
sawitsetara.co - JAKARTA — Rektor IKOPIN University yang juga penggagas dan fasilitator pendirian APKASINDO, Prof. Agus Pakpahan, meminta organisasi petani sawit tersebut mengambil peran strategis dalam mendorong lahirnya koperasi-koperasi petani sawit di tingkat desa dan kecamatan sebagai upaya memperkuat posisi petani swadaya.
Menurut Prof. Agus, mayoritas kebun sawit rakyat saat ini dikelola oleh petani swadaya yang belum memiliki perlindungan kontrak seperti yang dimiliki petani plasma. Kondisi tersebut membuat mereka lebih rentan terhadap fluktuasi harga dan praktik perdagangan yang tidak adil.
Dalam kajiannya, Prof. Agus mencatat petani swadaya menguasai sekitar 93 persen kebun sawit rakyat. Namun, kelompok ini justru menghadapi tantangan terbesar dalam memperoleh harga yang layak.
“Petani swadaya mencakup 93 persen kebun sawit rakyat. Mayoritas tidak memiliki perlindungan kontrak,” tulisnya kepada sawitsetara.co, Selasa (23/6/2026).
Ia menilai APKASINDO memiliki modal penting untuk membangun gerakan koperasi baru karena telah memiliki jaringan petani yang luas serta data harga yang dapat digunakan sebagai alat advokasi.
“Gunakan data harga TBS dan disparitas plasma-swadaya sebagai bahan advokasi untuk menciptakan kesadaran krisis. Data dari situs APKASINDO sudah menunjukkan disparitas ini secara nyata,” kata Prof. Agus.
Ia mendorong APKASINDO untuk menggerakkan pembentukan koperasi-koperasi sawit skala kecil yang dimulai dari kelompok petani di desa.
“Dorong anggotanya untuk membentuk koperasi kuantum petani swadaya di tingkat desa atau kecamatan. Mulai dari 12 orang. Modal kecil. Nilai besar,” ujarnya.
Dalam konsep yang ditawarkannya, koperasi tidak hanya berfungsi sebagai lembaga ekonomi, tetapi juga sebagai sarana membangun solidaritas dan kesadaran kolektif petani.
Prof. Agus menekankan pentingnya memulai dari kelompok kecil yang memiliki persoalan dan tujuan bersama.
“KKKK dimulai dari 12 orang. Mulailah dari kelompok-kelompok petani swadaya yang paling terdampak penurunan harga TBS di satu desa atau satu kecamatan,” katanya.
Menurut dia, kelompok-kelompok kecil tersebut dapat menjadi laboratorium untuk membangun nilai kejujuran, keadilan harga, gotong royong, dan keberlanjutan usaha perkebunan.
Selain itu, Prof. Agus menilai koperasi harus menerapkan transparansi penuh dalam pengelolaan keuangan agar mampu membangun kepercayaan anggota.
“Bukalah laporan keuangan kelompok kecil secara terbuka. Dari mana uang datang, ke mana pergi, berapa bunga. Semua transaksi dibaca di rapat,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya koperasi menjadi alat untuk memutus ketergantungan petani terhadap rantai perantara yang selama ini mengurangi pendapatan petani.
“Petani tidak lagi menjual sendiri-sendiri ke pengumpul. Koperasi mengumpulkan TBS dari anggota dan menjual langsung ke PKS. Dalam logika Koperasi Kuantum, ini adalah memutus rantai margin tengkulak yang selama ini menggerogoti pendapatan petani,” kata Prof. Agus.
Selain kepada APKASINDO, Prof. Agus juga memberikan rekomendasi kepada pemerintah untuk menciptakan regulasi yang mendukung pertumbuhan koperasi petani sawit. Ia mendorong pemberian insentif bagi koperasi yang menerapkan tata kelola transparan dan partisipatif.
Kepada akademisi dan perguruan tinggi, ia mengusulkan pengembangan penelitian aksi dan pembentukan koperasi percontohan di sentra-sentra sawit rakyat sebagai laboratorium pembelajaran.
Pada akhirnya, Prof. Agus menegaskan bahwa keberhasilan koperasi sawit akan ditentukan oleh kemampuan membangun kepercayaan, memperkuat kelembagaan, menangkap nilai tambah dari rantai pasok, serta menyiapkan regenerasi kepemimpinan.
“Koperasi sawit bisa memiliki hari jadi, ritual tahunan, dan simbol-simbol yang mengikat anggota. Cerita tentang mengapa kita membuat koperasi harus terus diwariskan dari generasi ke generasi,” ujarnya.
Ia menutup gagasannya dengan keyakinan bahwa transformasi ekonomi petani sawit dapat dimulai dari gerakan sederhana di tingkat akar rumput, sebagaimana yang pernah terjadi pada petani karet di Kalimantan Barat.
“Cooperative minds are quantum minds,” tulis Prof. Agus.


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *