KONSULTASI
Logo

Dosen Politeknik Lamandau Sulap Gulma Invasif Kebun Sawit Jadi Kertas Ramah Lingkungan

5 Agustus 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorHendrik Khoirul
Dosen Politeknik Lamandau Sulap Gulma Invasif Kebun Sawit Jadi Kertas Ramah Lingkungan

sawitsetara.co - LAMANDAU – Gulma invasif yang selama ini dianggap sebagai pengganggu di perkebunan kelapa sawit ternyata dapat diubah menjadi bahan baku kertas. Tim dosen Politeknik Lamandau, Kalimantan Tengah, berhasil mengembangkan teknologi pembuatan pulp dan kertas berbahan gulma sekaligus merancang mesin pengolahnya sendiri.

Tim gabungan dari Program Studi Teknologi Produksi Tanaman Perkebunan dan Program Studi Teknologi Produksi Ternak itu mengidentifikasi sedikitnya 12 jenis gulma berdaun lebar yang umum tumbuh merambat maupun membentuk semak di areal perkebunan sawit. Selain itu, mereka juga meneliti kelompok teki, rumput, dan paku-pakuan yang selama ini dikategorikan sebagai gulma invasif.

Beberapa jenis yang diteliti antara lain Asystasia gangetica, Mikania micrantha, Melastoma malabathricum, Mimosa pudica, dan Scleria sumatrensis. Seluruh jenis tersebut diuji untuk mengetahui potensi seratnya sebagai bahan baku pulp.

“Kesimpulannya, semua gulma dapat digunakan lalu dicampur atau dikompositkan,” kata Ketua Tim Peneliti, Ika Fitriana Dyah Ratnasai, Ahad (2/8/2026), dikutip Tempo.

apkasindo

Menurut Ika, gulma memiliki kandungan lignoselulosa yang berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku pulp dan kertas. Untuk mengolahnya, tim menggunakan WAW-25 Pulp Machine yang berfungsi menghaluskan gulma yang telah dikumpulkan dan dicuci. Mesin pengolah pulp dan kertas berbasis gulma dan limbah pertanian tersebut merupakan rancangan tim sendiri dan meraih Juara I Lomba Inovasi Teknologi Tepat Guna Tingkat Provinsi Kalimantan Tengah pada 2025.

Setelah dicacah, bahan ditiriskan dan dikeringkan menggunakan angin sebelum dioven pada suhu 75 derajat Celsius selama 24 jam. Tahap berikutnya adalah delignifikasi, yakni pemisahan selulosa dari lignin menggunakan larutan natrium hidroksida (NaOH) agar kadar lignin berkurang dan diperoleh serat selulosa yang siap diolah menjadi bubur kertas.

Tim menguji delapan kombinasi proses pengolahan. Hasil terbaik diperoleh dengan penggunaan NaOH 10 persen, waktu delignifikasi selama 90 menit, serta penambahan bubuk talek sebanyak 10 persen dari bobot gulma kering 100 gram.

“Karena menghasilkan gramatur kertas, kekuatan tarik, ketahanan sobek, serta tingkat kesukaan panelis dipilih yang tertinggi,” ujar Ika.

Ia menjelaskan, proses delignifikasi yang optimal menghasilkan serat yang lebih bersih sehingga ikatan antarserat menjadi lebih kuat. Sementara itu, penambahan bubuk talek meningkatkan homogenitas permukaan kertas.

Pulp yang dihasilkan kemudian dianalisis berdasarkan rendemen, kadar air, dan morfologi serat. Setelah itu, bubur kertas dicetak menggunakan bingkai berukuran A6 dan dikeringkan di bawah sinar matahari sebelum menjalani pengujian fisik.

apkasindo

Hasil pengujian menunjukkan gramatur kertas mencapai 124,1 gram per meter persegi. Nilai kekuatan tarik tertinggi mencapai 7,85 kiloNewton per meter (kN/m), sedangkan ketahanan sobek tertinggi mencapai 508 miliNewton (mN). Dibandingkan kertas buku tulis pada umumnya, produk tersebut memiliki karakter lebih tebal dan berat.

“Kalau untuk kekuatan sobek dan kekuatan tariknya sesuai untuk kertas kerajinan tangan,” kata Ika.

Selain pengujian laboratorium, tim juga melakukan uji organoleptik hedonik terhadap 30 panelis yang berasal dari kalangan akademisi, praktisi perkebunan, masyarakat umum, dan instansi pemerintah. Penilaian dilakukan melalui wawancara langsung menggunakan skala 1–3 terhadap aspek warna, tekstur, kenampakan serat, aroma, serta tingkat kesukaan secara keseluruhan.

Dalam pengembangannya, tim sengaja tidak menggunakan proses pemutihan (bleaching) agar tidak menghasilkan limbah berbahaya. Kertas yang dihasilkan pun mempertahankan warna alami kecokelatan.

Sementara itu, air lindi hitam hasil proses delignifikasi tidak dibuang, melainkan dimanfaatkan sebagai pupuk organik cair. Cairan tersebut dinilai berpotensi meningkatkan aktivitas mikroba tanah, mempercepat pertumbuhan daun dan akar tanaman, membantu mengikat logam berat, serta memperbaiki struktur tanah.

Tim peneliti terdiri atas Ika Fitriana Dyah Ratnasai, Roni Ismoyojati, Lailatun Nisfimawardah, Firdaus Husein, Kristina Pare, Asmaul Muslivah, Sri Ayu Winnasih, dan Ilham Febriansyah. Pengembangan teknologi ini juga melibatkan Karya Teknik Agri di Kalimantan Tengah.

Tags:

Berita SawitSawit

Berita Sebelumnya
Ketapang Jadi Penerima DBH Sawit Terbesar 2025, Riau Tempatkan Lima Kabupaten di Jajaran Teratas

Ketapang Jadi Penerima DBH Sawit Terbesar 2025, Riau Tempatkan Lima Kabupaten di Jajaran Teratas

Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, menjadi daerah dengan realisasi Dana Bagi Hasil (DBH) Sumber Daya Alam (SDA) dari komoditas sawit terbesar pada Tahun Anggaran 2025. Berdasarkan Laporan Realisasi Anggaran Transfer Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam Tahun Anggaran 2025 yang dikutip CNBC Indonesia, Ketapang menerima DBH hasil sawit sebesar sekitar Rp18,13 miliar.

4 Agustus 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *