KONSULTASI
Logo

Tempuh 8 Jam dari Rohil, Anak Petani Sawit Lapor ke APKASINDO: Berstatus Cadangan, Tak Bisa Kuliah Tanpa Beasiswa SDM Sawit 2026

10 September 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorHendrik Khoirul
Tempuh 8 Jam dari Rohil, Anak Petani Sawit Lapor ke APKASINDO: Berstatus Cadangan, Tak Bisa Kuliah Tanpa Beasiswa SDM Sawit 2026

sawitsetara.co - PEKANBARU — Perjalanan sekitar delapan jam dari Rokan Hilir menuju Pekanbaru ditempuh bukan sekadar untuk berkunjung. Sejumlah peserta Beasiswa SDM Sawit 2026 Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dari Rokan Hilir datang membawa satu harapan: status mereka yang kini masih menjadi peserta cadangan dapat berubah menjadi penerima beasiswa.

Didampingi Ketua DPD APKASINDO Rokan Hilir Tomi Sihombing, para peserta tersebut menemui Ketua Umum DPP APKASINDO Dr. Ir. Gulat Medali Emas Manurung, MP., C.IMA., C.APO. Mereka menyampaikan langsung kegelisahan setelah dinyatakan masuk kategori cadangan dalam seleksi Beasiswa SDM Sawit 2026.

Dr. Gulat menyebut kedatangan mereka sebagai kisah yang sekaligus menggembirakan dan menyedihkan. Para peserta yang datang merupakan anak-anak petani sawit dengan rekam jejak akademik yang baik, tetapi belum dinyatakan lulus beasiswa.

“Hari ini kita kedatangan tamu dari Kabupaten Rokan Hilir, 8 jam dari Pekanbaru. Untungnya saya sedang di Pekanbaru,” ujar Dr. Gulat saat menerima mereka di kantor DPW APKASINDO Riau, Kamis (10/9/2026).

apkasindo

Tiga peserta yang hadir, yakni Nazri Mutmainah, Fatima Zahra, dan Indira Agustirani, menyampaikan kondisi mereka satu per satu. Mereka berharap pemerintah memberi kesempatan agar status cadangan dapat berubah menjadi penerima beasiswa.

Nazri Mutmainah, siswi SMA Negeri 4 Bagan Sinembah, mengaku masih berstatus cadangan dalam Beasiswa SDM Sawit. Ia berharap Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Heru Tri Widarto, dan Direktur Utama BPDP Eddy Abdurrachman dapat membantu agar dirinya dinyatakan lulus.

Harapan itu bukan tanpa alasan. Nazri mengatakan kondisi ekonomi keluarganya membuat biaya kuliah sulit ditanggung sendiri. Keluarganya hanya memiliki lahan sawit seluas tiga hektare.

“Minta tolong pada Bapak Menteri Pertanian dan Bapak Dirjen Perkebunan dan Direktur Utama BPDP. Kiranya saya bisa dibantu untuk lulus di beasiswa sawit,” kata Nazri. “Untuk biaya tidak memungkinkan karena keluarga saya hanya memiliki lahan 3 hektare.”

Kisah serupa disampaikan Fatima Zahra. Ia masuk dalam kategori cadangan meski mengaku memiliki prestasi akademik dan masuk 10 besar di sekolahnya. Bagi Fatima, beasiswa tersebut menjadi harapan untuk dapat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Ia mengungkapkan keterbatasan ekonomi keluarganya untuk membiayai kuliah.

“Dan juga keluarga saya tidak mampu untuk mengkuliahkan saya. Sehingga saya berharap besar kepada Bapak Dirjen Perkebunan dan Bapak Direktur Utama BPDP supaya saya bisa diluluskan tahun ini,” ujarnya.

Sementara itu, Indira Agustirani juga harus menerima kenyataan bahwa namanya belum masuk daftar penerima beasiswa dan masih berstatus cadangan. Padahal, ia memiliki catatan prestasi akademik sejak duduk di bangku SMA.

Namun prestasi tersebut belum cukup untuk membuatnya dinyatakan lulus. Ketika ditanya bagaimana perasaannya setelah mengetahui dirinya hanya menjadi peserta cadangan, Indira menjawab singkat.

“Sedih banget, Pak,” ujarnya.

Kondisi ekonomi keluarga Indira juga menjadi persoalan. Saat ditanya mengenai luas kebun sawit milik ayahnya, ia menjawab, “Tidak sampai 1 hektare, Pak.”

apkasindo

Di balik kedatangan tiga anak tersebut, ada perjuangan DPD APKASINDO Rokan Hilir dalam membantu calon peserta mengikuti proses seleksi. Ketua DPD APKASINDO Rokan Hilir Tomi Sihombing mengatakan sekitar 25 anak mendapat bimbingan secara Cuma-Cuma.

“Sekitar 25,” kata Tomi ketika ditanya jumlah peserta yang dibimbing. Dari jumlah tersebut, tujuh orang dinyatakan lulus, sementara delapan lainnya masuk kategori cadangan. “Yang lulus 7, cadangan 8,” ujarnya.

Dr. Gulat mengapresiasi perjuangan Tomi dan jajaran APKASINDO di daerah yang mendampingi anak-anak petani sawit mengikuti seleksi. Ia berharap masih ada peluang bagi peserta yang berstatus cadangan untuk mendapatkan kesempatan melanjutkan pendidikan.

“Semoga mereka bisa beruntung, naik level dari cadangan menjadi lulus. Tentu ini harapan,” kata Dr. Gulat.

Bagi anak-anak petani sawit tersebut, status cadangan bukan sekadar angka dalam daftar hasil seleksi. Di baliknya ada harapan untuk melanjutkan pendidikan dan keterbatasan orang tua yang belum tentu mampu membayar biaya kuliah.

Karena itu, perjalanan jauh dari Rokan Hilir menuju Pekanbaru menjadi bagian dari upaya mereka memperjuangkan kesempatan. Mereka datang membawa prestasi, kondisi keluarga, sekaligus harapan agar pintu beasiswa masih terbuka.

“Beasiswa Sawit, Masa Depan Indonesia,” kata Dr. Gulat.

Tags:

Beasiswa SDM Sawit 2026

Berita Sebelumnya
DPR Soroti EUDR: Jangan Sampai Sawit Indonesia Sudah Ikut Standar Eropa, Tapi Masih Diberi Syarat Baru

DPR Soroti EUDR: Jangan Sampai Sawit Indonesia Sudah Ikut Standar Eropa, Tapi Masih Diberi Syarat Baru

Menurut Chusnunia, pemenuhan standar EUDR semestinya tidak berhenti pada sekadar memenuhi persyaratan pasar Eropa. Pemerintah perlu memastikan kepatuhan tersebut benar-benar memberikan kepastian dan meningkatkan daya saing produk sawit Indonesia.

9 September 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *