KONSULTASI
Logo

BRIN Bidik Listrik 3,9 GW dari Limbah Sawit, Biogas Juga Disiapkan Jadi Alternatif LPG

29 Oktober 2026
AuthorDwi Fatimah
EditorDwi Fatimah
BRIN Bidik Listrik 3,9 GW dari Limbah Sawit, Biogas Juga Disiapkan Jadi Alternatif LPG
HOT NEWS

sawitsetara.co – Limbah cair kelapa sawit atau palm oil mill effluent (POME) berpotensi menjadi sumber energi alternatif yang dapat memperkuat ketahanan energi Indonesia. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkirakan pemanfaatan POME untuk pembangkit listrik tenaga biogas (PLTBg) berpotensi menghasilkan kapasitas listrik hingga 3,9 gigawatt (GW).

Ketua BRIN Arif Satria mengatakan, potensi tersebut menjadi salah satu peluang pengembangan energi baru berbasis sumber daya domestik yang dilaporkan kepada Presiden. Melalui penerapan teknologi pengolahan limbah, industri kelapa sawit tidak hanya menghasilkan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO), tetapi juga dapat memasok energi dari sisa proses produksinya.

“Tadi kami juga melaporkan kepada Bapak Presiden sejumlah potensi energi yang dapat dikembangkan, salah satunya melalui pemanfaatan limbah sawit menjadi biogas,” ujar Arif.

Menurut Arif, pemanfaatan limbah tersebut membuka peluang untuk mengembangkan sumber energi alternatif sekaligus mengurangi dampak lingkungan dari kegiatan industri kelapa sawit.

Besarnya peluang pengembangan energi dari limbah sawit ditopang oleh skala produksi perkebunan kelapa sawit nasional. Arif menyebut produksi tandan buah segar (TBS) Indonesia mencapai sekitar 328,43 juta ton per tahun, sedangkan volume POME diperkirakan mencapai 229,9 juta meter kubik per tahun.

HUT APKASINDO - DPD BANGKA SELATAN

Selama ini, POME menjadi salah satu sumber emisi gas metana apabila tidak dikelola dengan baik. Padahal, gas yang dihasilkan dari pengolahan limbah tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar untuk menghasilkan energi.

Arif menilai, pengembangan teknologi pengolahan POME menjadi biogas perlu diperluas agar potensi tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal.

“Melalui pemanfaatan teknologi untuk mengolah limbah tersebut menjadi biogas, kita dapat mengubahnya menjadi sumber energi alternatif,” ungkapnya.

Dalam praktiknya, biogas dari POME dapat digunakan sebagai bahan bakar mesin pembangkit listrik maupun untuk mendukung kebutuhan energi operasional pabrik kelapa sawit. Dengan demikian, limbah yang sebelumnya berpotensi menimbulkan emisi dapat diolah menjadi sumber energi yang memiliki nilai ekonomi.

Tak hanya membidik produksi listrik, BRIN juga melihat peluang pemanfaatan biogas untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG.

Arif menyebut nilai impor LPG Indonesia mencapai sekitar Rp97 triliun per tahun. Menurutnya, pengembangan biogas perlu diarahkan agar gas tersebut dapat disimpan dan didistribusikan dalam tabung sehingga penggunaannya tidak terbatas pada lokasi pabrik kelapa sawit.

Untuk mendukung upaya tersebut, BRIN memperkenalkan teknologi Metal-Organic Framework (MOF), yaitu material berpori yang berpotensi digunakan untuk menyimpan gas dalam jumlah lebih besar melalui mekanisme adsorpsi.

HUT APKASINDO - DPD BANGKA SELATAN

Teknologi ini diharapkan dapat mendukung pengembangan sistem penyimpanan biogas yang lebih praktis. Namun, penerapannya untuk distribusi biogas dalam tabung tetap membutuhkan pengembangan teknologi lanjutan, termasuk pemurnian gas, pengujian keselamatan, dan penyesuaian sistem penyimpanan.

“Dengan adanya teknologi yang memungkinkan biogas dikonversi menjadi gas tabung, saya kira hal ini dapat menjadi salah satu solusi untuk memenuhi kebutuhan energi Indonesia pada masa depan,” pungkas Arif.

Secara teknis, pengolahan POME melalui proses pencernaan anaerobik dapat menghasilkan biogas dengan kandungan metana sekitar 60–65%. Gas tersebut dapat digunakan sebagai bahan bakar boiler atau dikonversi menjadi listrik menggunakan mesin pembangkit berbahan bakar gas (gas engine).

Pengembangan PLTBg berbasis POME juga membuka peluang bagi pabrik kelapa sawit untuk meningkatkan efisiensi energi, mengurangi emisi metana, dan menciptakan nilai tambah dari limbah produksi. Apabila energi yang dihasilkan melebihi kebutuhan operasional, listrik berpotensi disalurkan ke jaringan sesuai ketentuan yang berlaku.

Meski demikian, realisasi potensi listrik hingga 3,9 GW bergantung pada kesiapan investasi, infrastruktur pengolahan limbah, teknologi, serta skema pemanfaatan dan penyaluran energi.

Bagi industri kelapa sawit Indonesia, pengembangan energi berbasis POME berpotensi memperluas peran sektor ini dalam mendukung transisi energi nasional. Tantangannya adalah memastikan potensi yang besar tersebut dapat diterjemahkan menjadi proyek yang layak secara teknis dan ekonomi, sekaligus memberikan manfaat bagi industri dan masyarakat di sekitar perkebunan.


Berita Sebelumnya
Bappenas Dorong Kekompakan Petani untuk Jaga Harga TBS Sawit

Bappenas Dorong Kekompakan Petani untuk Jaga Harga TBS Sawit

Pesan itu disampaikan Rachmat saat memberikan sambutan dalam Pertemuan Nasional Petani Kelapa Sawit Indonesia (PENAS) III APKASINDO di Jakarta, Rabu (28/10/2026). Agenda yang didukung Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) tersebut menjadi forum konsolidasi petani sawit untuk merumuskan langkah strategis bagi peningkatan kesejahteraan pekebun.

28 Oktober 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *