
sawitsetara.co - JAKARTA — Kelapa sawit kembali menunjukkan perannya sebagai salah satu penopang ekspor Indonesia. Ekspor minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) dan produk turunannya tumbuh 5,49 persen sepanjang Januari–Juli 2026 dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan pertumbuhan ekspor tersebut menunjukkan strategisnya komoditas pertanian dalam perdagangan Indonesia di pasar global.
“Kinerja ekspor CPO dan turunannya yang tumbuh 5,49 persen menjadi salah satu gambaran bahwa komoditas pertanian memiliki peran strategis dalam memperkuat perdagangan Indonesia,” kata Amran di Jakarta, Minggu (6/9/2026).
Kinerja positif sawit tersebut terjadi ketika ekspor nonmigas Indonesia juga mengalami pertumbuhan. Badan Pusat Statistik mencatat nilai ekspor nonmigas pada Januari–Juli 2026 mencapai US$160,01 miliar, naik 5,21 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Secara keseluruhan, nilai ekspor Indonesia pada periode tersebut mencapai US$167,03 miliar. Angka itu tumbuh 4,43 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Pertumbuhan ekspor CPO dan produk turunannya turut memperkuat kontribusi sektor pertanian terhadap perdagangan luar negeri Indonesia. Sawit menjadi salah satu komoditas yang berperan penting karena memiliki pasar ekspor luas sekaligus rantai produk turunan yang besar.
Harga Minyak Sawit Menguat
Selain volume dan permintaan, penguatan harga komoditas global ikut menopang nilai ekspor Indonesia. Minyak sawit menjadi salah satu komoditas pertanian yang mengalami kenaikan harga sepanjang periode tersebut.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan kenaikan harga sejumlah komoditas global ikut memengaruhi kinerja ekspor.
“Pada Juli tahun 2026, secara umum harga komoditas di pasar global menunjukkan peningkatan secara year on year. Kenaikan harga secara tahunan terjadi pada kelompok pertanian, energi, logam mulia, dan juga logam dan mineral. Peningkatan harga komoditas pertanian utamanya didorong oleh peningkatan harga minyak sawit,” ujar Ateng dalam penyampaian Berita Resmi Statistik BPS, Selasa, 1 September 2026.
Kondisi tersebut membuat minyak sawit menjadi salah satu komoditas yang berkontribusi terhadap penguatan ekspor Indonesia. Kinerja itu juga tercermin pada kelompok lemak dan minyak hewani atau nabati dengan kode HS15.
Kelompok HS15 tercatat sebagai salah satu komoditas yang mendorong ekspor nonmigas Indonesia. Data tersebut memperlihatkan bahwa sawit tidak hanya berperan sebagai komoditas perkebunan, tetapi juga menjadi bagian penting dalam struktur perdagangan luar negeri Indonesia.
Dengan pertumbuhan ekspor CPO dan produk turunannya sebesar 5,49 persen, pemerintah melihat sektor pertanian masih memiliki ruang besar untuk memperkuat posisi Indonesia di pasar global. Penguatan produktivitas, pengembangan produk turunan, serta peningkatan daya saing menjadi faktor penting untuk mempertahankan kontribusi tersebut.
Tags:


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *