
sawitsetara.co - JAKARTA — Ketua Umum Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo), Dr. Ir. Gulat Medali Emas Manurung, menegaskan bahwa kelapa sawit bukan sekadar komoditas perkebunan, melainkan salah satu fondasi utama ekonomi dan ketahanan energi Indonesia di tengah gejolak global.
Hal itu disampaikannya dalam webinar bertajuk “Sawit Kita, Masa Depan Kita: Membangun Negeri dari Kebun Sawit” pada Jumat (15/5/2026) yang ditaja Cerita Sultan X, YouTuber terkenal yang memotivasi anak-anak muda melihat indonesia lebih dekat, termasuk peluang bisnis sawit.
Dalam paparannya, Gulat mengaku telah meyakini potensi besar sawit sejak masih kuliah di Fakultas Pertanian. Menurutnya, sawit kini terbukti menjadi lokomotif ekonomi nasional, terutama saat dunia mulai meninggalkan energi fosil.
“Ketika dunia kehilangan bahan bakar fosil, Indonesia tidak separah negara lain. Itu karena ada minyak sawit,” ujar Gulat.

Ia menjelaskan, minyak sawit memiliki banyak fungsi, mulai dari kebutuhan pangan seperti minyak goreng dan mentega, bahan oleokimia untuk sampo dan obat-obatan, hingga energi terbarukan seperti biodiesel dan bahan bakar pesawat terbang.
Menurutnya, Indonesia saat ini menjadi negara terdepan dalam pemanfaatan biodiesel berbasis sawit. Program B40 yang menggunakan campuran 40 persen sawit dan 60 persen solar disebut menjadi bukti nyata dominasi Indonesia di sektor energi hijau.
“Per 1 Juli nanti akan naik menjadi B50. Kita yang terbesar di dunia. Negara lain masih jauh di bawah Indonesia,” katanya.
68 Persen Produksi Sawit Dunia dari Indonesia
Gulat menyebut sekitar 68 persen produksi minyak sawit dunia berasal dari Indonesia. Dengan luas perkebunan mencapai sekitar 17 juta hektare, sawit dinilai memiliki dampak ekonomi yang sangat besar bagi masyarakat.
Menariknya, kata dia, sekitar 6,8 juta hektare perkebunan sawit nasional justru dikelola oleh petani, bukan korporasi besar.
“Banyak orang mengira sawit dikuasai oligarki. Padahal petani memegang peranan besar di industri ini,” ujarnya.
Ia juga menyoroti efek berantai industri sawit yang menyentuh berbagai sektor kehidupan masyarakat. Menurutnya, hampir seluruh aktivitas sehari-hari tidak lepas dari produk turunan sawit.
“Dari bangun tidur sampai tidur lagi kita ketemu sawit. Pasta gigi, sampo, minyak goreng, biodiesel, semuanya ada unsur sawit,” katanya.
Saat ini Indonesia disebut telah menghasilkan lebih dari 204 produk turunan sawit yang terbagi dalam sektor pangan, oleokimia, dan energi.

Perang Iran Dorong Harga CPO
Gulat juga menyinggung dampak konflik geopolitik dunia terhadap harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO).
Ia menyebut perang di kawasan Timur Tengah, termasuk Iran, membuat distribusi minyak fosil terganggu sehingga permintaan biodiesel berbasis sawit meningkat drastis.
“Harga CPO naik dari sekitar Rp14.000 menjadi Rp15.800 per kilogram karena negara-negara mulai mencari alternatif energi,” jelasnya.
Meski demikian, ia mengingatkan agar kenaikan harga tersebut tidak dijadikan alasan untuk bersukacita atas konflik yang terjadi.
“Kita tidak boleh tepuk tangan atas penderitaan negara lain. Tetapi memang dampaknya pemasukan negara ikut naik,” katanya.
Kritik Banyaknya Regulasi Sawit
Dalam kesempatan itu, Gulat juga mengkritik banyaknya kementerian dan lembaga yang mengatur sektor sawit. Menurutnya, saat ini terdapat sekitar 37 kementerian dan lembaga yang membuat regulasi terkait sawit.
Ia menilai kondisi tersebut justru membebani petani sawit, termasuk munculnya kewajiban sertifikasi halal untuk minyak sawit mentah.
“Sawit mentah itu tidak dimakan langsung, tapi tetap diwajibkan sertifikasi halal. Itu menjadi tambahan biaya bagi petani,” ujarnya.
Karena itu, Apkasindo mendorong pembentukan Badan Otoritas Sawit Indonesia agar seluruh kebijakan sawit berada di bawah satu lembaga khusus.
Sawit dan Kampanye Negatif Dunia
Gulat juga membantah tudingan bahwa sawit menjadi penyebab utama deforestasi. Ia menyebut isu tersebut lebih banyak dipengaruhi persaingan dagang global.
“Ini politik dagang. Mereka juga produsen minyak nabati dari kedelai dan bunga matahari. Jadi mereka menjelekkan sawit supaya produk mereka laku,” katanya.
Ia bahkan menyebut produktivitas sawit jauh lebih tinggi dibanding tanaman minyak nabati lain. Untuk menghasilkan satu ton minyak nabati, sawit hanya membutuhkan lahan sekitar 0,7 hektare, sedangkan tanaman lain bisa mencapai tujuh hektare.

Petani Sawit Dinilai Punya Masa Depan Cerah
Selain membahas industri besar, Gulat juga menyoroti peluang besar generasi muda di sektor sawit. Ia menyebut banyak lini usaha yang masih terbuka, mulai dari perdagangan CPO, bisnis cangkang sawit, hingga minyak jelantah yang kini bernilai ekonomi tinggi.
Ia menegaskan berkebun sawit memang membutuhkan modal dan kesabaran di awal, namun memiliki prospek jangka panjang yang menjanjikan.
“Tidak harus sarjana pertanian untuk sukses di sawit. Yang penting tekun dan mau belajar,” ujarnya.
Di akhir pemaparannya, Gulat mengajak masyarakat memandang sawit sebagai bagian penting dari identitas dan kekuatan ekonomi Indonesia.
“Marilah kita memandang sawit itu adalah Indonesia. Bukan sekadar milik petani atau korporasi,” tutupnya.
Tags:



Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *