
sawitsetara.co - Pemerintah memastikan kabar baik bagi dunia usaha nasional. Amerika Serikat (AS) resmi menurunkan tarif impor untuk produk asal Indonesia dari sebelumnya 32% menjadi 19%. Bahkan, untuk sejumlah komoditas unggulan seperti minyak kelapa sawit (CPO), kopi, dan kakao, tarif ditetapkan 0% alias bebas bea masuk.
Kebijakan ini menjadi hasil konkret dari rangkaian negosiasi intensif yang berlangsung sejak awal 2025. Sebelumnya, pada masa pemerintahan Presiden AS Donald Trump, Indonesia sempat dikenakan tarif hingga 32%. Setelah melalui proses perundingan panjang, termasuk komunikasi langsung dengan Presiden RI Prabowo Subianto, tarif tersebut akhirnya ditekan menjadi 19%.
Tak hanya itu, dalam kesepakatan resiprokal, Indonesia juga berkomitmen membebaskan sebagian besar tarif bea masuk bagi produk asal AS yang masuk ke pasar domestik. Kesepakatan ini akan diformalkan melalui penandatanganan Agreement on Reciprocal Trade (ART) yang dijadwalkan berlangsung pada 19 Februari 2026 di AS.
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menyampaikan bahwa secara substansi, proses negosiasi telah selesai dan kedua negara sudah menuntaskan harmonisasi bahasa hukum atau legal drafting. Artinya, kesepakatan tinggal memasuki tahap finalisasi dan penandatanganan resmi.
Presiden Prabowo diketahui telah bertolak ke AS dari Lanud Halim Perdanakusumah pada Senin (16/2/2026). Sehari sebelumnya, ia menggelar rapat konsolidasi di kediaman pribadinya di Hambalang, Bogor, bersama sejumlah menteri Kabinet Merah Putih.
Hadir dalam pertemuan tersebut antara lain Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, serta Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus CEO Danantara Rosan Roeslani.
Juru Bicara Kemenko Perekonomian, Haryo Limanseto, menyebut kehadiran para menteri tersebut sebagai bentuk konsolidasi akhir sebelum agenda internasional penting dengan AS.
Salah satu poin paling strategis dalam kesepakatan ini adalah pengecualian tarif 19% untuk komoditas unggulan Indonesia. Minyak kelapa sawit (CPO), kopi, dan kakao mendapatkan tarif 0%, sehingga berpotensi meningkatkan daya saing ekspor Indonesia di pasar AS.
Langkah ini dinilai signifikan mengingat ketiga komoditas tersebut merupakan penopang utama ekspor nonmigas nasional serta penyerap tenaga kerja besar di sektor perkebunan dan industri pengolahan.
Presiden Prabowo menegaskan bahwa setiap perundingan internasional harus memberikan manfaat nyata bagi industri nasional. Ia mengarahkan agar kesepakatan perdagangan tidak hanya berhenti pada aspek formal, tetapi juga berdampak pada penciptaan lapangan kerja, peningkatan nilai tambah, serta penguatan posisi Indonesia dalam rantai pasok global.
Selain agenda perdagangan, kunjungan Presiden ke AS juga dalam rangka menghadiri KTT Board of Peace atau Dewan Perdamaian Gaza pada 19 Februari 2026. Pemerintah memandang momentum ini sebagai langkah strategis untuk memperkuat diplomasi Indonesia di panggung global sekaligus membuka peluang kerja sama baru di bidang perdagangan dan investasi.
Menko Airlangga disebut telah lebih dahulu berada di AS untuk mempersiapkan rangkaian agenda tersebut. Pemerintah pun optimistis bahwa penandatanganan ART akan membawa “kejutan-kejutan positif” yang semakin menguntungkan Indonesia.
Dengan turunnya tarif ekspor dan bebas bea masuk untuk komoditas unggulan, Indonesia kini berada pada posisi yang lebih kompetitif di pasar AS. Tantangan berikutnya adalah memastikan peluang ini diterjemahkan menjadi peningkatan produksi, ekspor, serta kesejahteraan bagi pelaku usaha dan masyarakat luas.


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *