
sawitsetara.co - JAKARTA — Indonesia selama ini dikenal sebagai produsen kelapa sawit terbesar dunia. Luas perkebunan mencapai 16,01 juta hektar dengan produksi minyak sawit mentah (CPO) berkisar 45–47 juta ton per tahun dan nilai ekspor yang pada periode harga tinggi menyentuh 30–40 miliar dolar Amerika Serikat.
Namun di balik dominasi volume tersebut, pakar ekonomi pertanian Indonesia, pakar ekonomi pertanian Indonesia Prof. Ir. H. Agus Pakpahan, M.S., Ph.D., menilai posisi Indonesia justru lemah dalam struktur nilai global.
“Kita ini raja volume, tetapi bukan raja nilai. Kita besar sebagai produsen, tapi kecil sebagai penentu harga,” ujar Agus dalam esainya bertajuk Minyak Sawit dan Paradoks Stunting: Ironi Bangsa di Tengah Kelimpahan edisi 1 Maret 2026.
Menurut Prof Agus, harga referensi internasional CPO tidak terbentuk di Jakarta atau Medan, melainkan di Bursa Malaysia Derivatives melalui kontrak Crude Palm Oil Futures. Indonesia masih bertindak sebagai price taker, mengikuti harga yang dibentuk di luar negeri.
Padahal, dari sisi luasan lahan, Indonesia tiga kali lebih besar dibanding Malaysia. Namun nilai ekspor per hektar Indonesia hanya sekitar 41 persen dari capaian Malaysia.
Bahkan dari sisi kompleksitas ekonomi, Product Complexity Index (PCI) Indonesia berada di kisaran minus 2,0, sedangkan Malaysia telah mencapai plus 0,9.
“Perbedaan ini bukan soal alam atau produktivitas semata, tetapi soal struktur industri dan kebijakan. Kita masih bertumpu pada ekspor bahan mentah, sementara negara lain menguasai hilirisasi dan instrumen pembentukan harga,” tegasnya.
Prof. Agus menilai tanpa reformasi struktural yang mendorong hilirisasi berbasis pengetahuan dan penguatan kelembagaan ekonomi nasional, Indonesia akan terus terjebak sebagai pemasok bahan baku global dengan nilai tambah rendah.
Ia menekankan pentingnya koperatisasi petani, penguatan industri turunan, dan pembentukan referensi harga domestik yang berdaulat
Tags:


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *