KONSULTASI
Logo

Ekspor Perdana Lidi Sawit ke China, Limbah Kebun Berubah Jadi Sumber Penghasilan Baru Petani

22 Juni 2026
AuthorDwi Fatimah
EditorDwi Fatimah
Ekspor Perdana Lidi Sawit ke China, Limbah Kebun Berubah Jadi Sumber Penghasilan Baru Petani

sawitsetara.co - PEKANBARU - Siapa sangka lidi sawit yang selama ini kerap dianggap limbah perkebunan kini mampu menembus pasar internasional. Sebanyak 28 ton lidi sawit asal Riau, Sumatera Utara, dan Aceh resmi diekspor perdana ke China, membuka peluang ekonomi baru bagi ribuan petani sawit dan pelaku UMKM di daerah sentra perkebunan.

Ekspor perdana tersebut dilepas melalui kolaborasi antara Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perusahaan Inti Rakyat (ASPEKPIR) Indonesia, dan PT Arra Setya Abadi sebagai eksportir, pada Rabu (17/6/2026).

Lidi sawit yang diekspor merupakan hasil pengumpulan petani, UMKM, dan koperasi anggota ASPEKPIR yang selama ini mengikuti program pemberdayaan dan pelatihan pengolahan produk turunan sawit yang didukung BPDP. Produk yang sebelumnya dianggap tidak memiliki nilai ekonomi itu kini menjadi komoditas ekspor dengan prospek pasar yang menjanjikan.

Direktur Hukum dan Kerja Sama BPDP melalui Analis Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP, Anwar Sadat, mengatakan keberhasilan ekspor perdana tersebut membuktikan bahwa limbah sawit dapat diolah menjadi produk bernilai tinggi dan memberikan manfaat ekonomi langsung bagi masyarakat.

“BPDP sangat mendukung dan mengapresiasi kegiatan ini karena mampu memberikan manfaat ekonomi langsung kepada masyarakat serta menunjukkan bahwa limbah sawit dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai jual tinggi,” kata Anwar Sadat dalam keterangannya, Sabtu (20/6/2026).

turut berduka

Menurutnya, lidi sawit memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi berbagai produk bernilai tambah, mulai dari bahan baku ekspor hingga aneka kerajinan yang dapat diproduksi UMKM di berbagai daerah.

Anwar menjelaskan, BPDP selama ini terus mendorong penguatan sektor perkebunan melalui berbagai program strategis, antara lain Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), bantuan Sarana dan Prasarana, Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan, Penelitian dan Pengembangan, serta Promosi Perkebunan.

Ia menilai keberhasilan ekspor lidi sawit menjadi bukti bahwa industri sawit memiliki manfaat yang luas dan inklusif karena melibatkan banyak pelaku usaha dalam rantai pasoknya.

“Rantai pasok produksi lidi sawit melibatkan banyak pihak, mulai dari petani, pengrajin, koperasi hingga pelaku ekspor, sehingga mampu memberikan efek ganda terhadap penyerapan tenaga kerja dan peningkatan ekonomi daerah,” ujarnya.

turut berduka

BPDP bersama ASPEKPIR juga telah aktif melakukan promosi dan pengembangan usaha berbasis lidi sawit melalui berbagai workshop dan kegiatan diseminasi sejak 2024. Kegiatan tersebut telah dilaksanakan di sejumlah daerah seperti Kabupaten Siak, Kampar, Bengkalis, Muaro Jambi, Belitung Timur, hingga Pasangkayu, Sulawesi Barat.

Sementara itu, Ketua Umum ASPEKPIR Indonesia, Setiyono, menyebut ekspor perdana ini merupakan buah dari rangkaian program pemberdayaan UMKM dan koperasi yang selama beberapa tahun terakhir dijalankan bersama BPDP.

Menurutnya, sedikitnya tujuh koperasi anggota ASPEKPIR terlibat dalam penyediaan bahan baku ekspor tersebut. Kehadiran koperasi sebagai bagian dari rantai pasok diperkirakan memberikan manfaat ekonomi kepada sekitar 2.800 anggota koperasi yang tersebar di berbagai daerah.

“Ekspor perdana ini membuktikan bahwa lidi sawit yang selama ini kurang dimanfaatkan ternyata memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Kami berharap semakin banyak petani sawit yang tertarik menjadikan pengumpulan dan pengolahan lidi sawit sebagai sumber penghasilan tambahan,” ujar Setiyono.

Direktur Utama PT Arra Setya Abadi, Ilham Setiadi, menambahkan bahwa sejak akhir 2024 pihaknya bersama ASPEKPIR dan BPDP telah melakukan sosialisasi serta pendampingan pengembangan usaha ekspor lidi sawit di berbagai sentra perkebunan.

Ia mengungkapkan permintaan pasar internasional terhadap produk lidi sawit terus meningkat sehingga peluang usaha ini masih sangat terbuka bagi petani dan UMKM.

Keberhasilan ekspor perdana ke China juga menjadi bukti bahwa sektor sawit tidak hanya menghasilkan minyak nabati, tetapi mampu menciptakan nilai tambah dari produk samping dan biomassa yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.

Melalui pengembangan produk berbasis lidi sawit, prinsip ekonomi sirkular dalam industri perkebunan mulai terwujud. Limbah yang sebelumnya terbuang kini berubah menjadi komoditas bernilai ekspor, sekaligus menciptakan sumber pendapatan baru bagi masyarakat di sekitar perkebunan.


Dengan terbukanya pasar ekspor tersebut, petani sawit tidak lagi hanya bergantung pada penjualan tandan buah segar (TBS), melainkan memiliki peluang memperoleh tambahan pendapatan dari pemanfaatan bagian lain tanaman sawit yang selama ini kurang bernilai ekonomis.


Berita Sebelumnya
Daftar Harga TBS Kelapa Sawit Sulawesi Selatan Periode Juni 2026

Daftar Harga TBS Kelapa Sawit Sulawesi Selatan Periode Juni 2026

Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan melalui Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan telah menetapkan harga pembelian Tandan Buah Segar (TBS) Kelapa Sawit Produksi Pekebun untuk periode Juni 2026.

20 Juni 2026Harga TBS

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *