
sawitsetara.co - JAKARTA — Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menilai kampanye negatif terhadap kelapa sawit Indonesia dipengaruhi persaingan global minyak nabati. Menurut dia, minyak sawit Indonesia lebih efisien dan kompetitif dibanding produk sejenis dari negara-negara Eropa.
“Jadi Anda semua sebagai generasi terbaik Indonesia, jangan termakan propaganda. Kenapa asing seolah-olah anti-sawit sama kita? Karena minyak nabati dia itu tidak laku atau kurang diminati atau kurang efisien dibanding minyak sawit kita,” kata Sudaryono dalam keterangannya.
Ia mengatakan produktivitas sawit jauh melampaui tanaman penghasil minyak nabati lain. Ia membandingkan satu hektare kebun sawit dengan kebun bunga matahari yang membutuhkan lahan jauh lebih luas untuk menghasilkan volume minyak setara.
“Kalau Anda lihat kebun bunga matahari, tidak ada pohonnya Pak. Itu sudah jelas secara ekologi, sawit itu lebih efektif dan lebih efisien. Lantas kenapa sawit seolah-olah jahat?” ujarnya.

Sudaryono juga menyinggung kebijakan European Union Deforestation Regulation (EUDR) yang dinilai menjadi hambatan bagi produk sawit Indonesia di pasar internasional. Aturan tersebut, menurut dia, kerap digunakan untuk mempersulit akses ekspor sawit nasional.
“Eropa tidak mau minyak sawit kita itu dipersulit dengan EUDR lah, deforestasi lah, inilah, itulah. Karena sawit kita itu lebih efisien,” katanya.
Ia berpendapat, apabila negara-negara lain benar-benar menaruh perhatian terhadap isu lingkungan global, maka sawit justru layak didukung karena produktivitasnya tinggi dan penggunaan lahannya lebih hemat.
“Kalau bangsa lain begitu peduli dengan ekologi dan ekosistem dunia, maka harusnya dia investasi tanam kebun sawit satu hektar di Indonesia, dia reboisasi kebun bunga matahari di negaranya lima belas hektare. Apakah dia mau lakukan itu? Tidak mau Pak,” tutur Sudaryono.

Menurut Sudaryono, sawit merupakan “miracle crop” atau tanaman unggulan Indonesia yang memiliki manfaat luas, mulai dari kebutuhan pangan hingga energi. Ia menyebut Indonesia menyumbang sekitar 60 persen produksi minyak sawit dunia.
“Sawit ini miracle crop, ini champion-nya Indonesia. Tidak tumbuh di banyak negara dan kita 60 persen sawit yang beredar seluruh dunia ini berasal dari Indonesia. Bisa jadi energi, bisa jadi pangan. Jadi, konotasi atau propaganda sawit ini sudah saya dengar lama,” ucapnya.
Indonesia saat ini tercatat sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia. Industri tersebut menjadi salah satu penyumbang devisa ekspor sekaligus menyerap jutaan tenaga kerja.
Namun, sektor sawit juga terus menghadapi kritik terkait isu lingkungan, seperti deforestasi dan perlindungan habitat satwa liar. Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah bersama pelaku industri mendorong penerapan praktik sawit berkelanjutan.
Sudaryono menolak anggapan bahwa seluruh pengembangan sawit identik dengan kerusakan lingkungan. Ia memastikan pembangunan kebun sawit tetap melewati kajian ekologis.
“Yakinlah bahwa semua kebun sawit yang dibangun itu secara ekologi ada kajiannya,” kata dia.



Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *