KONSULTASI
Logo

Ekspor Sawit Melambat, Bisakah Harga TBS Petani Tetap Bertahan?

18 Juli 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorHendrik Khoirul
Ekspor Sawit Melambat, Bisakah Harga TBS Petani Tetap Bertahan?

sawitsetara.co - JAKARTA – Perlambatan ekspor minyak sawit Indonesia kembali menjadi perhatian pada semester II 2026. Di tengah meningkatnya konsumsi dalam negeri melalui implementasi mandatori biodiesel B50, muncul pertanyaan mengenai dampaknya terhadap harga tandan buah segar (TBS) di tingkat petani.

Sejumlah pelaku industri menilai pelemahan ekspor belum tentu berujung pada penurunan harga TBS, selama keseimbangan pasokan dan permintaan tetap terjaga.

Berdasarkan laporan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), total ekspor produk sawit Indonesia pada Mei 2026 mencapai sekitar 1,996 juta ton, turun sekitar 28 persen dibandingkan April yang sebesar 2,777 juta ton.

Apj

Penurunan tersebut terjadi pada hampir seluruh kelompok produk sawit, mulai dari crude palm oil (CPO), produk olahan, hingga palm kernel oil (PKO). Di saat yang sama, stok minyak sawit nasional meningkat menjadi sekitar 3,04 juta ton, mencerminkan bahwa penurunan ekspor lebih besar dibandingkan penurunan produksi.

Meski ekspor melemah, kondisi pasar domestik justru menunjukkan perkembangan berbeda. Sejak pemerintah mulai menerapkan program biodiesel B50 pada 1 Juli 2026, kebutuhan CPO di dalam negeri diperkirakan meningkat signifikan. Kondisi ini dinilai menjadi faktor penyeimbang ketika permintaan dari pasar ekspor mengalami perlambatan.

Ketua Umum GAPKI Eddy Martono mengatakan meningkatnya konsumsi domestik berpotensi memberikan dampak positif terhadap harga sawit di dalam negeri.

”Ini justru akan meningkatkan harga CPO dalam negeri, ujung-ujungnya harga TBS petani juga akan naik,” kata Eddy Martono, dikutip dari situs resmi GAPKI.

Apj

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa berkurangnya volume ekspor tidak selalu menjadi sentimen negatif bagi petani. Ketika sebagian produksi CPO dialihkan untuk memenuhi kebutuhan biodiesel, pasokan di pasar menjadi lebih terbatas sehingga harga CPO domestik berpeluang menguat.

Karena harga pembelian TBS oleh pabrik kelapa sawit (PKS) mengacu pada harga CPO dan inti sawit, penguatan harga CPO berpotensi diikuti kenaikan harga TBS.

Namun demikian, hubungan antara ekspor dan harga TBS tidak selalu bersifat linier. Dilansir dari Kontan, Eddy Martono mengingatkan bahwa kebijakan yang meningkatkan biaya ekspor justru dapat memberikan tekanan terhadap harga TBS di tingkat petani.

”Memang kalau PE dinaikkan maka harga CPO dalam negeri akan tertekan. Otomatis harga TBS pada petani juga akan tertekan, di sisi lain harga ekspor kita juga akan naik karena beban naik, harga menjadi kurang kompetitif,” ujar Eddy Martono pada Mei 2025 lalu.

Artinya, penurunan ekspor yang disebabkan oleh meningkatnya konsumsi domestik memiliki dampak berbeda dengan penurunan ekspor akibat berkurangnya daya saing di pasar internasional.

Apj

Pada kondisi pertama, harga TBS masih dapat terdorong naik karena permintaan domestik meningkat. Sebaliknya, jika ekspor melemah akibat tingginya biaya perdagangan atau turunnya permintaan global, tekanan terhadap harga TBS menjadi lebih besar.

Sinyal positif juga terlihat dari perkembangan harga di sentra produksi. Berdasarkan penetapan Dinas Perkebunan Provinsi Riau, harga TBS kelapa sawit kemitraan plasma umur 9 tahun pada periode 15–21 Juli 2026 mencapai Rp3.890,97 per kilogram, sedangkan umur 10–20 tahun sebesar Rp3.870,35 per kilogram. Kenaikan tersebut terjadi setelah harga TBS sempat mengalami tekanan pada Mei lalu.

Di pasar internasional, harga CPO juga masih memberikan sentimen positif. Berdasarkan data Bursa Malaysia Derivatives (BMD), kontrak berjangka CPO masih bertahan di kisaran 4.500 ringgit Malaysia per ton pada pertengahan Juli 2026. Level harga tersebut dinilai masih cukup kuat untuk menopang harga CPO domestik.

Ke depan, prospek harga TBS akan sangat dipengaruhi oleh kemampuan industri menjaga keseimbangan antara ekspor dan kebutuhan dalam negeri. Selama implementasi B50 mampu menyerap tambahan produksi CPO, harga minyak sawit global tetap kompetitif, dan permintaan dari negara tujuan ekspor tidak mengalami penurunan tajam, harga TBS petani diperkirakan masih memiliki peluang bertahan pada level yang menguntungkan.

Tags:

CPOharga TBS

Berita Sebelumnya
Harga CPO Bursa Malaysia Menguat, Ditopang Ringgit Melemah dan Optimisme Permintaan

Harga CPO Bursa Malaysia Menguat, Ditopang Ringgit Melemah dan Optimisme Permintaan

Harga kontrak berjangka minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) kembali ditutup menguat pada perdagangan Selasa, 14 Juli 2026.

17 Juli 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *