KONSULTASI
Logo

Biomassa Sawit RI Tembus Jepang, Ekspor PKS Tembus 5 Juta Ton per Tahun

1 April 2026
AuthorDwi Fatimah
EditorDwi Fatimah
Biomassa Sawit RI Tembus Jepang, Ekspor PKS Tembus 5 Juta Ton per Tahun

sawitsetara.co - Di tengah riuhnya transisi energi global, ada satu komoditas Indonesia yang bergerak senyap namun pasti menembus pasar internasional, yakni biomassa sawit.

Tanpa banyak sorotan, limbah perkebunan yang dulu kerap dipandang sebelah mata kini menjelma menjadi sumber energi terbarukan yang diburu Jepang. Produk seperti Palm Kernel Shell (PKS) atau cangkang sawit bahkan telah mencatat ekspor lebih dari 5 juta ton per tahun ke Negeri Sakura.

Angka ini bukan sekadar statistik perdagangan. Ia menjadi penanda babak baru hubungan dagang Indonesia–Jepang, terutama dalam sektor energi bersih.

Transformasi biomassa sawit menunjukkan perubahan besar dalam cara dunia memandang energi. Jika sebelumnya limbah seperti tandan kosong sawit (Empty Fruit Bunch/EFB) hanya menjadi sisa produksi, kini ia diolah menjadi pelet energi bernilai tinggi.

Indonesia pun tak ingin berhenti pada PKS. Pengembangan EFB pellet mulai didorong sebagai “amunisi baru” untuk memperluas dominasi di pasar biomassa Jepang.

Ketua APCASI, Dikki Akhmar, menegaskan bahwa fondasi pasar sebenarnya sudah terbentuk.

“PKS sudah punya pasar kuat dalam tiga tahun terakhir. Sekarang fokus kita memperluas dengan EFB pellet yang potensinya sangat besar,” ujarnya.

Langkah ekspansi ini semakin nyata saat Indonesia tampil dalam International Biomass Expo 2026 di Tokyo Big Sight, 17–19 Maret lalu. Ajang ini menjadi etalase penting untuk menunjukkan kapasitas biomassa Indonesia kepada pelaku industri global.

Di sana, Indonesia tak hanya hadir sebagai peserta, tetapi sebagai pemain yang mulai diperhitungkan dalam rantai pasok energi terbarukan dunia.

Di balik ekspor yang terus meningkat, tersimpan potensi luar biasa. Biomassa sawit Indonesia diperkirakan mencapai 232 juta metrik ton per tahun.

Jika dimanfaatkan secara optimal, potensi ini setara dengan kapasitas pembangkit listrik hingga 38.760 megawatt (MW)—angka yang mampu memasok kebutuhan energi jutaan rumah tangga.

Potensi ini menjadikan biomassa sawit layaknya “harta karun energi” yang selama ini tersembunyi di balik aktivitas perkebunan.

Dari sisi hubungan bilateral, ekspor biomassa juga memperkuat diplomasi ekonomi Indonesia di Jepang.

Wakil Duta Besar RI untuk Jepang, Maria Renata Hutagalung, menilai tren ini memberikan dampak positif terhadap neraca perdagangan sekaligus membuka peluang kerja sama yang lebih luas.

“Kami akan terus mendorong promosi dan ekspansi biomassa sawit Indonesia di Jepang,” ujarnya.

Upaya memperkuat posisi di pasar Jepang juga ditopang oleh peningkatan kualitas dan inovasi. Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) aktif membiayai riset untuk meningkatkan nilai tambah produk biomassa.

Direktur BPDP, Lupi Hartono, menekankan pentingnya inovasi agar produk Indonesia tidak hanya kompetitif, tetapi juga unggul.

Di sisi lain, PT Sucofindo menggandeng Japan Quality Assurance untuk memastikan biomassa Indonesia memenuhi standar ketat Jepang—pasar yang dikenal sangat selektif terhadap kualitas.

Pemerintah melihat biomassa sawit sebagai komoditas strategis masa depan. Meningkatnya permintaan global terhadap energi ramah lingkungan membuka peluang besar bagi Indonesia untuk memperluas pasar.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan, Fajarini Puntodewi, menegaskan komitmen pemerintah dalam membuka akses pasar internasional bagi produk biomassa.

“Permintaan energi terbarukan terus meningkat. Ini momentum bagi Indonesia untuk menjadi pemasok utama energi alternatif,” katanya.

Kini, biomassa sawit bukan lagi sekadar limbah. Ia telah bertransformasi menjadi komoditas bernilai tinggi yang mengalir dari perkebunan tropis Indonesia hingga pembangkit listrik di Jepang.

Pergerakannya mungkin tidak selalu terlihat, namun dampaknya kian terasa.

Seperti arus bawah laut yang tenang tapi kuat, biomassa sawit Indonesia perlahan namun pasti tengah mengukuhkan posisinya di panggung energi global.


Berita Sebelumnya
April 2026, BK CPO Sebesar USD 148/MT

April 2026, BK CPO Sebesar USD 148/MT

Kementerian Perdagangan (Kemendag) menetapkan Harga Referensi (HR) komoditas minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO) untuk penetapan Bea Keluar (BK) dan tarif Badan Layanan Umum Badan Pengelola Dana Perkebunan (BLU BPDP), atau biasa dikenal sebagai Pungutan Ekspor (PE), periode 1—30 April 2026 sebesar USD 989,63/metric ton (MT). Nilai ini meningkat USD 50,76 atau 5,41 persen dari HR CPO periode 1—31 Maret 2026 yang sebesar USD 938,87/MT.

31 Maret 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *