
sawitsetara.co - PEKANBARU — Dewan Pengurus Pusat Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (DPP APKASINDO) menerima kunjungan sejumlah koperasi dari tujuh provinsi di Indonesia, Sabtu (10/10/20. Pertemuan di Kantor Perwakilan DPP APKASINDO di Pekanbaru itu membahas peluang kerja sama dan percepatan pengembangan usaha koperasi sawit.
Koperasi yang hadir berasal dari Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Banten, Jambi, dan Sumatera Utara. Rombongan didampingi Wakil Ketua Umum DPP APKASINDO Suhendrik serta Kepala Divisi Pembiayaan Syariah Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) Kementerian Koperasi, Saefuddin Zufri.
Kedatangan mereka disambut Ketua Umum DPP APKASINDO Dr. Ir. Gulat Medali Emas Manurung, MP., C.IMA., C.APO, dan Sekretaris Jenderal DPP APKASINDO Dr. (cn) Djono A. Burhan, S.Kom., MMgt (Int. Bus), CC, CL.
Pertemuan tersebut menjadi ruang bagi koperasi untuk memaparkan rencana bisnis sekaligus menjajaki dukungan pembiayaan. Sejumlah rencana yang dibahas mencakup pembangunan pabrik pupuk organik, pengolahan biomassa, serta pengembangan usaha pendukung perkebunan kelapa sawit.
Wakil Ketua Umum DPP APKASINDO Suhendrik menjelaskan, setiap koperasi memiliki potensi dan kebutuhan pengembangan yang berbeda. Karena itu, peluang kerja sama perlu disesuaikan dengan kondisi daerah dan kesiapan masing-masing koperasi.
“Memang ada beberapa potensi yang bisa dilakukan untuk pengembangan kelapa sawit. Tentunya nanti kerja sama agar cepat terealisasi,” kata Suhendrik.
Menurut dia, koordinasi lintas lembaga diperlukan untuk membantu koperasi mengidentifikasi kebutuhan usaha, mempersiapkan rencana pengembangan, dan menentukan langkah lanjutan agar peluang investasi dapat diwujudkan.
Dari sisi pembiayaan, Kepala Divisi Pembiayaan Syariah LPDB Kemenkop Saefuddin Zufri menyatakan keterbukaan lembaganya dalam mendukung pengembangan bisnis koperasi. Menurut dia, sektor sawit memiliki peluang usaha produktif yang dapat dipertimbangkan untuk memperoleh pembiayaan.
“Selama itu mendukung bisnis koperasi, di sinilah kami bisa masuk,” ujar Saefuddin.
Ia menjelaskan, koperasi perlu menyiapkan administrasi dan model bisnis sebelum mengajukan pembiayaan. Kelengkapan dokumen kelembagaan, laporan keuangan, perizinan, dan perhitungan kelayakan usaha menjadi bagian penting dalam proses penilaian.
“Banyak koperasi kita, mungkin secara bisnis jalan, tapi secara administrasi itu sering kali kurang,” katanya.
Karena itu, LPDB juga membuka ruang pendampingan bagi koperasi yang membutuhkan penguatan administrasi. Saefuddin menilai kesiapan tersebut penting agar rencana bisnis dapat dinilai secara menyeluruh, termasuk dari sisi kebutuhan investasi, potensi pendapatan, dan kemampuan pengembalian pembiayaan.
Ketua Umum DPP APKASINDO Gulat Medali Emas Manurung menyambut keterlibatan Kementerian Koperasi dalam pengembangan usaha koperasi sawit. Ia berharap pertemuan tersebut tidak berhenti pada pertukaran gagasan, tetapi berlanjut menjadi kerja sama yang memberikan manfaat bagi petani.
Gulat menilai koperasi perlu memperluas kegiatan ekonomi agar tidak hanya bergantung pada penjualan TBS. Pengembangan pabrik pupuk organik dan pengolahan hasil samping sawit dinilai dapat menjadi pilihan untuk menciptakan nilai tambah sekaligus membantu memenuhi kebutuhan sarana produksi perkebunan.
“Kami sangat berharap Kementerian Koperasi masuk, terutama terhadap pengembangan pabrik pupuk organik,” ujar Gulat.
Ia juga menekankan pentingnya memperhitungkan biaya produksi dan harga jual sebelum membangun fasilitas pengolahan. Menurut dia, usaha yang dikembangkan harus memiliki perhitungan ekonomi yang jelas agar dapat berjalan berkelanjutan dan memberikan manfaat nyata bagi anggota koperasi.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal DPP APKASINDO Djono A. Burhan turut hadir dalam penyambutan dan pembahasan bersama para perwakilan koperasi. Penguatan koordinasi antarpihak menjadi bagian penting dalam menindaklanjuti peluang kerja sama yang dibahas.
Kehadiran koperasi dari berbagai provinsi tersebut menunjukkan adanya peluang pengembangan usaha yang beragam di daerah. Namun, realisasi setiap rencana tetap membutuhkan persiapan teknis, kepastian bahan baku dan pasar, serta perhitungan kebutuhan investasi.
Melalui pertemuan ini, APKASINDO berharap koperasi dapat memanfaatkan peluang kerja sama dengan pemerintah untuk memperkuat kegiatan usaha. Dukungan pembiayaan dan pendampingan diharapkan membantu koperasi mengembangkan bisnis yang berkelanjutan sekaligus meningkatkan nilai tambah bagi petani kelapa sawit.
Tags:


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *