
sawitsetara.co - JAKARTA — Harga minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) menguat di tengah kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan akibat kebakaran hutan di Indonesia. Kebakaran yang melanda sejumlah wilayah juga memicu kabut asap tebal di Asia Tenggara.
Harga kontrak berjangka CPO acuan di Bursa Malaysia Derivatives naik hingga 0,9 persen menjadi 4.975 ringgit atau sekitar US$1.229 per ton di Kuala Lumpur.
Kenaikan harga terjadi ketika pelaku pasar memperhitungkan potensi penurunan produksi sawit akibat kebakaran dan kabut asap. Sejumlah kegiatan panen disebut terganggu karena pekerja perkebunan dikerahkan untuk membantu memadamkan kebakaran.
Selain mengganggu aktivitas panen, asap tebal dan berkurangnya paparan sinar matahari berpotensi memengaruhi pertumbuhan buah kelapa sawit.
Pergerakan harga tersebut mencerminkan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap kondisi di Indonesia.
“Pergerakan harga terkini mencerminkan situasi kabut asap di Indonesia yang kian memburuk,” ujar David Ng, pedagang senior di Iceberg X Sdn.
Menurut dia, kondisi kering dan kabut asap menjadi perhatian pasar karena berpotensi memengaruhi hasil produksi. Harga minyak sawit juga memperoleh dukungan dari penguatan harga minyak mentah dan minyak nabati lainnya.
“Pasar khawatir akan kondisi kering dan kabut asap yang memengaruhi hasil produksi,” katanya.
Kenaikan harga minyak mentah turut menjadi faktor pendukung bagi CPO. Harga minyak mentah yang tinggi membuat bahan bakar nabati atau biofuel relatif lebih kompetitif sehingga berpotensi meningkatkan permintaan terhadap minyak sawit.
Kebakaran hutan dan kabut asap merupakan fenomena yang kerap terjadi di Asia Tenggara. Peristiwa tersebut sering dikaitkan dengan praktik pembukaan lahan secara tradisional maupun komersial.
Namun, kondisi tahun ini diperburuk oleh pola cuaca El Niño yang parah. Fenomena tersebut membuat kondisi kering berlangsung lebih lama sehingga meningkatkan risiko kebakaran dan memperpanjang dampak kabut asap.
Asean Specialised Meteorological Centre dalam laporan prospek terbarunya pekan lalu menyebut kebakaran hutan dan kabut asap lintas batas dipicu kondisi tersebut. Kabut asap kemudian terbawa angin dominan dari arah tenggara dan barat daya.
Lembaga tersebut memperkirakan peningkatan curah hujan sekitar Oktober, menjelang musim hujan, dapat membantu meredakan kebakaran dan kabut asap.
Lebih dari 202.000 hektare lahan telah terbakar di wilayah Kalimantan dan Sumatra. Tingkat polusi juga meningkat di sejumlah wilayah Indonesia dan negara tetangga, termasuk Singapura, Malaysia, dan Filipina.
Pergerakan Harga Minyak Sawit
Di Bursa Malaysia Derivatives, kontrak sawit untuk pengiriman November naik 0,8 persen menjadi 4.967 ringgit per ton pada jeda perdagangan tengah hari.
Sementara itu, di Dalian Commodity Exchange, kontrak minyak sawit olahan untuk pengiriman Januari naik 1,1 persen menjadi 10.320 yuan per ton.
Kontrak minyak kedelai untuk pengiriman Januari juga menguat 0,2 persen menjadi 9.164 yuan per ton.
Data yang dikumpulkan Bloomberg menunjukkan keunggulan harga minyak kedelai dibandingkan minyak sawit berada di sekitar US$301 per ton. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata selisih sekitar US$262 per ton pada tahun lalu.
Pergerakan harga minyak nabati menjadi salah satu faktor yang turut diperhatikan pelaku pasar dalam menentukan arah harga CPO.
Adapun pasar pertanian Chicago tutup pada Senin karena hari libur umum.
Tags:


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *