KONSULTASI
Logo

Harga TBS Sawit Naik pada Pekan Ke-III Juni 2026, Kesenjangan Plasma dan Swadaya Masih Jadi Sorotan

24 Juni 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorDwi Fatimah
Harga TBS Sawit Naik pada Pekan Ke-III Juni 2026, Kesenjangan Plasma dan Swadaya Masih Jadi Sorotan

sawitsetara.co - PEKANBARU – Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit pada pekan ketiga Juni 2026 menunjukkan tren positif. Berdasarkan Laporan Harga TBS Kelapa Sawit Periode 15–21 Juni 2026 yang APKASINDO di laman hargasawitindonesia.id, rata-rata harga TBS naik dibanding pekan sebelumnya. Meski demikian, disparitas harga plasma dan swadaya masih menjadi persoalan utama yang memerlukan perhatian serius dari seluruh pemangku kepentingan industri sawit nasional.

Laporan yang mencakup data riil dari 22 provinsi sentra perkebunan sawit di Indonesia tersebut menunjukkan bahwa rata-rata harga TBS skema plasma mencapai Rp3.408 per kilogram atau naik Rp33 per kilogram dibandingkan pekan sebelumnya. Sementara itu, harga TBS petani swadaya berada di level Rp2.917 per kilogram atau meningkat Rp28 per kilogram.

Kenaikan harga ini memberikan sinyal positif bagi petani sawit setelah beberapa pekan sebelumnya pasar bergerak relatif terbatas. Dari total 22 provinsi yang diamati, harga TBS plasma mengalami kenaikan di sembilan provinsi, turun di lima provinsi, dan stabil di delapan provinsi. Pada skema swadaya, harga meningkat di sepuluh provinsi, turun di sembilan provinsi, dan stabil di tiga provinsi.

Secara nasional, harga TBS swadaya rata-rata tercatat lebih rendah Rp491 per kilogram atau sekitar 16,8 persen dibandingkan harga plasma. Dari 22 provinsi yang memiliki data lengkap, sebanyak 21 provinsi menunjukkan harga plasma lebih tinggi dibandingkan harga swadaya.

Kondisi ini mencerminkan masih lemahnya posisi tawar petani swadaya dalam rantai pasok industri sawit. Berbeda dengan petani plasma yang memiliki hubungan kemitraan dengan perusahaan inti dan memperoleh akses pasar yang lebih terjamin, petani swadaya masih menghadapi berbagai tantangan mulai dari akses pembeli, kualitas buah, hingga mekanisme penentuan harga di tingkat lapangan.

Sawit Setara Default Ad Banner

Provinsi Sumatera Utara kembali menjadi daerah dengan harga TBS plasma tertinggi di Indonesia. Pada periode ini, harga TBS plasma di provinsi tersebut mencapai Rp3.879 per kilogram atau naik 4,3 persen dibandingkan pekan sebelumnya. Posisi berikutnya ditempati Sumatera Barat dengan harga Rp3.789 per kilogram dan Riau sebesar Rp3.785 per kilogram.

Untuk kategori petani swadaya, Riau menjadi provinsi dengan harga tertinggi, yakni Rp3.330 per kilogram. Capaian ini memperlihatkan bahwa ekosistem perkebunan sawit di Riau masih mampu memberikan nilai jual yang relatif lebih baik bagi petani mandiri dibandingkan banyak daerah lainnya.

Di sisi lain, Papua Barat menjadi provinsi dengan harga TBS swadaya terendah, yaitu hanya Rp2.100 per kilogram. Harga tersebut terpaut jauh dari harga plasma di wilayah yang sama yang mencapai Rp3.228 per kilogram. Dengan demikian, selisih harga antara kedua skema mencapai Rp1.128 per kilogram atau menjadi yang terbesar secara nasional.

Selain Papua Barat, kesenjangan harga yang cukup lebar juga terjadi di Sumatera Utara dengan selisih Rp1.119 per kilogram dan Papua sebesar Rp1.024 per kilogram. Kondisi ini menunjukkan bahwa manfaat kenaikan harga sawit global belum sepenuhnya dirasakan secara merata oleh seluruh petani, khususnya petani swadaya.

Sebaliknya, Lampung menjadi satu-satunya provinsi yang mencatat kondisi berbeda. Harga TBS swadaya di Lampung tercatat Rp3.256 per kilogram, sedikit lebih tinggi dibandingkan harga plasma yang berada di level Rp3.242 per kilogram. Selisih positif sebesar Rp14 per kilogram tersebut menjadikan Lampung sebagai anomali yang menarik untuk ditelaah lebih lanjut terkait struktur pasar dan tata niaga sawit setempat.

Sawit Setara Default Ad Banner

Dilihat berdasarkan wilayah pulau, Sumatera masih mempertahankan posisinya sebagai kawasan dengan harga TBS tertinggi di Indonesia. Rata-rata harga plasma di wilayah ini mencapai Rp3.601 per kilogram, sedangkan rata-rata harga swadaya berada di angka Rp3.075 per kilogram.

Kalimantan berada di posisi kedua dengan rata-rata harga plasma Rp3.460 per kilogram dan harga swadaya Rp3.137 per kilogram. Menariknya, Kalimantan memiliki selisih harga plasma dan swadaya yang relatif lebih kecil dibandingkan Sumatera, yaitu hanya Rp323 per kilogram.

Wilayah Papua mencatat rata-rata harga plasma Rp3.426 per kilogram dan swadaya Rp2.350 per kilogram. Dengan selisih mencapai Rp1.076 per kilogram, Papua menjadi wilayah dengan kesenjangan harga terbesar antara petani plasma dan swadaya.

Sementara itu, Sulawesi mencatat rata-rata harga plasma Rp3.133 per kilogram dan harga swadaya Rp2.715 per kilogram. Adapun Jawa yang dalam laporan hanya diwakili Provinsi Banten memiliki rata-rata harga plasma Rp2.751 per kilogram dan swadaya Rp2.534 per kilogram, menjadikannya wilayah dengan harga TBS terendah secara nasional.

Selain memantau perkembangan harga di tingkat petani, laporan APKASINDO juga membandingkan harga TBS domestik dengan nilai wajar berdasarkan perkembangan harga minyak sawit mentah (CPO) dunia. Pada periode yang sama, harga CPO Indonesia tercatat sekitar Rp15.600 per kilogram, harga CPO Malaysia mencapai Rp19.832 per kilogram, sedangkan harga CPO CIF Rotterdam berada pada level Rp28.462 per kilogram.

Sawit Setara Default Ad Banner

Dengan menggunakan acuan harga CPO dunia, rendemen sebesar 21 persen, dan indeks K sebesar 85 persen, nilai wajar TBS diperkirakan mencapai Rp5.080 per kilogram. Jika dibandingkan dengan harga aktual di tingkat petani, maka harga plasma saat ini masih berada 32,9 persen di bawah nilai wajar. Kondisi pada petani swadaya bahkan lebih jauh tertinggal, yakni sekitar 42,6 persen di bawah nilai wajar.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa petani sawit nasional masih belum menikmati nilai ekonomi yang optimal dari tingginya harga minyak sawit di pasar global. Oleh karena itu, APKASINDO menilai upaya penguatan posisi tawar petani, khususnya petani swadaya, perlu terus didorong melalui perbaikan tata niaga, peningkatan akses kelembagaan ekonomi petani, serta penguatan kemitraan yang berkeadilan.

Dari sisi prospek pasar, laporan APKASINDO memperkirakan tren harga TBS nasional masih berpotensi bergerak positif dalam empat minggu ke depan. Harga TBS plasma diproyeksikan berada pada kisaran Rp3.431–Rp3.442 per kilogram, sedangkan harga swadaya diperkirakan bergerak pada rentang Rp2.525–Rp2.648 per kilogram.

Secara keseluruhan, tren harga sawit nasional pada pertengahan Juni 2026 memberikan harapan bagi petani karena menunjukkan arah perbaikan. Namun demikian, pekerjaan besar masih menanti, terutama dalam memperkecil kesenjangan harga antara petani plasma dan petani swadaya. Tanpa perbaikan struktur pasar dan peningkatan posisi tawar petani mandiri, manfaat kenaikan harga sawit berisiko hanya dinikmati sebagian pelaku usaha, sementara jutaan petani swadaya tetap berada pada posisi yang kurang menguntungkan.

Tags:

APKASINDO

Berita Sebelumnya
Prof Agus Pakpahan Dorong APKASINDO Bangun Koperasi Kuantum Petani Sawit, Belajar dari Keberhasilan Koperasi Karet

Prof Agus Pakpahan Dorong APKASINDO Bangun Koperasi Kuantum Petani Sawit, Belajar dari Keberhasilan Koperasi Karet

Menurutnya, keberhasilan CUKK tidak lahir dari modal besar, melainkan dari kesadaran kolektif petani yang menghadapi persoalan ekonomi serupa dengan yang saat ini dialami petani sawit swadaya.

23 Juni 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *