
sawitsetara.co - PEKANBARU - Universitas Persada Bunda Indonesia (UPBI) melaksanakan kegiatan field trip dosen dan mahasiswa ke pembibitan kelapa sawit Apkasindo yang berlokasi di kawasan Pasir Putih, Riau. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan wawasan praktis serta memperkuat sinergi antara dunia akademik dan industri perkebunan.
Wakil Rektor I UPBI, Dr. Agustin Basriani, dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur dan apresiasi atas sambutan dari pihak pembibitan Apkasindo. Ia mengungkapkan bahwa kunjungan ini menjadi pengalaman baru yang berharga bagi civitas akademika UPBI.
“Kami sangat surprise diundang ke sini. Perjalanan yang kami tempuh juga terasa seperti adventure yang menyenangkan. Ini menjadi pengalaman baru bagi kami untuk melihat langsung bagaimana proses pembibitan kelapa sawit yang sebelumnya belum pernah kami ketahui,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa kegiatan ini tidak hanya sebagai ajang studi banding, tetapi juga sebagai sarana silaturahmi dan sharing knowledge antara kampus dan pelaku industri. Menurutnya, pembelajaran langsung di lapangan memberikan perspektif berbeda dibandingkan teori di dalam kelas.
Agustin juga menyampaikan bahwa pihak kampus berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan dengan cakupan yang lebih luas. Ia menuturkan bahwa ke depan UPBI ingin melibatkan lebih banyak mahasiswa serta menjajaki potensi kerja sama di berbagai sektor, termasuk peternakan dan pengembangan usaha lainnya.

Sementara itu, Direktur Pembibitan Apkasindo, Dr. Eko Jaya Siallagan, dalam sambutannya menyampaikan bahwa pembibitan yang dikelola merupakan unit usaha dari Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) yang telah berjalan sejak 2021 dan memiliki legalitas resmi.
“Pembibitan Apkasindo ini merupakan unit bisnis dari Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia dengan legalitas PT. Graha Map Indonesia. Kami mulai sejak 2021 dan saat ini telah berkembang di beberapa titik dengan total produksi mencapai 600 sampai 700 ribu batang per tahun,” jelas Eko.
Ia juga memaparkan bahwa pembibitan yang berada di Pasir Putih berdiri di atas lahan sekitar 8 hektare dari total kawasan Pondok Pesantren Teknologi Riau seluas kurang lebih 100 hektare. Kapasitas produksi di lokasi tersebut mencapai 100 ribu bibit per tahun.
Eko menambahkan bahwa sebagian besar distribusi bibit ditujukan untuk program peremajaan sawit rakyat (PSR) yang didukung pemerintah. Ia mengatakan bahwa sekitar 85 persen penjualan bibit dialokasikan untuk program tersebut.
“Market terbesar kami adalah peremajaan sawit rakyat. Sekitar 85 persen penjualan kami mengarah ke sana, karena ada program bantuan dari pemerintah bagi petani untuk peremajaan kebun,” katanya.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa tantangan utama dalam bisnis pembibitan bukan hanya menghasilkan bibit berkualitas, tetapi juga memastikan ketepatan waktu penjualan. Menurutnya, bibit yang tidak terserap pasar akan terus tumbuh dan berisiko menimbulkan kerugian.
Eko juga menjelaskan bahwa seluruh pembibitan Apkasindo telah terdaftar secara resmi di sistem perbenihan perkebunan serta memiliki sertifikasi dari Dinas Perkebunan. Hal ini menjamin kualitas dan legalitas bibit yang diproduksi.
Ia menyampaikan bahwa pihaknya terbuka untuk kolaborasi dengan perguruan tinggi, termasuk dalam pengembangan sumber daya manusia dan penelitian.
Eko menuturkan bahwa ke depan pihaknya berharap dapat menjalin kerja sama yang lebih luas dengan Universitas Persada Bunda, tidak hanya di bidang pembibitan tetapi juga dalam bidang akademik dan pengembangan lainnya yang saling menguntungkan.
Kegiatan field trip ini diakhiri dengan sesi diskusi interaktif dan peninjauan langsung ke area pembibitan, di mana para dosen dan mahasiswa mendapatkan penjelasan teknis terkait proses produksi bibit kelapa sawit secara langsung di lapangan.



Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *