
sawitsetara.co - PALEMBANG — Industri kelapa sawit kembali ditegaskan sebagai salah satu penopang utama perekonomian nasional, terutama dalam menghadapi berbagai tekanan krisis global yang terus berulang.
Hal tersebut disampaikan oleh Guru Besar Agribisnis Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Dr. Ir. Y. Bayu Krisnamurthi, M.S., dalam Andalas Forum VI yang berlangsung pada 16–17 April 2026 di Hotel Aryaduta Palembang.
Forum tahunan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) se-Sumatera ini mengusung tema “Sawit Indonesia: Sinergi untuk Tata Kelola, Pertumbuhan Ekonomi dan Berkelanjutan”, serta menghadirkan berbagai pemangku kepentingan mulai dari pelaku industri, akademisi, hingga pemerintah.

Dalam pemaparannya, Prof. Bayu menyoroti pola berulang di mana sektor sawit selalu menjadi “penyelamat” ketika Indonesia menghadapi krisis. Ia mengingatkan bahwa sejak krisis ekonomi 1998, perlambatan global 213, hingga pandemi COVID-19, industri sawit tetap menjadi andalan dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.
“Kita harus jujur melihat sejarah. Setiap krisis datang, sawit lagi yang menjadi tumpuan. Dalam kondisi sulit, sektor ini selalu hadir memberikan kontribusi nyata,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa fenomena tersebut menunjukkan betapa strategisnya peran sawit, bukan hanya sebagai komoditas ekspor, tetapi juga sebagai sumber devisa dan penggerak ekonomi di daerah.
Meski demikian, Prof. Bayu juga menekankan bahwa hubungan antara Indonesia dan sawit bersifat timbal balik. Menurutnya, keberhasilan industri sawit tidak lepas dari keunggulan Indonesia sebagai negara agraris dengan ekosistem terbaik untuk pengembangan komoditas tersebut.
“Indonesia memiliki agroekosistem terbaik untuk sawit. Tidak banyak negara di dunia yang memiliki kombinasi faktor seperti kita, mulai dari iklim, lahan, hingga sumber daya manusia. Di sisi lain, sawit juga membutuhkan Indonesia untuk terus berkembang,” jelasnya.
Ia menggambarkan hubungan tersebut sebagai relasi yang tidak terpisahkan, meskipun kerap diwarnai dinamika persepsi publik yang naik turun. “Kadang ada ‘love and hate’, tapi faktanya kita saling membutuhkan,” tambahnya.

Dari sisi kinerja industri, Prof. Bayu mengungkapkan bahwa produksi sawit nasional terus mengalami peningkatan, meskipun tidak terlalu signifikan. Di sisi lain, konsumsi global menunjukkan tren yang terus tumbuh, meski sempat mengalami fluktuasi akibat berbagai faktor eksternal.
Yang paling menonjol, menurutnya, adalah kontribusi sawit terhadap ekspor nasional. Ia menyebut sekitar 64 persen devisa dari sektor ekspor nonmigas berasal dari sawit, menjadikannya sebagai tulang punggung neraca perdagangan Indonesia.
“Dalam situasi seperti sekarang, kita justru harus mendorong ekspor. Sawit memberikan kontribusi devisa yang sangat besar, dan ini tidak bisa diabaikan,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa solusi menghadapi krisis tidak bisa hanya bergantung pada program biodiesel. Meskipun penting, biodiesel bukan satu-satunya jawaban untuk menjaga keberlanjutan industri.
“Biodiesel itu penting, tetapi bukan satu-satunya solusi. Kita tetap membutuhkan ekspor yang kuat agar aliran devisa tetap terjaga,” katanya.

Melalui Andalas Forum VI ini, Prof. Bayu berharap tercipta sinergi yang lebih kuat antara seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat tata kelola industri sawit, sekaligus menjaga pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Ia optimistis bahwa dengan kolaborasi yang baik, industri sawit Indonesia akan tetap mampu bertahan bahkan berkembang di tengah tantangan global yang semakin kompleks.
“Kita sudah melewati banyak krisis sebelumnya. Dengan kerja sama dan strategi yang tepat, saya yakin kita juga bisa melewati yang sekarang,” pungkasnya.



Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *