
sawitsetara.co - JAKARTA — Minyak sawit sering dipersepsikan semata-mata sebagai sumber lemak dan energi, bukan sebagai sumber mikronutrien. Namun, sejumlah penelitian ilmiah justru menunjukkan sebaliknya, sawit kaya nutrisi. Salah satunya kandungan vitamin A.
Minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) dan minyak sawit merah (red palm oil/RPO) memang diketahui mengandung karotenoid dalam jumlah tinggi—senyawa yang menjadi prekursor vitamin A. Warna jingga kemerahan pada minyak sawit bukan sekadar ciri visual, melainkan indikator kandungan beta karoten yang melimpah.
Dikutip dari buku Mitos vs Fakta Industri Minyak Sawit Indonesia edisi keempat, sejumlah studi menyebut minyak sawit sebagai salah satu sumber alami karotenoid terkaya di dunia.
Penelitian Nagendran et al. (2000), Mayamol et al. (2007), Mukherjee dan Mitra (2009), serta Dauqan et al. (2011) menyimpulkan bahwa minyak sawit merupakan the world’s richest natural source of carotenoids.
Beta karoten di dalamnya berfungsi sebagai antioksidan sekaligus prekursor vitamin A, sebagaimana dijelaskan Krinsky (1993).
Dalam perbandingan volume yang sama, kandungan vitamin A pada minyak sawit dilaporkan jauh melampaui sejumlah bahan pangan yang selama ini dikenal sebagai sumber vitamin A.
Disebutkan, kandungan vitamin A minyak sawit bisa mencapai 15 kali lipat dibandingkan wortel. Bahkan dibandingkan pisang, selisihnya nyaris 100 kali lebih tinggi.
Manfaat kesehatan dari kandungan tersebut telah diuji dalam berbagai penelitian medis. Studi Oey et al. (1967), Karyadi et al. (1968), hingga Sandjaja et al. (2014) mencatat peran minyak sawit dalam mencegah defisiensi vitamin A, membantu penanggulangan kebutaan, serta meningkatkan sistem imun.
Penelitian Departemen Kesehatan RI pada 1963–1965 menunjukkan penggunaan RPO mampu meningkatkan kadar vitamin A serum pada anak-anak.
Penelitian Pusat Penelitian dan Pengembangan Gizi Bogor (Muhilal et al., 1991) juga menemukan bahwa minyak sawit dapat membantu penyembuhan xeroftalmia, termasuk hemeralopi atau buta senja—kondisi yang erat dengan kekurangan vitamin A.
Selain itu, kandungan antioksidan alami pada minyak sawit disebut berperan melawan radikal bebas. Mukherjee dan Mitra (2009) mencatat efek protektifnya terhadap penuaan sel, aterosklerosis, kanker, artritis, hingga Alzheimer.
Beberapa studi lain juga mengaitkan konsumsi karotenoid dengan penurunan risiko penyakit jantung koroner serta perbaikan fungsi kognitif.
Dengan temuan tersebut, klaim bahwa kandungan vitamin A pada minyak sawit lebih rendah dibandingkan bahan pangan lain tidak sepenuhnya tepat. Dalam bentuk yang belum mengalami pemurnian berlebih—seperti CPO atau minyak sawit merah—kandungan karotenoidnya justru tergolong tinggi.
Namun demikian, kandungan vitamin A tersebut dapat berkurang dalam proses pemurnian industri yang menghasilkan minyak sawit rafinasi berwarna lebih pucat. Di sinilah letak perbedaan yang kerap luput dari penjelasan publik: tidak semua minyak sawit memiliki kadar karotenoid yang sama.
Tags:


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *