KONSULTASI
Logo

Dr. Darmono Taniwiryono: Indonesia Produsen Benih Sawit Terbesar, Jangan Dibalik. Perlu Pikirkan Konsekuensi Ini

11 Januari 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorDwi Fatimah
Dr. Darmono Taniwiryono: Indonesia Produsen Benih Sawit Terbesar, Jangan Dibalik. Perlu Pikirkan Konsekuensi Ini
HOT NEWS

sawitsetara.co - Indonesia selama ini dikenal sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia. Namun belakangan, ruang publik diwarnai narasi yang menyebut adanya ironi Indonesia disebut sebagai “raja sawit dunia” tetapi masih mengimpor benih dari Afrika.

Pakar bioteknologi perkebunan kelapa sawit Indonesia yang juga Ketua Umum Masyarakat Perkelapasawitan Indonesia (MAKSI), Dr. Darmono Taniwiryono, menilai narasi tersebut berangkat dari salah kaprah dan berpotensi menyesatkan arah kebijakan.

Masalah utama sawit nasional, menurut Dr. Darmono, bukanlah ketergantungan pada benih impor, melainkan keterbatasan keragaman genetik tanaman sawit yang telah berlangsung selama puluhan tahun.

“Yang kita hadapi saat ini adalah genetic bottleneck, bukan ketergantungan benih. Dua hal itu sangat berbeda dan tidak boleh dicampuradukkan,” ujarnya pada Minggu (11/1/2026).

Basis Genetik Sempit, Risiko Struktural Meningkat

Ia menjelaskan, kelapa sawit (Elaeis guineensis) merupakan tanaman asli Afrika Barat dan Tengah. Introduksi awal ke Asia Tenggara dilakukan dari jumlah individu yang relatif sangat terbatas. Selanjutnya, bahan tanam tersebut diperbanyak secara luas dengan menggunakan tetua yang kurang beragam.

Sawit Setara Default Ad Banner

Strategi ini memang berhasil mendorong produktivitas pada fase awal pengembangan industri. Namun di sisi lain, basis genetik sawit justru semakin menyempit.

“Produktivitas yang stagnan, keterbatasan adaptasi terhadap perubahan iklim, dan tingginya kerentanan terhadap penyakit seperti Ganoderma adalah konsekuensi logis dari keragaman genetik yang sempit,” katanya.

Impor Genetik untuk Riset, Bukan untuk Pasar

Dalam disiplin ilmu pemuliaan tanaman, perluasan plasma nutfah merupakan praktik baku yang lazim dilakukan oleh negara produsen utama. Malaysia, Kolombia, hingga Brasil secara aktif mengoleksi sumber genetik dari pusat asal tanaman untuk memperkaya materi pemuliaan jangka panjang.

Indonesia, menurut Dr. Darmono, menempuh jalur yang sama. Impor materi genetik sawit dari Afrika dilakukan bukan untuk kebutuhan tanam komersial, melainkan murni untuk kepentingan riset.

Sawit Setara Default Ad Banner

“Materi genetik yang dikoleksi itu tidak masuk pasar, tidak dijual, dan tidak ditanam secara massal. Fungsinya untuk koleksi plasma nutfah, pre-breeding, dan pengembangan varietas unggul jangka panjang,” jelasnya.

Ia menambahkan, proses pemuliaan dari tahap eksplorasi genetik hingga pelepasan varietas baru membutuhkan waktu sangat panjang. “Bicara pemuliaan sawit, itu investasi 15 sampai 25 tahun, bukan solusi instan,” ujarnya.

Ganoderma dan Kebutuhan Diversifikasi Genetik

Dr. Darmono memaparkan, penyakit busuk pangkal batang akibat Ganoderma boninense hingga kini masih menjadi persoalan struktural di banyak perkebunan sawit Indonesia. Berbagai pendekatan pengendalian telah diterapkan, mulai dari sanitasi kebun, pengelolaan lahan, hingga pemanfaatan agens hayati seperti Trichoderma.

Namun para pakar menilai, tanpa diversifikasi genetik tanaman, upaya tersebut cenderung hanya bersifat sementara.

Sawit Setara Default Ad Banner

“Ketahanan genetik adalah pilar utama pengendalian penyakit jangka panjang. Kalau basis genetiknya sempit, maka seluruh populasi sawit akan terus rentan terhadap patogen yang sama,” kata peneliti tersebut.

Tidak Mengancam Industri Benih Nasional

Kekhawatiran bahwa impor materi genetik akan melemahkan industri benih dalam negeri juga dinilai tidak berdasar. Indonesia justru disebut memiliki industri benih sawit yang maju dengan sistem sertifikasi yang sangat ketat.

“Kebutuhan benih nasional sepenuhnya dipenuhi produsen dalam negeri. Tidak ada benih impor yang dilepas ke petani,” tegasnya.

Ia menilai, mengaitkan kegiatan koleksi plasma nutfah dengan ancaman terhadap petani kecil maupun industri benih nasional merupakan kekeliruan konseptual. “Itu riset hulu, bukan aktivitas komersial,” ujarnya.

Meluruskan Persepsi Publik

Pihaknya menekankan bahwa peningkatan produktivitas dan keberlanjutan sawit Indonesia hanya dapat dicapai melalui pendekatan sistemik. Perbaikan tata kelola kebun, kesehatan tanah, pengendalian penyakit terpadu, serta pemuliaan varietas unggul berbasis keragaman genetik luas harus berjalan beriringan.

Sawit Setara Default Ad Banner

“Upaya koleksi plasma nutfah seharusnya dipahami sebagai bentuk keseriusan Indonesia menjaga kepemimpinan global sawit berbasis sains,” katanya.

Alih-alih dipersepsikan sebagai ironi, langkah ini justru mencerminkan investasi jangka panjang untuk memastikan industri sawit nasional tetap produktif, adaptif, dan berkelanjutan di tengah tantangan global yang semakin kompleks.


Berita Sebelumnya
Wanti-Wanti GIMNI: Transformasi ke B50 Harus Hati-Hati, Jangan Sampai Jadi Beban Ekonomi Baru

Wanti-Wanti GIMNI: Transformasi ke B50 Harus Hati-Hati, Jangan Sampai Jadi Beban Ekonomi Baru

Rencana pemerintah untuk meningkatkan campuran biodiesel dari B40 menjadi B50 menuai perhatian serius dari pelaku industri sawit.

| Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *