
sawitsetara.co - BANJARBARU — Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) bersama Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan telah menyelenggarakan Program Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) Perkebunan. Agenda ini diarahkan tidak hanya meningkatkan kemampuan teknis budidaya kelapa sawit, tetapi juga mencetak agen perubahan yang mampu meningkatkan produktivitas dan mendorong praktik perkebunan berkelanjutan di daerah.
Sebanyak 90 peserta yang terdiri atas pekebun, penyuluh, dan aparatur sipil negara (ASN) dari Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan, mengikuti pelatihan selama enam hari. Kegiatan tersebut memadukan pembelajaran teori dan praktik untuk memperkuat kapasitas sumber daya manusia di sektor perkebunan.

Saat melakukan monitoring pelatihan di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Kamis (2/7/2026), Anggota Tim Komite Pengembangan SDM Perkebunan BPDP, Anwar Sunari, mengatakan peserta memiliki posisi strategis sebagai penggerak perubahan di tingkat lapangan.
“Pelatihan ini bukan hanya memberikan pendidikan dan keterampilan, tetapi juga menyiapkan bapak dan ibu sebagai agent of change di lapangan. Tugasnya adalah bagaimana mendorong peningkatan produksi, produktivitas, sekaligus meningkatkan kesejahteraan para pekebun,” ujar Anwar.
Menurut dia, pengetahuan yang diperoleh selama pelatihan tidak cukup diterapkan di kebun masing-masing, tetapi juga harus disebarluaskan kepada pekebun lain melalui proses berbagi pengetahuan di tingkat daerah.
Anwar menilai pembangunan perkebunan kelapa sawit ke depan harus mengacu pada prinsip keberlanjutan. Ia mengatakan pengelolaan perkebunan tidak hanya dituntut memberikan keuntungan secara ekonomi, tetapi juga harus diterima masyarakat dan tetap menjaga kelestarian lingkungan.
“Perkebunan sawit harus memenuhi tiga pilar pembangunan berkelanjutan, yaitu menguntungkan secara ekonomi, dapat diterima secara sosial, dan tetap menjaga kelestarian lingkungan. Arah kebijakan seperti ISPO juga menuju ke sana,” katanya.

Dalam aspek budidaya, Anwar mendorong penggunaan pupuk secara berimbang melalui kombinasi pupuk anorganik dan organik. Menurut dia, kedua jenis pupuk memiliki fungsi yang saling melengkapi sehingga dapat menjaga produktivitas sekaligus memperbaiki kesehatan tanah.
Ia juga meminta penyuluh bersama kelembagaan pekebun mengembangkan pemanfaatan pupuk organik berbasis sumber daya lokal, seperti pupuk kandang dan limbah kelapa sawit yang tersedia di sekitar kebun.
“Silakan dikombinasikan antara pupuk anorganik dan organik. Masing-masing memiliki kelebihan. Yang penting bagaimana keduanya bisa bersinergi sehingga produktivitas tetap tinggi sekaligus menjaga keberlanjutan lahan,” ujarnya.
Selain aspek teknis, Anwar mengingatkan pentingnya menjaga integritas dalam pelaksanaan Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). Menurut dia, seluruh proses, mulai dari verifikasi data, administrasi, hingga pendampingan, harus dilakukan secara cermat agar tidak memunculkan persoalan hukum di kemudian hari.
Ia juga menegaskan bahwa produktivitas kebun sangat dipengaruhi penerapan budidaya yang sesuai standar sejak awal, mulai dari penyiapan lahan, penggunaan benih unggul, penanaman, hingga pemeliharaan tanaman.
Menurut Anwar, penggunaan benih unggul merupakan faktor paling menentukan keberhasilan usaha perkebunan.
“Kalau bibitnya sudah salah, dipupuk sebagus apa pun hasilnya tidak akan optimal. Karena itu, pekebun harus benar-benar memastikan benih yang digunakan berasal dari sumber yang jelas dan berkualitas,” tuturnya.

Anwar mengapresiasi keterlibatan penyuluh dalam pelatihan tersebut. Ia menyebut penyuluh menjadi ujung tombak pendampingan kepada pekebun sehingga perlu terus meningkatkan kompetensi teknis maupun kemampuan melakukan pendampingan.
BPDP, kata dia, akan terus mendorong penguatan kapasitas penyuluh dan tenaga pendamping agar mampu memberikan layanan yang lebih komprehensif kepada pekebun.
Menutup arahannya, Anwar meminta seluruh peserta memanfaatkan pelatihan secara maksimal. Ia menilai AKPY memiliki kemampuan menyiapkan peserta melalui pembelajaran yang mengombinasikan hard skill dan soft skill.
“Manfaatkan pelatihan ini sebaik-baiknya. Terapkan ilmu yang diperoleh di lapangan, kemudian lakukan getok tular. Terutama para penyuluh, sampaikan kembali kepada pekebun lain yang belum berkesempatan mengikuti pelatihan. Jumlah pekebun sawit kita mencapai jutaan orang sehingga tidak mungkin semuanya dilatih sekaligus. Karena itu peserta pelatihan harus menjadi penyebar ilmu di daerahnya masing-masing,” ujar Anwar.
Melalui pelatihan tersebut, BPDP, Direktorat Jenderal Perkebunan, dan AKPY berharap lahir semakin banyak agen perubahan yang mampu mempercepat peningkatan produktivitas kebun rakyat, memperkuat tata kelola perkebunan berkelanjutan, serta meningkatkan daya saing industri kelapa sawit Indonesia.



Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *