KONSULTASI
Logo

DSI Diusulkan Fokus Integrasi Data, Bukan Jadi Off-Taker Ekspor Komoditas Strategis

22 September 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorHendrik Khoirul
DSI Diusulkan Fokus Integrasi Data, Bukan Jadi Off-Taker Ekspor Komoditas Strategis

sawitsetara.co - JAKARTA — Peran PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) dalam mengawasi ekspor komoditas strategis nasional kembali menjadi sorotan. Dalam diskusi publik yang digelar Diskursus Network bersama NEXT Indonesia Center, Rabu (17/9/2026), sejumlah pihak mendorong agar DSI lebih diarahkan pada fungsi integrasi data, analisis risiko, dan verifikasi ekspor ketimbang mengambil alih transaksi sebagai off-taker.

Direktur Eksekutif NEXT Indonesia Center, Christiantoko, mengatakan tiga komoditas strategis, yakni kelapa sawit, batu bara, dan bijih nikel/feroaloy, memiliki kontribusi besar terhadap ekspor nasional. Ketiganya disebut menyumbang sekitar US$71,1 miliar atau 25,2 persen dari total ekspor Indonesia pada 2025.

Menurutnya, pengalaman sejumlah negara menunjukkan model lembaga sebagai off-taker tunggal memiliki risiko, antara lain monopoli dan persoalan kesesuaian dengan aturan perdagangan internasional. Sebagai alternatif, DSI dapat mengembangkan model pusat integrasi data seperti ASAC di Amerika Serikat dan TradeTrust di Singapura.

“Keberhasilan DSI diukur dari perbaikan tata kelola, bukan dari volume yang berhasil dijual,” kata Christiantoko.

apkasindo

Ia menilai peran sebagai off-taker juga akan membuat DSI menanggung risiko finansial dan komersial, mulai dari kebutuhan modal kerja hingga fluktuasi harga komoditas global. Dengan nilai transaksi tiga komoditas yang dapat mencapai sekitar Rp1.000 triliun, skema tersebut dinilai membutuhkan kajian fiskal yang serius.

Guru Besar FEB Universitas Indonesia, Prof. Telisa Aulia Falianty, mengatakan celah yang perlu diperkuat saat ini adalah fungsi verifikasi independen atas kewajaran harga dan volume ekspor. DSI, menurut dia, dapat menjadi verifikator sekaligus pemberi second opinion bagi kementerian/lembaga terkait.

Sementara itu, Anggota Komisi VI DPR RI Ahmad Labib mengingatkan bahwa DSI merupakan perseroan terbatas di bawah BUMN dan bukan lembaga regulator. Ia meminta keberadaan DSI tidak justru memperpanjang rantai niaga, meningkatkan biaya logistik, atau mengganggu ekosistem pasar.

Forum tersebut pada akhirnya mengarah pada satu titik temu, yakni perlunya memperkuat integrasi data dan pengawasan ekspor tanpa mengambil alih transaksi komersial yang selama ini berjalan melalui mekanisme pasar.

apkasindo

Tags:

Berita Sawit

Berita Sebelumnya
Prabowo Sebut Indonesia Berhasil Olah Sawit Jadi Solar dan Bensin

Prabowo Sebut Indonesia Berhasil Olah Sawit Jadi Solar dan Bensin

Presiden Prabowo Subianto mengatakan Indonesia telah berhasil mengembangkan teknologi untuk mengolah kelapa sawit menjadi bahan bakar minyak. Menurut dia, hasil riset akademisi dalam negeri itu mencakup solar dan bensin.

21 September 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *