KONSULTASI
Logo

APKASINDO: Sawit Indonesia Harus Produktif, Berkelanjutan, dan Mampu Menjawab Tantangan Global

25 Juni 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorDwi Fatimah
APKASINDO: Sawit Indonesia Harus Produktif, Berkelanjutan, dan Mampu Menjawab Tantangan Global


sawitsetara.co - PEKANBARU – Industri kelapa sawit Indonesia memiliki peran yang sangat strategis bagi perekonomian nasional. Selain menjadi penyumbang devisa terbesar dari sektor perkebunan, sawit juga menjadi sumber penghidupan jutaan masyarakat serta penggerak pembangunan ekonomi di berbagai daerah.

Hal tersebut disampaikan Wakil Sekretaris V Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO), Dr. Mulono Apriyanto, S.TP., MP., C.APO., saat menjadi narasumber dalam Seminar Pengelolaan Sawit Berkelanjutan di Provinsi Riau yang diselenggarakan Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Riau di Pekanbaru, Kamis (25/6/2026).

Dalam paparannya bertajuk “Pengelolaan Perkebunan Kelapa Sawit Indonesia yang Baik, Berkelanjutan dan Berdaya Saing: Konsep, Strategi dan Implementasi”, Mulono menegaskan bahwa masa depan industri sawit Indonesia akan sangat ditentukan oleh kemampuan seluruh pemangku kepentingan dalam mengelola perkebunan secara produktif, berkelanjutan, dan sesuai tuntutan pasar global.

“Kelapa sawit Indonesia bukan hanya komoditas perkebunan, tetapi telah menjadi kekuatan ekonomi nasional yang menggerakkan ekonomi daerah, menyejahterakan masyarakat, serta menjadi bagian penting dalam memenuhi kebutuhan minyak nabati dunia,” kata Mulono.

Sawit Setara Default Ad Banner

Berdasarkan data yang dipaparkannya, nilai ekspor sawit Indonesia pada 2025 mencapai sekitar US$28,5 miliar dengan volume ekspor mencapai 36,37 juta ton. Sementara produksi crude palm oil (CPO) nasional mencapai sekitar 46,55 juta ton.

Indonesia saat ini menguasai sekitar 58-62 persen pangsa produksi minyak sawit dunia dan sekitar 56 persen pangsa ekspor global. Dominasi tersebut menjadikan Indonesia sebagai produsen sekaligus eksportir minyak sawit terbesar di dunia.

Selain berkontribusi terhadap devisa negara, industri sawit juga berperan sebagai penyedia lapangan kerja dalam jumlah besar. Menurut Mulono, sektor ini menopang kehidupan lebih dari 16 juta tenaga kerja yang mencakup petani, buruh kebun, pekerja pabrik pengolahan, sektor logistik hingga berbagai usaha pendukung lainnya.

“Peran sawit tidak hanya terlihat dari angka ekspor, tetapi juga dari dampaknya terhadap kesejahteraan masyarakat. Sawit menjadi sumber penghidupan jutaan keluarga dan menggerakkan ekonomi di lebih dari 200 kabupaten di Indonesia,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Mulono juga memaparkan sejumlah tantangan yang saat ini dihadapi industri sawit nasional. Salah satu tantangan utama adalah produktivitas yang dinilai masih belum optimal, terutama pada perkebunan rakyat.

Ia mengungkapkan bahwa sekitar 30 persen kebun sawit rakyat membutuhkan program peremajaan (replanting) karena tanaman telah berusia tua dan produktivitasnya terus menurun. Di sisi lain, peningkatan luas areal perkebunan belum sepenuhnya diikuti oleh peningkatan produktivitas yang signifikan.

“Produktivitas menjadi pekerjaan rumah terbesar kita. Banyak kebun rakyat yang sudah tua, penggunaan benih unggul belum merata, dan adopsi teknologi masih perlu ditingkatkan,” katanya.

Sawit Setara Default Ad Banner

Selain persoalan produktivitas, industri sawit juga menghadapi tekanan global terkait isu lingkungan dan deforestasi. Menurut Mulono, pasar internasional kini semakin menuntut produk sawit yang dapat ditelusuri asal-usulnya, legal, dan bebas dari praktik deforestasi.

Ia menjelaskan bahwa berbagai regulasi internasional, termasuk European Union Deforestation Regulation (EUDR), menuntut industri sawit Indonesia untuk meningkatkan sistem ketertelusuran, pemetaan kebun, serta kepatuhan terhadap standar keberlanjutan.

“EUDR dan berbagai regulasi global lainnya harus dilihat sebagai tantangan sekaligus peluang untuk memperbaiki tata kelola industri sawit nasional agar semakin transparan dan berkelanjutan,” ujarnya.

Tantangan lainnya adalah perubahan iklim yang menyebabkan cuaca ekstrem, kekeringan, banjir, hingga meningkatnya risiko serangan hama dan penyakit tanaman. Kondisi tersebut berpotensi menurunkan produktivitas perkebunan apabila tidak diantisipasi dengan baik.

Karena itu, Mulono menilai penguatan praktik budidaya yang baik, inovasi teknologi, dan peningkatan kapasitas petani menjadi faktor penting untuk menjaga daya saing sawit Indonesia.

“Keunggulan sawit Indonesia ke depan tidak cukup hanya mengandalkan luas lahan atau volume produksi. Daya saing akan ditentukan oleh produktivitas, keberlanjutan, ketertelusuran, dan kepatuhan terhadap standar global,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, petani, akademisi, dan media menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan industri sawit Indonesia.

“Jika seluruh pihak bergerak bersama, saya optimistis sawit Indonesia akan tetap menjadi komoditas unggulan yang mampu menggerakkan ekonomi nasional sekaligus menjawab tuntutan keberlanjutan dunia,” katanya.


Berita Sebelumnya
Tata Kelola Sawit Rakyat Mandek, Indonesia Terancam Kehilangan Tambahan PDB Rp70,3 Triliun

Tata Kelola Sawit Rakyat Mandek, Indonesia Terancam Kehilangan Tambahan PDB Rp70,3 Triliun

Indonesia berisiko kehilangan tambahan produk domestik bruto (PDB) hingga Rp70,3 triliun serta peluang peningkatan ekspor ratusan juta dolar Amerika Serikat apabila persoalan tata kelola perkebunan sawit rakyat tidak segera dibenahi.

24 Juni 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *