
sawitsetara.co - JAKARTA – Pakar ekonomi sekaligus Rektor Universitas Koperasi Indonesia (IKOPIN), Prof. Agus Pakpahan, menilai minyak sawit merah (red palm oil) seharusnya menjadi salah satu pilar kebijakan pangan nasional untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat Indonesia. Menurutnya, Indonesia selama ini justru kehilangan potensi nutrisi sawit akibat proses pemurnian minyak yang menghilangkan kandungan alami beta-karoten dan vitamin E.
Dalam artikel bertajuk Rice Bran, Minyak Sawit Merah dan Minyak Kelapa Nyiur: Andaikan Dijadikan Sumber Nutrisi Bangsa Indonesia, Akan Menjadi Manusia Berkualitas Seperti Apa Kita Ini?, edisi 3 Agustus 2026, Prof. Agus menilai kondisi tersebut sebagai ironi bagi negara produsen sawit terbesar di dunia.
“Indonesia adalah produsen minyak sawit terbesar dunia. Namun ironisnya, kita membuang nutrisi paling berharga dari sawit. Minyak sawit kita murnikan hingga kehilangan karotennya,” tulis Prof. Agus.
Ia menjelaskan, minyak sawit merah mengandung beta-karoten sekitar 214,13 mg/kg atau setara 500-700 ppm karotenoid, serta vitamin E mencapai 600-1.000 ppm. Kandungan tersebut berfungsi sebagai sumber provitamin A yang penting untuk menjaga kesehatan mata, meningkatkan daya tahan tubuh, serta mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak.
Menurut Prof. Agus, proses refining, bleaching, dan deodorizing (RBD) yang umum dilakukan industri membuat sebagian besar senyawa bioaktif tersebut hilang.
“Minyak sawit yang kita konsumsi sehari-hari adalah versi ‘mati’ dari apa yang seharusnya menjadi sumber nutrisi. Proses pemurnian yang dianggap sebagai keharusan teknis sebenarnya adalah pilihan yang mengutamakan kepentingan industri di atas kesehatan publik,” katanya.
Prof. Agus mengingatkan, persoalan tersebut menjadi semakin penting karena Indonesia masih menghadapi masalah kekurangan vitamin A. Berdasarkan Survei Konsumsi Makanan Individu (SKMI) 2014, sekitar 59,07 persen penduduk Indonesia berisiko mengalami defisiensi vitamin A. Sementara Riskesdas 2018 dan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan prevalensi defisiensi vitamin A pada balita berkisar 7,8-9,1 persen.
Kelompok ibu hamil juga menjadi kelompok paling rentan, dengan hampir 70 persen mengalami ketidakcukupan asupan vitamin A.
Prof. Agus menilai pemanfaatan minyak sawit merah secara luas berpotensi menjadi solusi alami untuk mengatasi persoalan tersebut.
“Bayangkan jika kita mempertahankan kandungan beta-karoten dalam minyak sawit yang kita konsumsi. Jutaan masyarakat yang berisiko defisiensi vitamin A akan terlindungi, balita terselamatkan dari kebutaan, dan ibu hamil memperoleh asupan vitamin A yang cukup untuk perkembangan janin,” ujarnya.
Ia juga menyinggung pengalaman Nigeria yang berhasil menekan angka defisiensi vitamin A melalui konsumsi minyak sawit merah.
“Nigeria dengan produksi sawit yang jauh lebih kecil mampu memanfaatkan minyak sawit merah untuk mengatasi defisiensi vitamin A. Indonesia dengan produksi terbesar dunia justru membuang nutrisinya dan kemudian membeli suplemen sintetis. Ini adalah pilihan yang salah,” tegasnya.
Karena itu, Prof. Agus mendorong pemerintah merevisi standar mutu minyak goreng nasional agar memberi ruang lebih besar bagi pengembangan minyak sawit merah sebagai pangan fungsional.
“Pemerintah harus mendorong produksi dan konsumsi minyak sawit merah sebagai pangan fungsional. Standar mutu minyak goreng nasional harus direvisi. Tidak boleh ada diskriminasi terhadap minyak sawit merah yang justru lebih bergizi,” katanya.
Menurut Prof. Agus, hilirisasi sawit tidak hanya berbicara mengenai peningkatan nilai tambah ekonomi, tetapi juga harus diarahkan untuk memperkuat kedaulatan gizi nasional melalui pemanfaatan nutrisi alami yang selama ini terabaikan.
Tags:


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *