruang 4×4 meter di Tapang Sambas, 12 orang berkumpul dengan kegelisahan yang sama: harga karet jatuh ke Rp600/kg, sementara biaya produksi mencapai Rp400/kg. Dari kegelisahan itu lahir Medan Kesadaran baru: ‘Mengapa kita tidak membuat koperasi sendiri?’” kata Prof. Agus dalam tulisannya kepada sawitsetara.co, Selasa (23/6/2026).
Ia menjelaskan, modal awal sebesar Rp291.000 yang dikumpulkan para petani saat itu bukan sekadar uang, melainkan simbol kepercayaan yang menjadi fondasi koperasi. Tiga dekade kemudian, aset CUKK disebut telah mendekati Rp3 triliun dengan sekitar 300.000 anggota.
Prof. Agus menilai kondisi petani sawit saat ini menunjukkan gejala yang hampir sama. Berdasarkan data APKASINDO, harga tandan buah segar (TBS) sawit petani swadaya pada Mei 2026 berada di kisaran Rp1.800-Rp2.200 per kilogram, sementara harga petani plasma mencapai Rp3.600 per kilogram.
Ia menyoroti disparitas harga yang mencapai Rp1.800 per kilogram atau hampir 100 persen antara petani plasma dan petani swadaya.
“Krisis harga TBS, ketergantungan pada pengumpul, dan ketidakpastian pasar sedang menciptakan medan kesadaran baru di kalangan petani sawit swadaya,” ujarnya.
Menurut Prof. Agus, persoalan tersebut semakin ironis karena harga minyak sawit mentah (CPO) dunia sedang menguat. Namun kenaikan tersebut belum sepenuhnya dirasakan petani di tingkat kebun.
“Ironi: Harga CPO global sedang menguat. Seharusnya harga TBS dalam negeri sekitar Rp15.800/kg. Kenyataannya hanya Rp11.000/kg. Terdapat ‘lubang hitam’ sebesar Rp4.800/kg yang hilang di rantai pasok,” katanya.
Ia juga menyoroti masih kuatnya peran “tengkulak modern” dalam rantai pasok sawit. Menurutnya, ketika harga mulai membaik di tingkat pabrik, petani belum menikmati pemulihan yang sama karena sebagian margin masih terserap di tingkat perantara.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Prof. Agus menawarkan peta jalan tiga tahap pembangunan koperasi kuantum petani sawit.
Tahap pertama adalah membangun fondasi melalui pembentukan kesadaran kolektif petani, pertemuan-pertemuan kecil di desa, transparansi keuangan, serta penguatan jaringan kepercayaan antaranggota.
“Yang harus dikerjakan bukanlah menciptakan sesuatu dari nol, tetapi menghidupkan kembali medan kesadaran kolektif melalui pertemuan, dialog, dan penyadaran bahwa mereka bisa berkoperasi,” ujarnya.
Tahap kedua difokuskan pada pembangunan kelembagaan koperasi melalui penjualan TBS secara kolektif, penyediaan sarana produksi, pendidikan anggota, pembentukan dana sosial, dan penguatan demokrasi ekonomi.
Sementara tahap ketiga diarahkan pada keberlanjutan jangka panjang melalui kaderisasi, pembangunan pusat pendidikan, pengembangan unit usaha baru, serta dokumentasi pengetahuan koperasi.
Prof. Agus menegaskan bahwa keberhasilan koperasi sawit tidak hanya diukur dari besarnya aset, melainkan dari kemampuan membangun kepercayaan, menangkap nilai tambah di sepanjang rantai pasok, dan menyiapkan generasi penerus.
“Paradigma lain itu mungkin. KKKK membuktikannya dari karet. Saatnya membuktikannya dari sawit. Dari pedalaman Kalimantan dan Sumatera, untuk Indonesia, dari Indonesia untuk dunia,” kata Prof. Agus.


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *